“Hama” Di Bulan Ramadhan

316

BERANIDAKWAH.COM | Jangan Biarkan Puasa Menjadi Sia-Sia. Ramadhan kembali hadir menghiasi rentetan sejarah hidup kita di dunia. Sebuah periode waktu yang sarat kemuliaan dan keistimewaan. Bulan agung yang di dalamnya terlimpah segala keutamaan dan kebaikan. Jika umur kita seperti untaian kalung dari bebatuan, mungkin Ramadhan akan seperti mutiara besar yang indah dan mencolok di antara bebatuan yang lain. Tentunya, jika bulan istimewa ini kita isi dengan kebaikan dan ketaatan. Namun jika kita isi dengan keburukan, Ramadhan akan menjadi batu hitam yang juga terlihat kontras disbanding yang lain, besar tapi hitam dan berdebu.

Nah, para muslimah tentynya sudah merancang agenda untuk menyambut bulan mulia ini. Meskipun sebagaian besar harus absen 5-7 hari dari melaksanakan shiyam, tapi rutinitas bulanan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebaikan. Masih ada banyak aktivitas berpahala yang bisa dilakukan meski sedang menyambut datangnya bulan Ramadhan. Inilah waktunya bagi kita untuk mengeruk, menambang dan mengangkut pahala sebanyak-banyak. Rancangan agenda ketaatan berikut target-targetnya di bulan Ramadhan ini akan membantu konsistensi kita dalam beramal, InsyaAllah.

Selain amal ketaatan, rancangan agenda bulan Ramadhan juga harus mewaspadai kemaksiatan. Utamanya amal-amal buruk yang terlihat dan terasa ringan, tapi dosanya besar. Maksiat akan menjadi hama jahat yang mampu memusnahkan pahala dan membuat kita gagal panen. Salah satu hama pahala yang paling layak diwaspadai adalah dosa lisan. Ringan, sering dilakukan secara tak sadar tapi menyimpan bahaya besar.

Rasulullah bersabda yang artinya,  “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang tak begitu ia pedulikan, padahal perkataan itu menyebabkannya terperosok ke dalam api neraka., yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yahya bin ‘Uqbah menuturkan bahwa ia mendengar Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

Saat membicarakan dosa lisan, biasanya tema yang popular adalah ghibah, membicarakan keburukan orang lain. Ini wajar karena ghibah hampir semua orang memiliki potensi yang sama besar untuk melakukan dosa ini. Berbeda dengan dosa-dosa lain seperti berbohong, berbicara kotor, memfitnah, adu domba, dan sebagainya. Untuk rentetan dosa besar ini, para muslimah insyaallah tidak pernah melakukannya. Tapi ghibah, bahkan sambil ngaji pun kadangkala lisan masih terpeleset melakukannya. Oleh karenanya, pastikan Ramadhan kali ini, ghibah ada dalam daftar pantangan utama saat berbicara.

Selain ghibah, ada satu keburukan lisan yang juga sangat patut diwaspadai, yaitu debat kusir. Memperdebatkan atau saling sanggah dalam masalah-masalah yang tidak bermanfaat. Atau mungkin tentang persoalan yang bermanfaat tapi sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Misalnya, memperdebatkan soal cara memakai kosmetik yang paling baik, cara memasak sesuatu yang paling pas, tempat belanja paling murah dan nyaman, dan lain sebagainya. Selagi masih taraf obrolan biasa sih tidak masalah. Hanya saja, kadangkala obrolan bisa berubah menjadi perdebatan masing-masing ingin mempertahankann pendapatnya, lawan bicara sedikit menyinggung, atau cara bicara yang sedikit kasar dan ketus.

Para muslimah harus mewaspadai hal ini. Pertama, saling sanggah dalam masalah yang tidak bermanfaat dicela oleh syariat dan para ulama. Rasulullah bersabda,

Artinya: “Aku menjamin dengan rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran walaupun ia dipihak yang benar.” (HR. Abu Dawud)

Imam Malik dalam kitab al I’tsham berkata, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”

Kedua, muslimah harus menyadari bahwa salah satu kelemahan mereka adalah lemah dalam berdebat dan perseturuan. Seperti telah maklum, wanita adalah makhluk yang didominasi oleh perasaan. Padahal dalam berdebat, logikalah yang seharusnya diajukan. Seseorang harus mampu menahan pengaruh emosi agar tidak merusak cara berpikir hingga argumentasinya bisa kuat dan suasana tidak mudah memanas. Dan wanita, secara umum bukanlah makhluk yang dicipta mampu melakukan hal semacam itu. Ia dicipta untuk senantiasa melandaskan perbuatannya pada rasa. Hatinya terlampau halus untuk mampu bertahan dalam aksi bantah-membantah.

Alih-alih meraih manfaat, perdebatan justru sering merusak mood dan menyemai bibit kebencian juga dendam. Tema yang dibahas sepele, tapi karena dibawa ribut dalam perdebatan, akhirnya menumbuhkan permusuhan. Oleh karenanya, menghindari debat kusir dan eyel-eyelan dalam masalah tak penting akan menyelamatkan hati para muslimah. Hati akan lebih tenang dan mood lebih terjaga. Semangat ibadah tidak rusak, dan Ramadhan pun akan menjadi semakin lebih indah.

Salah satu tips untuk menghindari perdebatan tak berguna adalah menghilangkan rasa ingin menonjol, ingin diakui dan tak ingin diremehkan. Perasaan inilah yang akan mendorong seseorang berusaha mempertahankan pendapatnya. Memilih diam, mengalah dan tidak ingin mendapat pengakuan dalam hal-hal yang memang sepele tidak akan merusak martabat Anda. Bahkan, sikap mengalah, berlapang hati menerima perdebatan dan tidak ngotot saat ngobrol akan membuat Anda tampak lebih dewasa dan berwibawa.

Debat kusir, ghibah dan berbagai amal buruk yang masih keluar dari lisan, hendaknya dihindari dan waspadai. Hama satu ini memiliki kekuatan penghancur pahala yang besar, tapi sering diremehkan. Semoga Ramadhan kali ini adalah momen panen raya pahala bagi kita semua. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan