Karena Tidak Tahu, Batalkah Puasa Buka Sebelum Waktunya?

39,696

BERANIDAKWAH.COM | Karena Tidak Tahu, Batalkah Puasa Buka Sebelum Waktunya? Apa yang harus di lakukan seseorang yang karena mengandalkan adzan masjid sebagai penanda buka puasa, ia berbuka puasa sebelum waktunya. Kasusnya muadzin salah adzan, setelah bertakbir dua kali, ia menghentikan adzannya karena ada yang menegur bahwa belum masuk waktu magrib.

Salah satu sunnah yang disegerakan bagi orang yang menjalankan puasa adalah menyegerakan berbuka puasa. Hanya, menyegerakan di sini adalah setelah tiba waktunya, yakni setelah terbenamnya matahari.

Jika matahari sudah terbenam yang berarti waktu magrib sudah tiba, seorang yang berpuasa sudah boleh berbuka, baik sudah ada adzan yang mengumandangkan ataupun belum. Rasulullah bersabda, “Manusia tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya adalah setelah terbenamnya matahari. Jadi, tidak perlu menunggu sampai ada orang yang mengumandangkan adzan atau bahkan menunggu sampai terbitnya bintang di langit seperti yang di lakukan oleh orang-orang Rafidhah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Disunnahkan menyegerakan berbuka, yakni segera berbuka jika matahari sudah terbenam. Yang dijadikan tolak ukur adalah terbenamnya matahari, bukan adzan.”

Berkenaan dengan kasus di atas, puasa orang itu batal dan ia tidak berdosa, dan tidak perlu membayar kaffarat. Dasarnya, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Hisyam bahwa Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Pada masa Rasulullah kami pernah berbuka puasa di hari yang mendung, lalu (setelah berbuka) matahari terlihat (ternyata belum masuk waktu Magrib).” Hisyam ditanya, “Apakah mereka diperintahkan untuk mengqadha’?” Hisyam menjawab. “Ya, mereka diharuskan mengqadha’nya.”

Selain hadits di atas, seorang tabi’in, Bisyr bin Qais menyatakan, ia pernah bersama Umar bin Khattab lalu berkata, “Beliau menghidangkan kepada kami roti Sawiq. Kami makan roti itu lantaran kami mengira matahari sudah terbenam. Tiba-tiba muadzin menyampaikan bahwa matahari belum terbenam. Maka Umar berkata, “Berpuasalah sehari untuk mengganti puasa kalian hari ini.”

Kedua dalil ini menegaskan bahwa kita boleh berbuka jika menurut prasangka kuat kita matahari sudah terbenam. Adapun jika ternyata prasangka kita salah, maka kita wajib mengqadha’nya. Sebab kita sudah berbuka di siang hari bulan Ramadhan secara sengaja.

Ini berbeda dengan jika seseorang mengira hari masih malam, jam dindingnya mati di jam 03.00 tanpa sepengetahuannya lebih dulu. Lalu misalnya ia makan untuk sahur, dan terdengar suara orang-orang sudah pulang dari masjid maka puasa tetap sah. Tentu ini dibangun atas kejujuran diri kepada Allah, sebab kita tidak bisa berpura-pura tidak tahu bahwa jam dinding rumah kita mati padahal kita mengetahuinya. Wallahu a’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan