Khaudh dan Mira’ Merusak Aqidah Dan Persatuan Umat Muslim

815

BERANIDAKWAH.COM | Khaud Dan Mira’ Merusak Aqidah Dan Persatuan Umat Muslim.

“Kita tidak ber-khaudh tentang Allah dan tidak bermira’ tentang agama Allah”

Dengan matan ini Abu Ja’far ath-Thahawiy menyampaikan perbedaan manhaj Ahlussunah dengan Mutakallimin. Mutakallimin biasa berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan tanpa keterangan yang benar. Mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu. Sedangkan Ahlussunnah menyandarkan semua pernyataan tentang aqidah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Imam Abu Hanifah berkata, “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara sesuatu tentang Dzat Allah. Seyogianya ia hanya menyifat-Nya dengan sifat yang disifatkan-Nya sendiri.”

Dengan matan ini pula Abu Ja’far mengingatkan Ahlusunnah supaya tidak terpengaruh dengan syuhbat yang dilontarkan mutakillimin, pada masanya adalah masalah kekalaman al-Qur’an. Mengenai sumber ilmu Ahlussunnah, Yazid bin Harun berkata, “Kami mengambil ilmu dari para tabi’in, dari para sahabat, dari Rasulullah. Dari mana mereka mengambilnya?”

Antara Khaudh, Mira’ dan Jidal

Secara harfiyah, kata khaudh berarti masuk dan mencebur. Jika dihubungkan dengan ucapan maka maknanya adalah berbicara panjang lebar, pembicaraan yang mengandung kedustaan dan kebatilan. Allah berfirman,

“… dan kamu memperbincangkan (hal yang batil) sebagaimana mereka memperbincangkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah: 69)

“(Kami masuk neraka karena) kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Muddatsir: 45)

Sedangkan mira’ berarti berbantahan dan bertengkar. Secara istilah, mira’ adalah mendebat ahlulhaq dengan pernyataan ahli bid’ah lantaran lebih berpihak kepada kecenderungan mereka. Mira’ dapat mengakibatkan tersiarnya kebatilan, tercampuraduknya kebenaran dengan kebatilan, dan dapat merusak Islam. Oleh karena itu Rasulullah bersabda,

“Aku jaminkan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan mira’ walaupun ia benar.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kemudian adalah jidal yang berdekatan makna dengan khaudh dan mira’. Secara bahasa jidal berarti berdebat. Biasanya perdebatan diikuti dengan perbantahan dan pertengkaran. Perdebatan pun sering berupa pembicaraan yang pangjang lebar. Jika khaudh dan mira’ secara umum dilarang, tidak demikian halnya dengan jidal. Jidal pada tempatnya dan dengan cara yang baik justru dianjurkan.

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Rasulullah Melarang Berbantahan

Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu kaum yang tersesat setalah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berbantahan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Suatu hari beberapa orang sahabat duduk-duduk di dekat pintu rumah Rasulullah. Salah seorang berkata, “Bukankah Allah telah berfirman begini dan begini?” Hal itu didengar oleh Rasulullah dan Beliau keluar dengan wajah bagai ditebari biji delima (memerah karena marah). Beliau bersabda, “Apakah kalian diperintahkan untuk itu? Apakah kalian diperintahkan untuk menabrakkan satu ayat dengan ayat yang lain? Sesungguhnya umat sebelum kalian telah binasa karena hal itu. Perhatikanlah apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah! Perhatikanlah apa yang aku larang maka tinggalkanlah!” (HR. Ahmad)

Ummul Mukminin ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah membaca firman Allah, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Diantara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Kitab; dan yang lain (ayat-ayat) mustasyabihat…tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) selain orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)

Setelah itu Rasulullah bersabda, “Jika kamu melihat orang-orang yang (hanya) membahas ayat-ayat mustasyabihat, ketahuilah mereka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membahas ayat-ayat mustasyabihat pasti diwarnai dengan pembantahan dan silang pendapat. Oleh karenanya al-Lalika’iy memasukkan hadits ini ke dalam bab larangan berbantahan. Masih dari ‘Aisyah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras penentangannya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para Sahabat Mulia Tak Suka Berbantahan

Ibnu Abbas berkata, “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga persatuan dan melarang mereka dari berpecah-belah. Allah pun mengabarkan bahwa mira’ dan percekcokanlah yang menjadi penyebab kehancuran orang-orang sebelum mereka.”

Ziyad bin Hudair berkata, “Umar pernah bertanya kepadaku, ‘Tahukah engkau perkara yang merobohkan Islam?’ ‘Tidak!’ jawabku. Umar berkata, ‘Perkara yang merobohkan Islam adalah ketergelinciran seorang alim, perbantahan orang munafik tentang al-Qur’an dan ketetapan hukum imam yang sesat’.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Jauhilah percekcokan. Sesungguhnya percekcokan itu merusak agama.” Yang demikian itu karena terkadang seorang punya pendapat yang keliru, lalu dia rujuk darinya. Ketika dia mendapati ada orang yang mendebatnya, bisa jadi bertahan dalam kekeliruannya karena gengsi.

Ali juga berkata, “Akan datang suatu masa, orang-orang mendebat kalian dengan al-Qur’an –ayat-ayat mustasyabihat- maka debatlah mereka dengan sunnah, sesungguhnya orang-orang yang berpegang kepada sunnah itu lebih mengerti akan Kitab Allah.” Ini adalah dalil bahwa Ahlussunnah berjidal hanya di waktu dan tempat yang tepat. Seperti Abdullah bin Abbas yang mendebat ribuan orang Khawarij sehingga mereka kembali ke pangkuan sunnah.

Ulama dan Tabi’in Menghindari Berbantahan

Muhammad bin al-Hanafiyah berkata, “Dunia ini tidak akan berakhir sampai orang-orang berbantahan tentang Rabb mereka.”

Suatu hari Hasan al-Bashri didatangi oleh seseorang yang berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku ingin berdebat denganmu.” Hasan menjawab, “Temuilah orang lain! Aku sudah mengerti tentang agamaku. Hanya orang yang masih ragu tentang agamanya saja yang akan mendebatmu.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai bahan perdebatan, niscaya dia akan diliputi banyak keraguan.”

Mestinya kita menghindari perdebatan. Hendaknya kita menerima perbedaan pendapat pada perkara-perkara yang dahulu pun para salaf menerima perbedaan pendapat padanya. Tidak mungkin mengumpulkan manusia dalam satu paham, jika perkaranya bersifat ijtihadi.

Ahnaf bin Qais berkata, “Banyak cekcok itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.” Sedangkan Mu’awiyah bin Qurrah berkata, “Wasapadalah terhadap perdebatan. Perdebatan itu dapat menghapuskan amal.” Orang yang hari-harinya diisi dengan debat dan cekcok tidak akan merasakan manis dan lezatnya iman. Yang akan didapatinya adalah kegersangan hati sehingga tumbuhlah kemunafikan di dalam hatinya.

Para Imam Mengingatkan Bahaya Berbantahan

Imam Malik berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai bahan perdebatan, dia akan menjadi orang yang berpendirian.”

Imam Syafi’i bertutur, “Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu.” Beliau juga berkata, “Berdebat dalam hal ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.”

Al-Abbas bin Ghalib al-Warraq berkata, “Aku mengadu kepada Ahmad bin Hambal, ‘Wahai Abu Abdillah, aku duduk dalam suatu majelis, tidak ada yang mengetahui sunnah selainku. Kemudian seorang ahli kalam berbicara. Bolehkah aku mendebatnya?’ Beliau menjawab, ‘Jangan engkau duduk untuk yang seperti itu. Beritahukan sunnah kepadanya dan jangan berdebat!’ Kemudian aku mengulangi perkataanku lagi, sampai beliau berkata, ‘Kurasa kamu adalah orang yang suka berbantahan.’.”

Ibnu Hibban berkata, “Jika seseorang berdebat tentang al-Qur’an, maka apabila Allah tidak melindunginya ia akan terseret kepada keraguan dalam mengimani ayat-ayat mustasyabihat. Jika sudah disusupi dengan keraguan, maka ia akan menolaknya. Rasulullah menyebutnya sebagai kekufuran yang merupakan salah satu bentuk penolakan yang berpangkal dari perdebatan.”

Kesimpulan

Rasulullah melarang khaudh dan mira’, namun memperbolehkan jidal dengan pertimbangan waktu yang tepat dan cara yang baik. Jauhilah pedebatan meskipun benar, merujuklah kepada sunnah ketika memperdebatkan ayat-ayat mustasyabihat. Karena perdebatan akan menjadikan pribadi yang egois, merasa paling benar dan tentunya perdebatan akan menghalangi persatuan umat muslim. Wallahua’lam. Semoga artikel ini memberikan manfaat kepada kita semua. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan