Ingatlah, Bahwa Setiap Dari Kita Adalah Pemimpin

960

“..Setiap kepala keluarga (suami) adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka..”

(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

BERANIDAKWAH.COM | Setiap Dari Kita Adalah Pemimpin. Manusia yang diciptakan Allah pertama kali adalah dari jenis laki-laki, yaitu Nabi Adam, dan semua Nabi yang diutus oleh Allah adalah laki-laki. Allah menjadikan kepemimpinan ada pada laki-laki, dan tentunya urusan ini (kepemimpinannya) akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini tidak berarti perempuan bebas berbuat sekehendaknya dan merasa aman. Akan tetapi kita semua adalah pemimpin termasuk juga wanita, dan ia akan ditanya atas apa yang dipimpinnya.

Laki-Laki Adalah Pemimpin

Tanggung jawab terbesar setelah imam dan pemimpin masyarakat adalah imam dan pemimpin keluarga. Rasulullah pemimpin umat juga pemimpin bagi keluarganya, bahkan beliaulah sebaik-baik qudwah atau contoh bagi setiap laki-laki dalam memimpin keluarganya.

Aisyah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Kewajiban menafkahi keluarga adalah kewajiban suami bukan istri, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

QS. Al Baqarah Ayat 233

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Nafkah wajib ini harus dari yang halal dan thayyib, bukan yang haram dan syuhbat. Karena bila ia halalan thoyyiban maka menjadi pahala yang bernilai besar, Rasulullah bersabda:

HR. Muslim Nomor 1661

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah] dan [Zuhair bin Harb] dan [Abu Kuraib] -dan lafazh milik Abu Kuraib- mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami [Waki’] dari [Sufyan] dari [Muzahim bin Zufar] dari [Mujahid] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar (harta) yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. Maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)

Tak hanya kebutuhan makanan dan pakaian, atau lahiriyah yang dipenuhi dan diperhatikan, akan tetapi ada yang lebih penting dari itu semua adalah kebutuhan ruh/batin bagi istri dan anak-anak. Makanan ruh adalah kebaikan Islam. Aqidah yang lurus, ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

Pemimpin keluarga mengajarkan kepada keluarganya Al-Qur’an, melatih dengan rutin untuk melaksanakan syi’ar Islam, anaknya dipilihkan sekolah yang mengedepankan akhlaq dan iman, diajarkan kepada mereka keterampilan hidup. Perkenalkan kepada mereka masalah umat dan bila ada solusinya. Istrinya diperintah menutup aurat, menjaga kesuciannya, dan memberi ijin jika hendak keluar memenuhi kebutuhannya.

Rasulullah pun telah memberikan contoh kepada keluarganya untuk memiliki akhlak yang mulia, lembut dan kasih saying terhadap sesama muslim, bahkan memiliki rahmat kepada hewan, mempunyai sifat jujur, amanah dan berani, memuliakan tamu, tetangga dan membantu yang miskin.

Rasulullah menganjurkan kepada orangtua agar memerintah anaknya untuk shalat ketika umur tujuh tahun, dan mulai memukul (dengan ringan tanpa meninggalkan bekas) bila umur sepuluh tahun tidak mau shalat.

Faaqidu syai’ laa yu’tiih, kalau ndak punya sesuatu bagaimana mau memberi. Kalau pemimpin keluarga  tidak bekerja bagaimana mau memberi. Kalau pemimpin keluarga tidak sholeh, tidak mengetahui aqidah yang shahih, tidak tahu amalan yang shalih dan akhlak yang baik, lalu bagaimana mengajarkan semua itu kepada yang dibawahnya. Allahulmusta’an

Wanita Sebagai Pemimpin

Istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggunjawaban terhadap mereka. Itulah mengapa syariat menempatkan laki-laki yang bertanggungjawab atas nafkah wajib dan dia harus keluar rumah untuk memenuhinya.

Sedangkan asal wanita adalah di rumah, karena dia adalah pemimpinnya. Bahkan ibadah shalat yang dilakukan di rumahnya lebih utama dari pada shalat berjamaah di luar (masjid) meskipun tidak dilarang. Banyak sekali pekerjaan mulia di rumah, yang bila dilaksanakan dengan baik akan membuat tentram orang yang di dalamnya, dari urusan kebersihan, kerapian dan menjauhkan hal-hal yang berbahaya di dalamnya.

Karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan maka ia bisa mengambil waktu istirahat di rumahnya juga, hal ini tidak bisa didapat bagi wanita yang bekerja di luar rumah. Bahkan kalau ternyata wanita pulang kerumah hanya untuk istirahat karena capek di luar, bagaimana nanti kalau suami datang, anak butuh kasih sayang dan rumah butuh perawatan. Siapa yang akan melakukannya, apakah pembantu yang akan dihadirkan?

Wanita bisa mendapat banyak pahala dan terjaga kesuciannya bila menetap di rumah. Bila ia sudah bisa istirahat di rumah maka ia bisa melayani suaminya dengan baik, bau harum tercium dari badannya, pakaian yang dipakai dihadapan suaminya pun yang indah , dia bisa memakaikan pakaian yang enak dipandang kepada anak-anaknya, memberikan kasih sayang dan pendidikan yang awal yang harus mereka ketahui, menampakkan adab dan akhlak yang baik kepada mereka.

Menyusui anak, membelanjakan harta yang telah diamanahkan suami, kemudian mewujudkannya berupa makanan yang disantap keluarga setiap hari adalah tanggung jawab istri. Menjaga harta suami dan perabot yang di rumah juga menjadi tanggung jawab istri, begitu pula tidak memberi ijin masuk bagi siapa saja yang tidak dikehendaki suami untuk memasuki rumahnya.

Sungguh berat dan melelahkan bagi suami dan istri yang masing-masing mempunyai tanggung jawab, ada yang sifatnya sendiri-sendiri dan ada yang sifatnya bersama. Bila belum siap mengemban tanggung jawab/ amanah tapi sudah menikah maka entah bagaimana kesudahannya. Terus belajar dan perbaiki diri dan keluarga, semoga Allah selalu membina kita semua. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan