Jangan “Bunuh” Bulan Ramadhan Begitu Saja

313

BERANIDAKWAH.COM | Jangan Bunuh Bulan Ramadhan. Ramadhan tiba, musim kebaikan datang menyapa. Pintu karunia terbuka, memudahkan manusia melipatgandakan pahala. Kebaikan dan ibadah memang tak boleh musiman. Keduanya adalah nafas iman yang harus senantiasa terhembus agar iman tak mati. Namun demikian, Ramadhan memang bulan istimewa hingga wajar jika kebaikan dan ibadah pada bulan ini lebih meningkat dari hari biasa. Justru ketika seseorang tak tergiur dan mengabaikan keistimewaan Ramadhan, dialah yang layak disebut tak wajar.

Sayangnya, ketidakwajaran inilah yang sering kita temui. Banyak yang seakan tak tergiur bahkan mengabaikan limpahan pahala di bulan Ramadhan. Akibatnya, bukannya memperbanyak amal shalih, tidak sedikit yang justru menyiapkan agenda-agenda killing time alias membunuh waktu untuk melewati Ramadhan. Membunuh siang agar segera bertemu Maghrib, dan membunuh malam agar segera bertemu waktu sahur. Bukankah ini juga sama dengan membunuh Ramadhan agar segera bertemu Iedul Fitri? Seakan-akan, waktu buka dan sahur adalah inti Ramadhan yang layak dikejar, sedang waktu antara keduanya layak dibuang percuma.

Pembunuhan ini biasanya dilakukan dengan cara menenggelamkan diri dalam berbagai aktivitas sia-sia. Kegiatan-kegiatan yang tak memberi maslahat duniawi apalagi ukhrawi, selain hanya kesenangan nafsu belaka. Ada yang membunuh Ramadhan dengan mancing ikan seharian, semalaman bahkan beberapa hari. Ada pula yang membuang waktu dengan bermain game HP, Playstation, maupun computer. Ada juga yang menghabiskan waktu dengan menonton acara TV seharian, dan kegiatan-kegiatan lain yang tak memberikan pahala di bulan Ramadhan.

Dari sudut pandang peperangan manusia dengan setan, jelas ini merupakan salahh satu hasil dari strategi setan dalam memerangi manusia. Ada enam strategi utama setan untuk menjerumuskan manusia, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Baddai’ush Shonaai’. Dan strategi inilah yang paling halus. Bukan lain, ini adalah strategi menjauhkan manusia dari kebaikan dengan menenggelamkan mereka pada perkara-perkara yang tak berguna, meski hukumnya mubah (boleh).

Dikatakan yang paling halus karena dalam hal ini, manusia tidak sadar jika sedang dijebak. Walaupun, sebenarnya strategi ini tidak membuahkan dosa seperti yang diharapkan. Tapi paling tidak, manusia tetap jauh dari kebaikan.

Bulan Ramadhan memang menjadi bulan paceklik bagi setan. Pasar maksiat cenderung sepi pengunjung, selain para pelanggan yang memang biasa berkunjung untuk berbelanja. Pertama karena setan terbelenggu, kedua karena melimpahnya karunia Allah, dan ketiga karena kondisi rata-rata hati manusia sedang bagus-bagusnya. Khususnya di daerah mayoritas muslim, nuansa Ramadhan akan sangat terasa. Semangat ibadah meningkat hingga puluhan persen dibanding hari biasa. Dan ini memengaruhi semua orang, semua ini menyulitkan hingga sekadar tak rugi pun sudah merupakan keuntungan.

Bagi kita, fenomena killing time semacam ini harusnya dihindari. Sekadar mencari sedikit hiburan dengan jalan-jalan beberapa saat atau melakukan hal-hal mubah lainnya tentu tidaklah tercela. Itu hanyalah jeda untuk memvariasi aktivitas selain bekerja dan beribadah. Karena hanya sebagai selingan, tentunya tidak sampai memakan waktu hingga berjam-jam.

Musim pahala ini sungguh terlalu saying untuk dilewatkan dan dibunuh alias dibuang sia-sia. Sudah selayaknya kita mencontoh para sahabat dalam memanfaatkan bulan Ramadhan. Caranya dengan banyak membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat-shalat sunnah, menambah khazanah ilmu dari kajian-kajian Islam dan muhasabah diri.

Jika menyia-nyiakan waktu secara umum sangatlah dicela, tentulah menyia-nyiakan waktu yang istimewa akan lebih tercela.

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah menaiki mimbar (untuk berkhutbah), menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan ‘amin’, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Sesuai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan ‘amin’? Lalu beliau menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tetapi tidak sampai terampuni dosa-dosanya lalu dimasukkan neraka dan dijauhkan oleh Allah. Katakan, “Aamiin”. Lalu aku berucap, “Aamiin”. (HR. Imam Ahmad)

Wahai saudaraku seiman, jangan bunuh bulan ramadhan begitu saja. Mari giatkan Ramadhan kali ini dengan ibadah-ibadah pengeruk pahala. Bulan ini seharusnya kita panen besar dengan segala kemurahan yang Allah berikan. Membuangnya percuma dengan aktivitas tak berguna adalah kerugian yang amat besar dan akan kita sesali kelak. Semoga Allah memudahkan langkah kita di bulan Ramadhan ini. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan