MEDIA DAKWAH ISLAM | KEREN ITU BERANI DAKWAH

Islam Dan Prinsip-Prinsip Akhlak

328

BERANIDAKWAH.COM | AQIDAH DAN PRINSIP-PRINSIP AKHLAK – Rasulullah telah menjelaskan tujuan utama diutusnya beliau menjadi rasul dan minhaj yang jelas melalui sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Malik)

Seolah-olah risalah yang alirannya telah ditentukan di dalam sejarah kehidupan, si pembawanya telah mengerahkan segenap tenaga untuk memancarkan sinarnya dan mengumpulkan orang disekitarnya. Tidak lebih dari sekedar memberi dukungan terhadap kemuliaan mereka dan menyinari kesempurnaan yang telah berkibar di depan mereka agar mereka berjalan menuji risalah itu dengan jelas dan gamblang.

Dan sabdanya, “Agama adalah akhlak yang baik” (HR. Hakim). Begitu pentingnya akhlak dalam Islam seakan tidak ada ajaran agama kecuali akhlak.

Oleh karena itu akhlak menjadi landasan hidup dan pijakan dalam berbicara, bersikap dan berperilaku, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam)

Rukun Islam yang lima sangat erat kaitannya dengan akhlak, dua kalimat syahadat, shalah, zakat, shaum dan haji tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai akhlak. Setiap rukun daru rukun islam yang lima harus berdampak positif pada perubahan perilaku dan gaya hidup seorang muslim.

Dan ibadah yang disyariatkan Islam adalah sebagai pilar-pilar keimanan bukan sekedar ritual semua yang menghubungkan antara manusia dengan alam gaib yang misterius. Memberinya dengan berbagai amal serba samar dan gerak-gerik tanpa makna. Tidak, sekali lagi tidak, berbagai kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim merupakan latihan yang berulang-ulang agar terbiasa dengan akhlak yang benar dan senantiasa komitmen dengan akhlak tersebut apapun kondisi yang dialaminya.

SYAHADATAIN DAN AKHLAK

Mengucapkan dua kalimat syahadat bukan kegiatan formalitas untuk menjadi muslim, akan tetapi jauh lebih dan lebih dalam dari itu adalah bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang mendalam dalam menerima Islam sebagai sistem hidup.

Oleh karena itu Rasulullah menegaskan barang siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan hati yang jujur maka ia masuk surga.

Artinya: “Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan laa ilaaha illallah kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga.” (HR. Bukhari)

dan,

Artinya: “Barang siapa yang menghadap Allah dengan dua kalimat syahadat tanpa meragukannya sedikitpun maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad)

Dari dua hadits di atas sangat jelas bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat bukan sekedar ucapan lisan akan tetapi disertai dengan keyakinan, kejujuran hati dan komitmen untuk menjalankan tuntutannya dengan benar dan ikhlas.

SHALAT DAN AKHLAK

Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Al-Muthaharah menyingkap hakikat ini. Shalat wajib misalnya, saat Allah memerintahkan melaksanakannya Dia juga menjelaskan hikmahnya.

Allah berfirman,

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menjauhkan diri dari keburukan dan mensucikan diri dari semua perkataan serta amal buruk adalah hakikat shalat. Rasulullah meriwayatkan dari Rabbnya,

Artinya: “Sesungguhnya Aku menerima shalatnya seseorang yang tawadhu karena keagunganKu, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus melakukan maksiat terhadap-Ku, menghabiskan siangnya untuk berzikir kepada-Ku, menyayangi orang miskin, ibnu sabil, dan janda, serta menyantuni orang yang terkena musibah.” (Al-Bazzar)

ZAKAT DAN AKHLAK

zakat wajib bukan pajak yang diambil dari kas. Namun, pertama-tama ia merupakan bentuk penanaman perasaan kasih sayang, penguat hubungan antar orang-orang yang saling mengenal, serta penyatuan lintas strata masyarakat.

Al-Qur’an menyebutkan tujuan dikeluarkan zakat, yaitu

Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Oleh sebab itu Rasulullah memperluas pemahaman dengan sedekah agar seorang muslim berusaha untuk melakukan,

“Senyum untuk saudaramu adalah sedekah, kamu memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar adalah sedekah. Kamu membimbing seseorang di tempat tersesatnya adalah sedekah, serta kamu menunjukkan jalan bagi orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Kamu menyingkirkan duri, tulang dari jalan adalah sedekah. Mengosongkan embermu untuk mengisi ember saudaramu adalah sedekah. Menuntun orang buta adalah sedekah…” (HR. Bukhari)

Sebuah ajaran yang sungguh mulia dari Islam, yang menuntun orang-orang jahiliyah ke jalan yang diridhai Allah Ta’ala.

BACA JUGA: Keutamaan dan Keuntungan Membayar Zakat

PUASA DAN AKHLAK

Islam juga mensyariatkan puasa, sebuah ibadah yang mampu menempatkan seorang hamba dalam kedudukan yang tinggi, menjadikan hamba masuk surga dengan pintu yang istimewa yang hanya diperuntukkan oleh ahli puasa.

Ibadah puasa tidak dipandang sebagai larangan makan dan minum untuk rentang waktu tertentu. Namun ia dianggap sebagai tahapan larangan bagi jiwa manusia untuk memenuhi syahwatnya yang berbahaya serta keinginan yang bejat.

Untuk menegaskan pengertian ini, Rasulullah bersabda,

Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan persaksian palsu dan tidak meninggalkan perbuatan (karena persaksian palsu itu) maka Allah tidak punya kepentingan apapun ketika ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)

Dan,

Artinya: “Bukanlah puasa itu hanya sekedar tidak makan dan minum. Puasa itu adalah meninggalkan ucapan sia-sia dan kata-kata jorok. Jika seseorang mencacimu atau berbuat jahil kepadamu katakan saja, ‘Aku sedang puasa’.” (Ibnu Khuzaimah)

Al-Qur’an juga menyebutkan buah puasa seperti halnya firman Allah Ta’ala,

Artinya: “Diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

HAJI DAN AKHLAK

Mungkin seseorang mengira bahwa bepergian ke tempat suci, yang diwajibkan bagi siapa yang mampu dan dijadikan sebagai salah satu kewajiban Islam kepada pengikutnya, hanya sebagai wisata dan jauh dari pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur yang kadang dimiliki oleh berbagai agama melalui ritual ghaibnya.

Tentu ini tidak benar. Sebab Allah Ta’ala telah berfirman,

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafat, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Inilah paparan ringkas tentang sebagian ibadah populer dalam Islam dan dikenal sebagai rukun-rukun utamanya. Jelaslah kiranya sejauh mana kuatnya hubungan antara agama-agama dengan akhlak.

Ibadah yang berbeda ini dan tampilannya. Namun ia bertemu pada tataran tujuan sebagaimana yang digambarkan Rasulullah melalui sabdanya,

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah ketaatan lainnya yang ada pada ajaran Islam merupakan tangga menuju kesempurnaan ideal dan sarana mensucikan jiwa untuk memelihara dan meninggikan kualitas hidup. Perilaku yang mulia dan berkaitan erat dengan ibadah itu atau muncul akibat itu akan membuat seseorang memiliki tempat tertinggi dalam agama Allah.

Jika seseorang tidak mendapatkan apapun untuk mensucikan hatinya, membersihkan otaknya serta mengeratkan hubungannya dengan Allah dan manusia maka orang itu gagal. Allah Ta’ala berfirman,

Artinya: “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati didalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh. Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (QS. At-Taha: 74-76)

Leave A Reply

Your email address will not be published.