Hukum Permainan Menyerupai Judi, Haramkah?

924

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Permainan Menyerupai Judi, Haramkah? Ada yang bilang bahwa memegang alat permainan walaupun bukan judi itu adalah najis, karena mirip memegang daging dan darah  babi, apakah benar demikian? Lalu apa hukum alat-alat permainan tersebut dalam pandangan Islam?

Dari masalah di atas mungkin yang dimaksud adalah hadits dari Sulaiman bin Buraidh dari ayahnya, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka seakan ia mencelupkan tangannya ke daging dan darah babi.” (HR. Muslim)

Demikan hadits dari Abdurrahman Al-Khithmi, Ayahku berkata, bahwa ia telah mendengar Rasulullah bersabda, “Perumpaan orang yang bermain dadu lalu ia mendirikan shalat, sebagaimana orang yang berwudhu dengan nanah dan darah babi lalu ia mendirikan shalat.” (HR. Ahmad)

Dalam menjelaskan hadits di atas, Imam An-Nawawi berkata, “Yaitu seperti kondisi memakan darah dan daging babi. Ini merupakan perumpamaan untuk mengharamkan permainan dadu dengan menyamakan kedudukannya seperti makan daging babi.” Imam Asy-Syaukani berkata, “Perumpamaan ini merupakan isyarat keharaman, karena mengoleskan najis itu haram.” Jadi, bukan kesamaan dari sisi kenajisannya tapi keharamannya.

Adapun permainan selain dadu, seperti permainan dengan kartu, Syaikh Abdullah Faqih menjelaskan, “Bila di dalam permainan tersebut ada keharaman, seperti dengan taruhan uang, atau menjadi penghalang dari mengingat Allah dan shalat, atau menimbulkan permusuhan dan dendam diantara kaum muslimin, atau melalaikan dari ketaatan kepada Allah, maka tidak diragukan lagi tentang keharamannya, karena ketika seperti itu kondisinya berarti menyerupai judi. Bila tidak ada keharaman di dalamnya, maka tetap hukumnya makruh karena tidak ada faedah di dalamnya.” Rasulullah bersabda,

“Setiap permainan yang akan menyibukkan seorang laki-laki muslim adalah bathil kecuali melempar panah, bermain kuda, dan bersendau gurau dengan isteri, hal demikian termasuk dari yang dibenarkan.” (HR. At-Tirmidzi)

(Lihat: Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyah: 98/56, Aunu Al-Ma’bud: 10/469)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan