Khutbah Jumat: Istiqamah Dalam Berakidah Tauhid

1,954

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang pentingnya istiqamah dalam berkakidah tauhid. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang apabila kita ingin menghitungnya niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitung kenikmatan tersebut, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

QS. Ibrahim Ayat 34

Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”

Dan di antara kenikmatan yang paling besar, Allah masih mengkaruniakan kepada kita dua kenikmatan besar yaitu nikmat iman dan nikmat Islam. Dengan kedua nikmat ini merupakan bukti bahwa kita merupakan umat pilihan, sebagaimana firman Allah

QS. Yunus Ayat 100

Artinya: “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”

Shalawat serta salam selalu terlimpah kepada nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wassallam beserta keluarga, sahabat, dan seluruh orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan baik sampai akhir zaman. Tidak lupa pula marilah kita bersama mengindahkan salah satu perintah-Nya agar selalu menjaga taqwa dan tidak sekali pun mati kecuali taqwa masih kita genggam.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Menjadi orang yang istiqamah dalam berakidah merupakan dambaan setiap mukmin sejak generasi dahulu sampai generasi masa kini. Betapa tidak, nilai dan derajat seseorang di sisi Allah terletak pada keistiqamahannya di dalam memegang teguh nilai-nilai ajaran akidah yang benar sampai meninggalkan dunia yang fana ini.

Jaminan yang menantinya pun tidak tanggung-tanggung, berupa tempat kenikmatan yang tiada taranya yaitu surga. Dan di antara sesuatu yang paling ditakutkan dari seorang hamba adalah takut mengakhiri hidupnya dalam keadaan tidak istiqamah di atas tauhid.

Untuk mencapai derajat itu kita mesti siap mengorbankan harta, perasaan, waktu, fikiran, bahkan jiwa sekalipun. Sebagaimana firman Allah:

QS. Ali Imran Ayat 142

Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”

Konsep ini telah diperankan dengan sebaik-baiknya oleh para Nabi dan Rasul serta para sahabat sehingga mereka dijadikan Allah sebagai standard an teladan dalam beristiqamah dengan akidah tauhid.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Nabi memberikan isyarat tentang esensi sesungguhnya dari sifat istiqamah di dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan itu terletak pada penghabisan (umur)nya.”

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa esensi dari istiqamah adalah komitmen terhadap tauhid dengan berbagai tuntutan dan konsekuensinya sampai akhir hayat. Orang yang mati dalam keadaan seperti ini disebut dengan “Khusnul Khatimah”. Itulah sebabnya seseorang yang sekarang ini melakukan amalan-amalan baik (amalan ahli surga) tidak boleh terburu-buru kita klaim telah istiqamah, sebaliknya orang yang sampai sekarang ini masih juga bergelimang dengan amalan-amalan ahli Neraka tidak boleh pula dengan gegabah diklaim orang yang tidak istiqamah. Karena keistiqamahan seseorang hanya dapat ditentukan pada akhir hidupnya.

Satu hal yang perlu dipahami bahwa sifat istiqamah ini terkait dengan keimanan. Dan keimanan berkaitan erat dengan hati, sehingga keadaan dan sifatnya juga bersesuaian dengan hati. Di antara sifat yang menonjol dari hati adalah berbolak-balik/ tidak tetap. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Dinamakan hati itu ‘qalb’ karena (sifatnya) yang berbolak-balik” (HR. Ahmad)

Sifat hati yang tidak tetap inilah menyebabkan keadaan seseorang sulit diprediksi, apakah dia akan tetap beriman (istiqamah) atau dia tidak berhasil mempertahankan keimanannya (tidak istiqamah) sampai akhir hidupnya.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Sesuatu yang harus dipegang teguh (istiqamah) tentu memiliki nilai dan urgensi yang sangat penting. Karena itu akidah tauhid memiliki beberapa keutamaan dan peranan yang sangat penting yang harus dipegang sampai Allah mewafatkan kita, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Merupakan landasan utama diterimanya amal

Amal sebaik dan sebanyak apapun jika pelakunya tidak berakidah tauhid maka amalan tersebut hanya akan menjadi sia-sia belaka. Amalan tersebut tidak akan di nilai oleh Allah. Allah Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

QS. Az Zumar Ayat 65

Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

2. Sebab utama kebahagiaan dunia

Akidah Islam membekali kita unsur-unsur pokok kebahagiaan, yaitu: syukur, qanaah, ridha dan sabar. Dengan sifat ridha, qanaah dan mensyukuri setiap pemberian Allah sekalipun sedikit maka hati kita akan merasakan ketenangan. Dengan bersifat sabar terhadap setiap musibah yang menimpa kita maka hati pun tidak terombang-ambing. Pada sisi inilah sehingga Rasulullah memberikan pujian kepada orang yang berakidah tauhid dengan pujian manusia ajaib.

“Alangkah ajaib (menakjubkan) urusan orang beriman. Sesungguhnya urusannya seluruhnya adalah baik. Tidak ada yang seperti itu keadaannya kecuali bagi orang yang beriman. Jika dia diberikan kelapangan maka bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ditimpakan kepadanya kesulitan, maka dia bersabar, hal itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ad-Darimi)

3. Syarat utama masuk surga

Orang yang mati dalam keadaan musyrik, maka Allah tidak akan mengampuni dosanya dan dimasukkan ke dalam Neraka kekal di dalamnya. Sebaliknya jika seseorang mati dalam keadaan beristiqamah dengan tauhid yang benar maka dia pasti akan masuk surga. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

QS. An Nisa Ayat 48

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mentauhidkan Allah dan mati dalam keadaan berpegang teguh dengannya.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Agar kita dapat menjadi orang yang beristiqamah dalam bertauhid maka ada beberapa jalan yang harus kita lalui, di antaranya adalah:

1. Meluangkan waktu untuk mempelajari ilmu syar’i

Mempelajari ilmu syar’I dengan mendahulukan akidah tauhid yang benar akan memberikan kemantapan dalam keyakinan, sementara mantapnya keyakinan merupakan modal utama untuk istiqamah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

QS. Fathir Ayat 28

Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

2. Bergaul dengan teman-teman yang baik dan teguh akidanya

Kondisi keimanan kita sangat dipengaruhi dengan siapa kita banyak berinteraksi. Rasulullah membuat perumpamaan yang sangat relevan dengan konteks ini dalam sebuh hadits:

Artinya: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti (orang yang bergaul dengan) penjual minyak wangi dan tukang pandai besi, maka penjual minyak wangi jika ia tidak menghadiahkan kepadamu minyak wanginya, kamu membeli dari padanya atau kamu mendapatkan bau harum darinya, dan dengan tukang pandai besi maka badanmu atau bajumu akan terbakar atau kamu akan mendapatkan bau busuk daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Banyak melakukan amal shalih dan menjauhi perbuatan maksiat

Amal shalih memiliki pengaruh langsung dengan bertambahnya iman, demikian pula perbuatan dosa dan maksiat akan menyebabkan lemahnya iman. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mengambil istimbath dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dengan mengatakan bahwa:

“Iman itu akan bertambah dan berkurang, bertambah dengan amal-amal ketaatan dan akan berkurang dengan perbuatan maksiat.”

4. Tidak terpengaruh dengan tipu daya dunia

Salah satu factor yang senantiasa mengamcam keimanan kita adalah pengaruh dunia. Jika dunia menjadi sesuatu yang kita utamakan dan kita jadikan standar penilaian maka kerugianlah yang akan kita dapatkan kelak di akhirat.

Allah berfirman:

QS. Al Baqarah Ayat 96

Artinya: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

5. Takut dengan su’ul khatimah

Takut dengan su’u’ khatimah akan kita rasakan dengan mengetahui dan merenungi akibat-akibatnya, demikian pula dengan banyak membaca kisah-kisah dari orang yang mati dalam keadaan su’ul khatimah. Munculnya rasa takut dengan su’ul khatimah akan menyadarkan dan memotivasi kita untuk semakin menguatkan akidah.

6. Senantiasa berdoa

Berdoa kepada Allah merupakan sebab yang paling kuat untuk istiqamah di jalan-Nya. Karena di tangan-Nya hati kita yang merupakan tempatnya akidah ini berada, Dia berkuasa membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya. Allah mengajarkan kita doa seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

QS. Ali Imran Ayat 8

Artinya: “(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.”

Demikian khutbah jumat yang kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk saya pribadi dan kepada jamaah sekalian serta menambah iman dan taqwa kita kepada Allah Ta’ala.

KHUTBAH KEDUA

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Sekali lagi kami ulangi, bahwasanya keimanan yang kita masih berpegang teguh dengannya sampai hari ini, tidak ada jaminan bagi kita dalam keadaan yang seperti itu. Hati setiap hamba di tangan-Nya. Dia sesatkan siapa saja yang menyelisihi jalan-Nya dan dia tunjuki siapa pun yang meniti jalan yang mendekatkan kepada-Nya. Semoga istiqamah dalam keimanan tetap kita pegang teguh sampai kita menghadap-Nya sebagaimana yang kita pegang pada hari ini.

Marilah kita berdoa kepada Allah, mudah-mudahan kita ditunjukkan jalan yang dapat meningkatkan keimanan dan kita dijauhkan dari perkara yang mengurangi dan menghancurkan keistiqamahan dalam keimanan.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan