Khutbah Jumat: Anak Shalih Aset Berharga Bagi Orang Tua

1,429

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang pentingnya mempunyai anak shalih, karena anak shalih aset berharga bagi orang tua. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Segala puji milik Allah yang telah menciptakan kita dengan sebaik-baik ciptaan. Dan memberi kepada kita bekal untuk membedakan antara yang haq dan batil. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang melalui perantara cahaya Islam.

Dari mimbar ini kami tidak lupa juga menyeru kepada jamaah sekalaian untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa dengan setidaknya memperhatikan tiga perkara: mentaati perintah Allah dan tidak bermaksiat, selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan, dan bersyukur atas karunia-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Anak adalah buah hati bagi orang tuanya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami-istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta ke arah mana anak tersebut akan dibawah. Menurut sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah bersabda

Artinya: “Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian di hari Kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter si anak. Obsesi tanpa usaha adalah lamunan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. Ada sebuah syair Arab mengatakan:

Kalian mengharap sebuah keberhasilan

Tetapi kalian tidak mau menempuhnya

Sesungguhnya kapal itu tidak akan berjalan di daratan

Yang lebih parah lagi adalah sebagian orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya menjadi bintang film (artis), bintang iklan, fotomodel, dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua, kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal di balik semua itu mereka sendikit informasi tentang kehidupan sebenarnya kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hancurnya sebuah rumah tangga mereka, hidup dalam ketidaktenangan dan berbagai masalah sosial yang mereka hadapi. Ini terjadi akibat orang tua yang sering mengonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan di berbagai media cetak maupun elektronik, karena itu opininya akan terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih seperti kehidupan binatang yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahi. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba, dan gaya hidup jahiliyah lain yang menjadi konsumsi mereka sehari-hari.

Sangat jarang kita saksikan di antara mereka yang peduli dengan tujuan hakiki penciptaan Allah Ta’ala. Kalaupun ada, itu hanya menjadikan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya? Kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat. Allah berfirman:

QS. At Tahrim Ayat 6

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Banyak orang tua mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi. Mencarikan kursus-kursus mata pelajaran agar nilainya memuaskan, sementara memasukkan anak-anak mereka ke dalam TK-TK Al-Qur’an terasa begitu berat. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak-anak.

Banyak orang tua memerhatikan masalah makan anaknya, dicarikannya makanan empat sehat lima sempurna, pakaian dipilihkan yang mahal dan bergengsi. Sementara makanan batin tidak pernah diperhatikan, mereka larang anak-anak mereka untuk mempelajari Islam dengan alasan takut jika mengganggu belajarnya dan menjadikan nilai sekolahnya jeblok. Perlu dipahami bahwa anak dan orang tuanya tidak akan pernah bahagia dunia akhirat jika tidak memiliki bekal-bekal agama yang baik.

Sebagian orang tua yang bijaksana mampu memerhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya melahirkan anak yang shalih. Di antara langkah-langkah tersebut adalah

1. Opini atau persepsi orang tua tentang anak yang shalih harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita semua mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak yang sejak kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan Din-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada Allah dan durhakan kepada kedua orang tuanya.

Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah, menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan kedua orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah terciptanya anak yang shalih. Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksanakan aktivitasnya. Ia bisa membentuk karakter seseorang untuk menjadi baik ataupun sebaliknya. Salah satu faktor dari lingkungan adalah teman dekat. Rasulullah bersabda dalam hadistnya:

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang itu atas agama saudaranya. Maka lihatlah salah seorang di antara kalian, siapa yang ditemani.” (HR. Ahmad)

Bahkan Imam Hasan Al-Bashri berkata:

Artinya: “Saudara-saudara kami lebih berharga untuk kami dibandingkan keluarga kami. Karena keluarga kami senantiasa mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara kamu senantiasa mengingatkan tentang akhirat.”

Betapa pentingnya lingkungan dan teman dekat sehingga Imam Hasan lebih menganggap berharga dibandingkan dengan keluarga sendiri.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Sedangkan secara mikro lingkungan dapat dibagi menjadi dalam dua bagian, yaitu:

1. Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan sebuah institusi kecil di mana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya.

Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keislaman, seorang bapak dan ibu yang memahami bagaimana membentuk rumah tangga yang Islami, mendidik anak-anaknya, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna Islam. Namun, sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keislaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral.

Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa fitrah di sini adalah mengenal Islam. Artinya, seorang anak secara naluri mengenal Islam. Akan tetapi orang tuanyalah yang akan memelihara fitrah tersebut, dengan men-tarbiyah-nya menjadi muslim yang baik, atau menghancurkannya dengan memberikan pendidikan yang jauh dari Islam.

2. Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah sebuah lingkungan yang sangat berpengaruh pada pendidikan anak. Jika orang tua tepat dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya. Sekolah di dalamnya tercipta lingkungan Islami, para guru yang paham tentang pakaian muslim dan muslimah, paham tentang akhlak-akhlak Islami dan mengajarkan pemahaman yang benar pada murid-muridnya, maka orang tua telah tepat dalam membina anak.

Tapi sebaliknya, jika orang tua memilihkan untuk anak-anaknya sekolah-sekolah sekuler, guru-guru yang memiliki keyakinan bermacam-macam, mulai dari ahli syirik, ahli maksiat dan bahkan guru-guru kafir, tidak paham bagaimana berbusana muslim dan muslimah, guru yang berakhlak bejat, maka sebenarnya orang tua menjerumuskan anaknya kedalam lumpur kehinaan dan kehancuran.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Oleh sebab itu, orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli ketika memilih sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak boleh memasukkan anak mereka ke sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan agama dan akhlak bagi sang anak. Ingatlah bahwa sekolah itu akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya, entah itu  warna yang  baik maupun warna yang jelek. Ibnu Sirin berkata:

Artinya: “Sesungguhnya ilmu ini adalah din. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil din kalian.” (Muqadimah Shahih Muslim, I/15)

Untuk itu, di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Ta’ala akan senantiasa menurunkan pertolongan-Nya kepada kita dan akhirnya memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya.

KHUTBAH KEDUA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Demikian penjelasan singkat tentang permasalahan dan tanggung jawab kita sebagai orang tua terhadap anak-anaknya. Semoga dengan cara mendidik anak-anak kita yang sesuai dengan ajaran Islam dapat menjadikan mereka hiasan hati dan penyejuk mata di dunia. Juga menjadi tambahan bekal yang meringankan tanggung jawab kita di hadapan Allah kelak.

Marilah kita akhiri khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah, semoga usaha dan perhatian kita tidak menjadi amal yang sia-sia dan ita mendapat balasan sebagaimana yang Allah janjikan.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan