Istiqamah Berarti Rutin Dan Terus Bertambah

70,167

BERANIDAKWAH.COM | Istiqamah Berarti Rutin Dan Terus Bertambah. Setidaknya tujuh belas kali dalam sehari seorang muslim memohon bimbingan kepda Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus. Yakni dalam doa “ihdinash shirathal mustakim,” yang artinya “ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang lurus”. Jika jalan dianggap sebagai garis, maka yang dimaksud garis lurus adalah garis yang paling dekat yang menghubungkan antara dua titik. Begitulah jalan menuju Allah, tak ada yang lebih dekat lagi daripada jalan istiqamah untuk sampai kepada Allah.

Istiqamah berarti lurus, niatnya hanya tertuju kepada Allah. Lurus amalnya, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-sunnah. Rasulullah pernah membuat garis lurus dengan tangan beliau, kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis lain di samping kiri dan kanannya, dan bersabda, “ini adalah jalan-jalan (yang lain), tidak ada satupun darinya melainkan padanya ada setan yang menyeru kepadanya.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Istiqamah Itu Rutin dan Mudawamah

Makna kedua dari istiqamah adalah mudawamah (kontinyu), rutin dan berkesinambungan. Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah jalan dan memahami rambu-rambu. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuan. Dan tak ada cara yang lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan kontinyu dan rutin. Karena jalan menuju Allah bukanlah jalan yang pendek dan mudah, butuh nafas panjang dan stamina kuat untuk senantiasa terjaga.

Apa jadinya jika pelari maraton yang harus menempuh jarak yang jauh, namun ia berlari dengan gaya sprint. Ia berlari sekencang mungkin dan langsung mencurahkan seluruh tenaganya di awal start. Tentu dia hanya akan berada di depan waktu-waktu awal, dan selanjutnya akan berat baginya untuk bisa mencapai finish, apalagi untuk memenangkan perlombaan. Ini hanyalah sekedar perumpamaan, sedangkan jalan menuju Allah jauh lebih sulit, lebih berat dan lebih panjang lagi.

Maka Allah lebih menyukai ibadah yang dilakukan secara rutin, daripada ibadah yang dilakukan sekali tempo meskipun dengan mengerahkan segenap tenaga dan waktu. Rasulullah bersabda

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” Al-Qasim berkata, dan Aisyah, bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya.” (HR. Muslim)

Pernah suatu kali Alqamah bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amal Rasulullah? Apakah beliau memiliki hari-hari khusus (untuk memaksimalkan amal)?” Beliau menjawab, “Tidak. Amal yang beliau lakukan adalah amal yang rutin.” (HR. Bukhari)

Beribadah dengan kontinyu meski dengan kadar yang relatif sedikit jaih lebih banyak faedah dan lebih bagus pengaruhnya dalam kebaikan, dibanding amal yang sekaligus banyak dan berat, namun tidak dilakukan secara kontiyu.

Ibnu Hajar menukil dari imam Nawawi, “Dengan melakukan amal secara rutin meskipun sedikit, maka akan berkesinambunglah ketaatan dalam bentuk dzikir, merasa diawasi oleh Allah, menjaga keikhlasan dan hati senantiasa terhubung dengan Allah. Berbeda halnya dengan amal yang sekaligus banyak dan berat. Hingga sesuatu yang sedikit namun rutin lebih cepat penambahannya daripada banyak namun terputus.”

Dengan amal rutin pula, seseorang tercatat melakukan suatu ibadah yang menjadi kebiasaannya meskipun suatu kali ia tidak melakukannya karena ada penghalang. Rasulullah bersabda,

“Tiada seorang pun memiliki kebiasaan shalat malam, lalu suatu kali ia tertidur (sehingga tidak mengerjakannya), melainkan Allah akan mencatat untuknya pahala shalat malam (seperti biasanya), dan tidurnya itu sebagai sedekah Allah atasnya.” (HR. An Nasa’i, dinyatakan shahih oleh al Albani)

Tak hanya berlaku dalam hal shalat malam saja, tapi juga amal ketaatan yang lain. Sebagaimana hadits Nabi,

“Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka tercatat baginya pahala seperti ketika ia beramal di saat mukim dan sehat.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Pahala tersebut diberikan kepada orang yang terbiasa melakukan ketaatan, lalu suatu kali terhalang melakukannya (karena sakit atau safar). Andai saja tak ada penghalang, niscaya ia akan melakukan apa yang menjadi rutinitasnya itu.” Maka bagi orang yang terbiasa shalat berjamaah di masjid, shalah sunnah rawatib, membaca al-Qur’an, shalat malam atau amal ketaatan lain, ia akan tetap mendapatkan pahala seperti itu ketika terhalang melakukannya karena sakit atau safar.

Istiqamah, Berarti Bertambah

Selain banyak pahala, amalan yang dilakukan secara rutin adalah amalan yang paling besar faedahnya. Seseorang lebih ringan menjalankan ketaatan tatkala sudah biasa. Dan dengan cara yang rutin, akan mendapatkan akumulasi pahala yang lebih banyak pula.

Dan telah menjadi sunnatullah, tatkala seseorang melakukan suatu bentuk ketaatan, maka ia akan dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan ketaatan yang lain. Seperti kaedah yang masyhur di kalangan para ulama, “Inna min jazzaa’il hasanah, alhasanatu ba’daha”, belasan bagi orang yang melakukan kebaikan adalah akan dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Syadaad berkata, “Jika kamu melihat seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka ketahuilah bahwa padanya ada ketaatan-ketaatan yang lain.”

Tatkala seseorang melakukan suatu kebaikan dengan istiqamah, maka akan istiqamah pula penambahan amalnya. Karena, amal itu bisa ‘beranak pinak’ dari satu amal akan membuahkan amal yang lain, baik dengan jenis yang sama atau berbeda. Memang ada bentuk amal shalih yang tidak boleh ditambah secara kuantitasnya, seperti lima kali shalat fardhu dalam sehari berikut jumlah rakaat yang telah ditentukan. Tetapi bisa menambah secara kualitasnya, mulai dari khusyuknya, tukminahnya, panjang bacaannya atau menambahnya dengan shalat-shalat nafilah atau sunnah.

Ujian Berat Istiqamah

Hati memiliki masa-masa rajin dan tekun, ketika itu amal shalih secara rutin bisa dilakukan secara optimal. Akan tetapi ada kalanya hati mengalami masa lelah, jeda atau bahkan cenderung bosan. Pada saat seperti itulah keistiqamahan seseorang diuji. Pada titik tertentu, semua itu masih bersifat manusiawi. Karena tak ada manusia yang terbebas dari kelelahan dan kebosanan, maka ia masih dalam kondisi aman selagi di masa lelahnya itu tetap berada di dalam sunnah Nabi. Ia boleh memperlambat jalannya atau beristirahat, namun jangan sampai menyeberang ke jalan lain yang bertentangan dengan perintah Allah dan sunnah Nabi.

Ujian lain dari jalan istiqamah adalah bergeser dari garis lurus yang ditetapkan. Seperti dijelaskan di awal, bahwa jalan istiqamah adalah jalan yang lurus, tidak bekelok maupun berbelok, tepat di atas jalan yang Allah tetapkan. Akan tetapi, setinggi apapun tingkat takwa manusia, selain Nabi tidaklah maksum. Ada kalanya ia terpeleset atau bergeser dari jalan yang lurus. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, “Setiap Bani Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”

Namun orang yang konsisten di jalan istiqamah akan segera tersadar dari kesalahannya. Ia tidak akan meneruskan perjalanan di jalan yang menyimpang. Ia tahu, sedikit saja penyimpangan di awal, jika di teruskan perjalanan niscaya titik akhir dari perjalanannya akan jauh dari finish jalan kebenaran. Maka begitu ia sadar akan jalannya yang menyimpang, ia pun akan segera bertaubat kepada Allah, berusaha mendekat dan kembali menepaki jalan yang lurus. Nabi bersabda,

“Berbuatlah yang lurus, dan berusahalah senantiasa mendekat…” (HR. Bukhari)

Semoga Allah memudahkan kita menapaki jalan istiqamah, aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan