Keutamaan, Faedah dan Syarat Sah Puasa

1,383

BERANIDAKWAH.COM | Keutamaan, Faedah dan Syarat Sah Puasa. Shiyam atau shaum secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Kata tersebut dipakai untuk menyebut segala macam bentuk menahan diri. Allah berfirman, menceritakan tentang Maryam:

“Sesungguhnya aku bernadzar shaum untuk Dzat Yang Maha Pengasih” (QS. Maryam:26)

Yakni: diam dan menahan diri dari bicara.

Sedangkan menurut syara’, shiyam adalah menahan diri dari semua pembatal-pembatalnya sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari dengan niat beribadah kepada Allah.

Keutamaan Dan Faedah Puasa

1. Shiyam termasuk ibadah paling agung dalam mendekatkan diri kepada Allah, seorang mukmin diberi pahala karenanya dengan pahala yang tak terbatas, dengannya dosa-dosa terdahulu diampuni, dengannya wajah seseorang dijauhkan dari api neraka, dengannya seorang berhak masuk jannah dari pintu khusus yang disediakan bagi orang-orang berpuasa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Semua amal anak Adam menjadi miliknya selain puasa, sesungguhnya shiyam itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya. Shiyam adalah perisai, maka jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, jangalah ia berbuat dosa, berbuat gaduh atau berbuat bodoh, jika ada orang yang mencaci atau berkelahi dengannya hendaknya ia katakan: Aku sedang puasa – dua kali – . Demi Dzat Yang Jiwa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang shiyam itu lebih harum di sisi Allah pada hari Kiamat daripada aroma kasturi. Dan orang yang shiyam memiliki dua kebahagiaan: katika ia berbuka ia bahagia dengan bukanya, dan ketika ia berjumpa Rabbnya ia bahagia dengan shiyamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa shiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (QS. Bukhari dan Muslim)

2. Shiyam adalah ‘madrasah akhlak’ besar yang di sana seorang mukmin melatih banyak sifat, ia adalah jihad melawan hawa nafsu dan godaan-godaan setan yang kadang mendatanginya, dengan puasa seseorang membiasakan diri untuk bersabar menahan sesuatu yang dilarang dia dekati dan berbagai kegoncangan serta kengerian yang terkadang datang, ia menjadi tahu arti hidup teratur dan tertib, menumbuhkan dalam dirinya rasa kasih sayang, persaudaraan, solidaritas dan tolong-menolong yang mengikat sesama muslim.

Macam-macam Puasa

1. Shiyam wajib

2. Shiyam sunnah

Shiyam (puasa) Wajib dan Macam-macamnya

1. Yang wajib karena waktu tertentu, yaitu Puasa Ramadhan

2. Yang wajib karena suatu sebab, yaitu puasa kaffarah

3. Yang wajib karena seseorang mewajibkannya kepada dirinya sendiri, yaitu puasa nadzar

Puasa Ramadhan

Puasa ramadhan wajib hukumnya atas setiap muslim yang baligh, berakal, sehat dan muqim (tidak bepergian). Ia adalah salah satu rukun Islam yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al Qur’an, As Sunnah dan Ijmak umat.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” (QS. Al Baqarah: 183)

Hadits Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada illah yang haq selain Allah dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan shiyam Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Bulan Ramadhan

1. Dari Abu Bakrah dari Nabi beliau bersabda:

“Dua bulan yang tidak berkurang, yaitu dua bulan hari raya: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menerangkan bahwa bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah adalah sama, semua keutamaan, pahala dan ganjaran yang ditetapkan padanya dinilai sempurna meskipun jumlah bulannya hanya 29 hari.

2. Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu Jahannam dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa shiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (QS. Bukhari dan Muslim)

Abu Hatim bin Hibban berkata, “dengan iman” maksudnya mengimani kewajibannya, mengharap pahala maksudnya ikhlas dalam menjalankannya.

4.. Masih dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Shalat lima waktu, jum’at menuju jum’at, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, menghapuskan dosa-dosa yang ada di antaranya selama dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

5. Di dalamnya ada sepuluh hari terakhir dan malam Lailatul Qadar, tentang keutamaan dan amal apa saja yang harus dikerjakan akan dibahas nanti/ dibawah.

Syarat Sah Puasa

Syarat sah puasa ada dua:

1. Suci dari haid dan nifas: ini adalah syarat wajib melaksanakan dan sekaligus syarat sah.

2. Niat: sebab puasa Ramadhan adalah ibadah, maka tidak sah maka jika tanpa niat sebagaimana ibadah yang lain. Allah Ta’la berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali suapaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayinnah: 5)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lagipula menahan diri (puasa) kadang bisa karena kebiasaan, tidak ada selera, sakit, kepentingan olahraga, diet dan lain sebagainya. Sehingga, tidak bisa diketahui jenisnya secara pasti kecuali dengan niat. An-Nawawi berkata, “Tidak sah puasa tanpa niat, dan niat itu tempatnya di hati.” (Raudhah At-Thalibin II/350).

Agar Niat Menjadi Sah, Ada Empat Syaratnya

1. Tekad kuat: ini disyariatkan dalam rangka memutus adanya keragu-raguan, bahkan jika seseorang berniat di malam yang meragukan untuk puasa keesokan harinya padahal keesokan harinya itu ternyata sudah Ramadhan, maka niat itu tidak sah.

2. Menentukan: niat harus ditentukan dalam puasa ramadhan dan puasa wajib lainnya. Tidak cukup hanya dengan menentukan puasa begitu saja, atau menentukann puasa tapi bukan ramadhan menurut jumhur ulama, berbeda dengan Abu Hanifah.

3. At-Tabyit: yaitu menentukan niat di malam hari antara tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Ini adalah syarat menurut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali, berdasarkan hadits Ibnu Umar dan Hafsah bahwasannya Nabi bersabda:

“Siapa yang tidak mentekadkan shiyam sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

4. Memperbarui niat setiap malam pada bulan ramadhan: tabyit niat dilakukan setiap malam di bulan ramadhan menurut jumhur ulama karena keumuman hadits Hafsah tadi. Juga karena setiap satu hari adalah ibadah sendiri yang tidak terkait dengan yang lain, yang satu tidak akan rusak dengan rusaknya hari yang lain dan di antara hari-hari tersebut diselingi oleh pembatal yaitu waktu-waktu malam, dimana pada waktu malam dihalalkan apa yang diharamkan di siang hari, sehingga itu mirip dengan qadha’.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan