Khutbah Jumat: Iman Dan Taqwa Jalan Menuju Kemenangan

3,971

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang iman dan taqwa jalan menuju kemenangan yang hakiki. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHOTBAH PERTAMA

doa-pembuka-jumat

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah!

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita semua nikmat-Nya. Mulai dari nikmat kesehatan, kesempatan dan nikmat yang paling besar yaitu nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad, yang telah membawa manusia dari jalan kegelapan menuju jalan terang benderang yaitu Islam.

Sebelumnya saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Karena hanya dengan ketaqwaan kita akan dapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah!

Tabiat manusia menginginkan kebahagiaan dalam kehidupannya. Entah kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dan semua yang dilakukan manusia pasti akan diarahkan kepadanya. Bahkan sebuah negeri pun tentunya bertujuan untuk membahagiakan rakyatnya. Lihatlah apa yang dijanjikan para politisi kita hari ini, mereka menggembar-gemborkan “ekonomi kerakyatan, anti neo-liberalisme” dan janji-janji lainnya. Intinya adalah menginginkan sebuah kesejahteraan.

Akan tetapi masyarakat kita tidak mengetahui bahwa syarat untuk menjadi sebuah negeri menjadi negeri yang diberkahi Allah Ta’ala adalah dengan iman dan taqwa. Banyak para sarjana pertanian tidak akan menjamin pertanian makin baik, banyaknya para ekonom tidaklah membawa suatu negeri menjadi maju ekonominya. Bahkan jika rakyat telah melahirkan para pakar-pakar di segala sektor kehidupan tidak menjamin kemakmuran sebuah negeri, jika di negeri tersebut menyebar kemaksiatan, kesyirikan dan kemungkaran. Akan tetapi kemakmuran dan kemajuan suatu negeri dilihat dari ketaqwaan penduduknya kepada Allah Ta’ala.

Sungguh indah sebuah negeri yang penduduknya taat kepada Allah. Negeri yang Allah juluki dengan baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur, negeri yang baik dan Allah mengampuninya. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala kisahkan negeri tersebut pada Surat Saba’: 15-16, yang berbunyi:

surat saba ayat 15-16

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebuh di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabb kalian dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb kalian) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.”

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, “Kemakmuran mereka banyak dijelaskan oleh para salaf, di antaranya Qatadah. Dia menceritakan, ‘Seorang ibu berjalan, di atasnya pepohonan yang berbuah. Di atas kepalanya terdapat keranjang, dan keranjang inilah yang memetik buah kemudian berjatuhan ke dalamnya hingga penuh. Si Ibu tidak perlu repot-repot memetik dengan tangannya, karena buah di atas kepalanya sangat banyak, masak-masak dan sangat bagus.’

Sebagian ulama menceritakan tentang keadaan mereka, ‘Tidaklah mereka mendapatkan di negeri mereka lalat, nyamuk, kutu busuk, dan hama tanaman, yang demikian itu karena hawa yang baik, lingkungan yang nyaman dan pertolongan Allah Ta’ala kepada mereka agar mereka mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah!

Tidaklah kita dapatkan hari ini sebuah negeri yang makmur sebagaimana negeri Saba’. Sebuah negeri yang tidak didapatkan di dalamnya nyamuk, lalat, penyakit-penyakit pada tanaman dan tubuh mereka. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Jika ada seseorang yang datang ke negeri Saba’ sedangkan tubuh mereka banyak penyakitnya, maka Allah akan mematikan penyakit tersebut.”

Kemudian mereka berpaling dari mengesakan Allah Ta’ala, tidak lagi beribadah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka, bahkan beribadah kepada matahari. Allah berfirman, “Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.”

Qatadah dan lainnya berkata, “Bendungan pun rapuh dan rentan. Kemudian datanglah musim hujan. Lalu, air menerjangnya hingga bendungan runtuh. Maka air melimpah ke lembah-lembah dan melibas segala yang dilaluinya, berupa bangunan, tumbuhan dan sebagainya. Karena itu air tidak lagi mengairi pohon-pohon tersebut. Pohon-pohon tersebut berbuah pahit dan pepohonan banyak durinya. Semua ini karena keingkaran, kesyirikan, serta pendustaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah!

Kita potretkan kondisi negeri Saba’ dengan negeri kita hari ini. Betapa banyaknya para dokter dengan keilmuan yang mereka miliki tidak menjadikan berkurangnya penyakit pada tubuh manusia. Para sarjana pertanian dengan berbagai teknologi yang maju tidak menjadikan tanaman-tanaman yang ada bebas dari hama penyakit. Bahkan semakin banyak dan semakin kompleks penyakit yang menyerang tubuh manusia dan juga tanaman. Bahkan jika kita lihat di negeri kita ini. Berbagai musibah menerpa silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, dan musibah-musibah lainnya. Ini semua diakibatkan jauhnya kita dari Allah.

Bencana yang lebih parah dari semua bencana adalah bencana akhlak dan jati diri sebagai seorang muslim. Hilangnya akhlak yang islami serta ikutnya generasi kita dengan budaya orang-orang kafir adalah musibah yang paling parah. Dari sinilah munculnya aborsi, pemerkosaan, perzinaan, pembunuhan, perampokan, dan dosa-dosan besar lainnya.

Mungkin ini sebagai peringatan kepada kita agar kembali ke jalan yang lurus, agar kita mau mengikuti aturan dan perintah Allah. Akan tetapi peringatan seperti ini tidak mungkin bisa dipahami kecuali bagi orang-orang yang berpikir. Allah berfirman,

QS. Ar Rum Ayat 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41)

Berkata Abu Al-Aliyah, “Barangsiapa bermaksiat kepada Allah di muka bumi, maka dia telah berbuat kerusakan di bumi. Karena baiknya bumi dan langit dengan ketaatan.”

Artinya, jika kita ingin memperbaiki bumi ini dan seluruh isinya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak ada jalan lain kecuali harus menjauhi maksiat. Tidak hanya dalam pribadi saja, akan tetapi berusaha untuk amar makruf (memerintah yang baik) serta nahi munkar (melarang yang bathil) entah dengan tangan, lisan maupun hati. Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak sanggup, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika tidak sanggup, hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Demikian khutbah pertama yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya minta maaf.

doa-sebelum-khotbah-kedua

KHUTBAH KEDUA

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah!

Pemaparan di atas belum mendapatkan solusinya. Perlu diingat, bahwa suburnya tanaman, makmurnya sebuah negeri, dan sedikitnya bencana diukur dari ketaatan kepada Allah dan bukan lainnya. Ketika negeri ini ingin menjadi negeri yang diridhai Allah, maka penghuninya harus siap untuk menerapkan syariat Islam. Siap untuk amar makruf dan nahi munkar (memerintahkan kepada yang baik dan melarang yang munkar/buruk)

Berganti-ganti presiden tidak akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat jika negeri tersebut engan menerapkan syariat Islam. Seluruh daya dan upaya dalam rangka untuk menyejahterakan negeri ini tidak akan tercapai walaupun harus mengeluarkan biaya yang besar, alat-alat canggih dan modern, para pakar ahli. Semua itu tidak akan berarti jika kemaksiatan, kesyirikan, dan kemungkaran masih marah di antara kita.

Konsep kemakmuran suatu negeri tidak diukur dengan banyaknya sarjana-sarjana ekonomi. Kemakmuran suatu negeri tidak diukur dengan banyaknya profesor-profesor. Akan tetapi kemakmuran suatu negeri diukur dengan iman dan taqwa.

Jikalau pada zaman dahulu kita dapatkan pencuri, maka pencuri pada hari ini bertambah banyak. Kalau zaman kemerdekaan kita dapati perjudian, maka kita dapatkan perjuan berlipat ganda dibanding dengan zaman kemerdekaan. Kalau hari ini kita dapati perzinaan, kemusyrikan, pembunuhan. Maka hal tersebut sudah berlipat ganda dibanding dengan zaman kemerdekaan. Segala daya dan upaya dikerahkan polisi dan aparat hukumnya untuk menganggulanginya, akan tetapi tidak mengurangi kemaksiatan dan kemungkaran yang menyebar di sekitar kita, bahkan menyebar dari perkotaan sampai ke pedesaan. Dulunya pedesaan yang pada umumnya mereka tidak mengenal kemaksiatan, tetapi kemaksiatan tersebut bahkan melebihi kemaksiatan yang ada di kota-kota  besar.

Jalan keluarnya bukanlah dengan pergantian presiden dan juga legislatif serta eksekutifnya. Tetapi jalan keluarnya adalah dengan kembali kepada Allah Ta’ala. Yaitu dengan menerapkan syariat Islam di berbagai lini kehidupan serta bersama-sama memberantas kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan, sehingga tidak ada angin sedikit pun untuk berkembang.

Demikian khutbah Jum’at yang dapat kami sampaikan, kalau ada benarnya datangnya dari Allah Ta’ala, dan jika ada kesalahan itu datangnya dari saya sendiri dan dari bisikan syaitan. Saya beristighfar kepada Allah dan semoga kesalahan tersebut diampuni-Nya.

Sebagai penutup khutbah Jum’at ini marilah kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan kekuatan untuk menempuh jalan yang lurus hingga akhir hayat menjemput.

doa-penutup-jumat

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan