Kekhalifahan dan Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

998,625

BERANIDAKWAH.COM | Kekhalifahan Dan Keutamaan Abu Bakar Ash-ShiddiqSyi’ah mengklaim bahwa sepeninggal Rasulullah hampir semua sahabat murtad kembali kecuali beberapa gelintir saja. Dan terkhusus tentang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Syi’ah tidak hanya menolak kekhalifahan beliau, tetapi mereka juga menyakini kefasikan, kemunafikan dan bahkan mengkafirkan sahabat Nabi tersebut. Para syi’ah laknatullah juga  menyebut bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai salah satu berhala Quraisy dan menjadikan laknat beliau sebagai bentuk ibadah yang utama, menyebut beliau sebagai orang yang tidak mengetahui hukum Allah dan menyakini juga bahwa beliau akan menemani Namrud, Qabil, dan Fir’aun di neraka.

Wafatnya Rasulullah adalah musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin dan amat mengguncang perasaan mereka. Bahkan rasa berat itu dirasakan oleh Umar bin Khattab, al-Faruq. Sebegitu terguncangnya, sampai-sampai Umar berkata, “Demi Allah! Yang ada dalam hatiku hanya perasaan bahwa beliau belum mati. Allah pasti akan membangkitkannya! Siapa saja yang berkata bahwa Muhammad sudah mati, akan kupotong kaki dan tangannya!”

Semua sahabat diam membisu sehingga majulah Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah serta menciumnya sambil berkata, “Duhai! Alangkah harum dan eloknya dirimu saat hidup dan sesudah mati. Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya! Tak bakalan Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya.”

“Barang siapa yang diantara kalian menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah mati. Sedangkan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak mati,” lanjut ash-Shiddiq

Ahlussunnah mencatat ucapan Abu Bakar ini dengan tinta emas lantaran pernyataan inilah kaum muslimin mendapatkan ketentraman hatinya lagi. Banyak sahabat yang mengulang-ulang ayat yang dibacakan oleh Abu Bakar pada waktu itu untuk lebih menenangkan jiwa mereka. Ayat itu adalah, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

Segera jenazah Rasulullah diurus oleh Ahlulbait dan Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang amat beliau cintai. Sementara itu, di Saqifah Bani Sa’idah, para sahabat Anshar telah berkumpul. Mereka merasa berhak untuk menggantikan posisi Rasulullah dalam memimpin umat Islam. Sa’ad bin Ubadah, salah seorang tokoh sahabat Anshar nyaris disepakati sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah untuk memimpin para sahabat dan kaum muslimin lainnya.

Berkumpulnya para sahabat Anshar di Saqifah Bani Sa’idah terdengar oleh para sahabat Muhajirin. Lantaran telah memastikan jenazah Rasulullah sudah diurus Ahlulbait, sementara mereka melihat ada perkara yang lebih penting, yaitu siapa yang akan memimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah?. Maka Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah mengajak Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menemui para sahabat Anshar di Saqifah.

Para sahabat Muhajirin datang dan terjadilah perbincangan di antara dua kelompok besar ini. Dalam pandangan sahabat Anshar, mereka lebih kuat dalam membela Rasulullah dan berjihad, sementara para sahabat Muhajirin merasa lebih dahulu dalam menyambut seruan Rasulullah dan telah teruji kesabarannya dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Saat suasana semakin memanas, Abu Bakar angkat bicara. Setelah mendahului ucapannya dengan pengakuannya tentang keutamaan sahabat Anshar dalam memperjuangkan dakwah Islam dan menjaga Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Kami menjadi amir dan kalian menjadi menteri-menterinya. Janganlah kalian memfatwakan sesuatu tanpa bermusyawarah, dan kami pun tidak akan memutuskan suatu perkara dengan meninggalkan kalian.”

Namun hal itu tidak meredam suasana. Sampai ketika perselisihan semakin meruncing, Abu Bakar kembali berseru dengan suara keras membacakan hadits kepemimpinan di tangan-tangan orang Quraisy. Abu Bakar segera menyusuli pernyataannya dengan permintaan kepada mereka untuk memilih Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Abu Bakar al-Baqillani menyebut tampilnya Abu Bakar lagi ini sebagai kali kedua Abu Bakar berhasil mencegah kekisruhan yang nyaris melanda di kaum muslimin.

Namun yang terjadi lantaran keduanya menyaksikan telah dua kali Abu Bakar berhasil menentramkan kaum muslimin yang bersitegang: Anshar dan Muhajirin, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah meminta Abu Bakar menjabat tangannya untuk dibaiat sebagai pemimpin kaum muslimin. Sebab Abu Bakar adalah sahabat Muhajirin yang paling mulia dan sahabat yang menyertai hijrah Rasulullah dan hanya beliau berdua saat tinggal di gua bersembunyi dari kejaran orang-orang Quraisy. Abu Bakar pula yang diminta oleh Rasulullah untuk menggantikan beliau untuk menjadi imam shalat ketika beliau ada udzur. Qais bin Sa’ad (salah seorang sahabat Anshar) menjadi orang pertama yang menerima sarang keduanya dan diikuti oleh seluruh sahabat Anshar selain Sa’ad bin Ubadah.

Tidak berbaiatnya sahabat Sa’ad bin Ubadah dan belum berbaiatnya beberapa sahabat lain tidak mengurangi nilai kesepakatannya para sahabat Muhajirin dan Anshar. Bahkan belakangan para ulama sepakat, barang siapa yang tidak menyakini keabsahan kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq berarti ia telah menyelisihi ijmak dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Keutamaan Abu Bakar

Mengakui keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan bagian dari keimanan kepada Allah, al-Qur’an dan kepada Rasulullah. Sebab, di dalam al-Qur’an Allah menjelaskan keutamaan para sahabat Muhajirin hal mana Rasulullah menyatakan bahwa dibandingkan seluruh sahabat Muhajirin yang lain, iman Abu Bakar lebih tebal.

Beliau juga pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalil-ku. Namun, cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Abu Bakar diakui oleh seluruh sahabat. Tidak sedikit di antara mereka yang ingin menandingi beliau dalam hal kebaikan. Hanya saja, tak seorang pun dapat mengalahkannya, termasuk Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Umar bertutur, “Pada suatu hari (menjelang perang Tabuk) Rasulullah memerintahkan kami untuk berinfaq, dan waktu itu aku telah memiliki sejumlah harta. Maka aku bergumam, “Kalau ada satu hari dimana aku bisa mengalahkan Abu Bakar, inilah harinya.” Maka aku datang dengan membawa separuh dari hartaku. Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau nafkahkan dengan keluargamu?” Kujawab, “Sejumlah itu.” Kemudian datang Abu Bakar membawa semua harta yang ia miliki, dan Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka kukatakan pada diriku sendiri, “Aku memang tak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya.”

Mengenal Abu Bakar ash-Shiddiq Lebih Dekat

Abu Bakar adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya, wajahnya selalu berkeringat, matanya hitam, berkening lebar, tidak bisa bersajak dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai maupun katam. Inilah penggambaran Aisyah tentang beliau.

Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendiriannya, selalu memiliki ide-ide cemerlang dalam keadaan genting, toleran, lemah lembut, ramah, penyabar, memiliki keinginan yang kuat, faqih, sangat bertawakal kepada Allah, bersifat wara’ dan jauh dari segala syuhbat, zuhud terhadap dunia, dan selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah.

Ash-Shiddiq yang dua tahun lebih muda dari Rasulullah meninggalkan alam fana untuk selama-lamanya pada bulan Jumadal Akhirah tahun 13 H. Semoga Allah meridhai ash-Shiddiq dan semua sahabat Rasulullah. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan