Investasi Berpahala Itu Bernama SUAMI

89,744

BERANIDAKWAH.COM | Investasi Berpahala Itu Bernama SUAMI. Menjadi ibu rumah tangga yang baik, taat kepada suami dalam hal yang baik dan benar, mendidik anak-anak agar menjadi shalih, menjaga harta suami, merampungkan pekerjaan rumah tangga dan sebagainya, jelas itu semua adalah amalan yang berpahala besar. Meskipun perannya sering tak dianggap dan dikesampingkan, tapi peran seorang ibu sangat signifikan.

Tak dianggap? Ya, benar. Bukankah anda sering mendengar pertanyaan ini: “Kerja apa, bu?” Anda jawab, “Di rumah saja”. Di timpali, “Oh, ndak kerja ya. Kirain ada sambilan kerja apa gitu.” Lihat? Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang “seabrek” dan seperti tak ada habisnya itu tak dianggap sebagai “kerja”. Jika anda “hanya” menjadi ibu rumah tangga, anda mungkin tidak disebut “bekerja”. Menyakitkan bukan?

Tapi ya sudah, lupakan saja. Itu semua hanyalah anggapan orang-orang yang tidak mengerti dan mungkin tidak mau mengerti. Yang paling penting, yakinlah bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bukanlah amal shalih yang sepele di sisi Allah. Mustahil pekerjaan berat yang memeras tak hanya keringat tapi juga memeras perasaan dan pikiran itu hanyalah amal yang dipandang sebelah mata. Kecuali dilakukan karena riya’ dan pelakunya bukanlah mukminah, amal sebesar itu jelas bukan amal yang ringan timbangannya.

Nah, meskipun dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, seorang ibu bisa meraup pahala, ternyata ada faktor pengali yang bisa melipatgandakan pahala pekerjaan tersebut. Apa itu? Simak kisah berikut:

Suatu ketika Asma bin Umais menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan dari seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi laki-laki dan wanita. Kami beriman kepada anda dan membai’at anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka.

Akan tetapi kaum lelaki mendapatkan keutamaan melebihi kami dengan shalat jum’at, mengantarkan jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah menoleh kepada para sahabatnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?” Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya, Rasulullah!”

Kemudia Rasulullah bersabda, “Kembalilah wahai Asma dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahwa perlakukan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan dari suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.” Maka kembalilah Asma sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah. (Syu’abul Iman 18/253).

Faktor pengali dan pelipat gandanya adalah suami yang shalih. Dengan memiliki suami yang shalih, maka istri juga akan mendapatkan pahala dari amal-amal shalih yang dilakukan suami diluar rumah, sementara istri menjaga harta dan anak-anak mereka. Semakin banyak dan besar amal shalih yang dilakukan suami, semakin besar pula “bagi hasil” yang istri terima. Kalau boleh dibilang, suami shalih itu seperti sebuah investasi berpahala yang sangat menjanjikan bagi istri.

Lantas bagaimana cara mendapatkan suami yang shalih? Ada dua cara:

Pertama, bagi muslimah yang belum menikah, jadikan karakter “shalih” sebagai karakter penentu diterima-tidaknya calon suami. Memilih pasangan yang shalih agar beruntung di kemudia hari bukan hanya berlaku bagi lelaki yang ingin mencari istri. Justru, kebutuhan wanita terhadap keshalihan pasangan jauh lebih tinggi daripada lelaki.

Kasar-kasarnya, lelaki yang mendapat pasangan yang tidak shalihah, mudah saja dengan menceraikan istrinya. Lha kalau wanita? Meminta cerai bukanlah perkara mudah bagi wanita, terlebih lagi jika sudah punya anak. Tidak sedikit istri yang lebih menahan derita daripada berpisah dari suami yang karena ketidakshalihannya sering menyakitinya.

Mencari yang shalih lagi ganteng, kaya dan dari keluarga terhormat itu sah-sah saja, tidak salah kok, asalkan dia berkenan menjadi pasangan anda tentunya. Hanya saja biasanya godaan wajah dan harta sering melalaikan. Kalaupun tidak sampai menghanguskan syarat “shalih”, paling tidak godaannya mampu menurunkan stadar “shalih”nya. Tadinya kekeuh, pokoknya kalau calon suami tidak rajin shalat berjamaah di masjid, tidak diterima! Titik!. Tapi ketika yang melamar ganteng atau kaya meski tidak rajin shalat berjamaah di masjid, lantas standarnya “shalih”nya diturunka. “Yaa, yang penting shalat wajibnya tidak bolong, nanti bisa diperbaiki bersama.” Jika sudah begini, perlu berhati-hati karena pada realitanya bisa lebih para dari yang dicontohkan.

Kedua, bagi yang sudah menikah, bantulah suami agar menjadi suami yang shalih. Ini juga demi kepentingan anda (istri). Untuk urusan pahala, istri memang harus jadi orang “egois”. Semua kebaikan dan jasa yang kita lakukan untuk orang lain bukanlah tanpa pamrih. Harus ada pamrih yakni demi mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Termasuk saat berusaha membuat suami menjadi lelaki yang shalih.

Bila mampu, lebih baik menjadi istri yang mampu mendorong perekonomian keluarga. Bisa dengan kreatifitas sendiri atau orang lain, yang penting hal ini diketahui dan diperbolehkan oleh suami. Tak perlu tunggu lama lagi, segeralah buat program ibadah untuk meningkatkan keshalihan suami dan keluarga anda.

sumber: Ar Risalah

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan