I’tikaf: Hal Yang Dilarang, Diperbolehkan dan Sunnah-Sunnahnya

90,567

BERANIDAKWAH.COM | HAL – HAL YANG MEMBATALKAN ITIKAF. I’tikaf adalah berdiam diri pada sesuatu, lalu orang yang selalu berada di masjid dan tinggal di dalamnya disebut dengan mu’takif atau ‘akif. (Al Mishbah Al Munir II/424 dan Lisan Al ‘Arab IX/252)

I’tikaf di sunnahkan di bulan Ramadhan, berdasarkan hadits Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah beri’tikaf setiap Ramadhan selama sepuluh hari, tatkala tahun dimana beliau wafat beliau ber I’tikaf selama 20 hari.” (HR. Bukhari)

I’tikaf terbaik adalah di akhir Ramadhan, berdasarkan apa yang diriwayatkan secara shahih dari Aisyah, bahwasannya Nabi beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan pula secara shahih bahwasanya Nabi beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Syawal, karena mengganti I’tikaf di bulan Ramadhan, sebab ketika itu di bulan Ramadhan beliau tidak beri’tikaf. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila seorang bernadzar untuk beri’tikaf selama satu hari atau lebih, maka ia wajib menunaikannya. Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa ia berkata kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernadzar di zaman jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram?” Rasulullah bersabda: “Penuhilah nadzarmu (beri’tikaf satu malam)…” (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf Tidak Disyariatkan Selain Di Masjid

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu menggauli istri-istrimu sementara kamu beri’tikaf di masjid-masjid.” (QS. Al Baqarah: 187)

Juga karena masjid adalah tempat beri’tikaf Rasulullah dan istri-istri beliau. Seandainya i’tikaf dibenarkan di selain masjid, tentu istri-istri Nabi tidak akan beri’tikaf di masjid yang mana tinggal terus menerus di dalamnya adalah sesuatu yang berat, jika i’tikaf di rumah boleh tentu mereka akan melakukannya walau sekali.

Jumhur ulama berpendapat i’tikaf bisa dilakukan di segala masjid, meskipun mereka berbeda pendapat tentang apakah harus di masjid jami’ atau tidak. Karena keumuman firman Allah Ta’ala: “ … di masjid-masjid.”

Waktu Minimal Beri’tikaf

Jumhur ulama, diantaranya Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada batas minimal waktu beri’tikaf. Sementara Malik berkata: Minimal sehari semalam, diriwayatkan juga darinya: Tiga hari.

Dzahirnya, mereka yang menyakini puasa adalah syarat dalam i’tikaf, akan mengatakan: tidak boleh beri’tikaf hanya dalam satu malam, tidak boleh kurang dari sehari semalam, sebab syarat siang hari itu menjadi penentu bagi ibadah di malam harinya.

Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim mengatakan: “Yang lebih kuat, minimal waktu beri’tikaf adalah semalam, berdasarkan hadits Umar ketika Nabi memerintahkannya memenuhi nadzarnya, maka ia pun beri’tikaf selama satu malam. Adapun pendapat jumhur yang menyatakan bahwa boleh kurang dari semalam, meskipun sejenak baik di waktu malam ataupun siang, maka pendapat ini memerlukan dalil.”

Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaf

1. Keluar tanpa udzur syar’i dan tanpa keperluan yang mendesak. Maka ia tidak boleh keluar dari masjid kecuali untuk sesuatu yang harus dipenuhi, baik secara fisik maupun secara syar’i. Contohnya secara fisik adalah ia keluar untuk mendapatkan makanan, minuman, menyelesaikan hajat, yang mana itu tidak mungkin diperoleh jika tidak keluar masjid.

Contoh secara syar’i: misalnya keluar dalam rangka mandi janabat atau berwudhu, jika itu tidak bisa dilakukan di dalam masjid. Ini adalah sesuatu yang secara syar’i harus dipenuhi. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:

“Sungguh Rasulullah memasukkan kepalanya -sementara beliau di masjid- maka aku menyisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah apabila sedang beri’tikaf kecuali untuk suatu keperluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jimak: Seluruh ulama sepakat bahwa siapa saja yang menggauli istri di kemaluannya padahal ia sedang beri’tikaf, dengan sengaja dan ingat bahwa dirinya sedang beri’tikaf, maka i’tikafnya batal. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan jangan kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al Baqarah: 187)

2. Jimak telah dilarang secara khusus dalam suatu ibadah, maka melakukannya berarti membatalkan ibadah tersebut. Adapun bersentuhan tidak sampai jimak, jika tidak diiringi dengan syahwat maka tidak apa-apa, seperti seorang istri mencuci kepalanya, sandalnya atau memberikan sesuatu kepadanya. Berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata: “Nabi mendekatkan kepalanya kepadaku sementara beliau tinggal di dalam masjid, maka aku menyisir rambutnya sementara aku dalam keadaan haid.” (HR. Bukhari)

Jika diiringi dengan syahwat maka haram hukumnya berdasarkan ayat tadi. Jika ia melakukannya sampai mengeluarkan air mani, maka i’tikafnya rusak. Jika tidak sampai keluar air mani maka tidak rusak. Inilah pendapat yang dinyatakan oleh Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya.

Ibnu Qudamah berkata: “Menurut kami, menyentuh seperti itu tidak merusak puasa dan haji, maka ia juga tidak merusak i’tikaf sebagaimana menyentuh tanpa syahwat.” (Al-Mughni III/199).

Hal-Hal Yang Diperbolehkan Bagi Orang Yang Beri’tikaf

1. Menyibukkan diri dengan sesuatu yang halal, seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya, berjalan bersamanya hingga ke pintu masjid atau berbincang-bincang dengan orang lain.

2. Kunjungan istri kepada orang yang sedang beri’tikaf

3. Berduaan dengan istri

Ketiga hal diatas disarikan dari hadits Shafiyyah, istri Nabi: Bahwasanya ia mendatangi Rasulullah untuk mengunjungi beliau di masjid di sepuluh hari terakhir ramadhan, maka ia berbincang-bincang dengan beliau beberapa saat kemudian beranjak pulang, maka Nabi berdiri bersamanya dan mengantarnya hingga ke pintu masjid, di dekat pintu Ummu Salamah…” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Mandi dan wudhu di masjid

Diriwayatkan dari seorang lelaki yang melayani Nabi, ia berkata: “Nabi berwudhu di dalam masjid dengan wudhu ringan.” (HR. Ahmad)

Dan telah disebutkan tadi bagaimana Aisyah mencuci dan menyisir rambut kepala beliau.

5. Memasang tenda di bagian belakang masjid untuk beri’tikaf

Sebab Aisyah memasangkan tenda untuk Nabi jika beliau beri’tikaf, dan itu ia lakukan atas perintah beliau. (Shahih diriwayatkan Bukhari)

6. Meletakkan kasur atau tempat tidur di masjid

Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Bahwasanya Nabi apabila beri’tikaf dibentangkan untuknya hamparan dan diletakan untuknya tempat tidur dibelakang lingkaran taubat. (HR. Ibnu Majah)

7. Melamar dan melakukan akad nikah

Ini tidak mengapa dilakukan, sebab i’tikaf adalah ibadah yang btidak mengharamkan hal yang baik-baik, maka ia tidak mengharamkan nikah sebagaimana puasa, tetapi syaratnya tidak ada jimak.

Adab-Adab I’tikaf

Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah, seperti shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, bershalawat, beristighfar, berdoa kepada Allah dan mengkaji hadits.

Dimakruhkan baginya menyibukkan diri dengan ucapan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, atau menjadikan tempat i’tikaf sebagai tempat bergaul dan memperbanyak teman, serta membicarakan ucapan-ucapan humor sesamanya. I’tikaf seperti ini sama sekali berbeda dengan i’tikafnya Nabi.

Demikian ulasa tentang hal-hal yang membatalkan itikaf, apa saja yang diperbolehkan dan yang dianjurkan dalam ibadah i’tikaf. Jangan lupa share jika dirasa bermanfaat. Ayo berdakwah!

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan