Khutbah Jumat: Ciri Orang Yang Meremehkan Shalat

3,904

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat yang akan kita sampaikan kali ini adalah tentang ciri-ciri orang yang meremehkan shalat. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karunia-Nya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat jumat.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam, yang melalui perjuangan beliau, cahaya Islam sampai pada kita, dan semoga kita terbebas dari kejahiliyahan dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarga beliau, sahabat dan seluruh penerus risalah beliau hingga hari Kiamat nanti.

Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri pribadi dan kepada jamaah semuanya, agar senantiasa selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadap Allah kelak.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Alla Ta’ala telah mewajibkan hambanya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Bahkan shalat dijadikan sebagai standar kebaikan amal seseorang. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisan seorang hamba adalah shalatnya. Maka jika baik, ia telah beruntung dan berhasil, dan jika rusak (shalatnya) maka ia telah celaka dan rugi.” (HR. An Nasa’i)

Shalat pun memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dan merupakan salah satu rukun dan pondasi-pondasi Islam. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Islam dibangun atas 5 hal: syahadat bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Tanah Haram (Mekah) dan shaum di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan tingginya posisi shalat dalam Islam dan sebagai salah satu rukunnya yang terpenting setelah syahadatain. Shalat juga merupakan amal yang paling afdhal setelah syahadatain, hal ini dikarenakan shalat adalah satu-satunya ibadah yang paling lengkap dan paling inidah yang mengumpulkan berbagai macam bentuk ibadah. Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah kepada seorang muslim.

Shalat lima waktu hukumnya fardhu ‘ain berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’. Allah memfardhukan shalat di malam Mi’raj dari langit ketujuh. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan dan kewajiban shalat.

Hadits-hadits yang menjaskan tentang shalat lima waktu beserta bilangan rakaatnya dan semua sifat gerakannya, telah mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Dan segala sesuatu yang dinukil secara mutawatir itu harus diterima oleh setiap muslim dan siapa pun yang menentang atau menolaknya, maka ia kafir.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Banyak kita saksikan hari ini umat Islam yang mengerjakan shalat dengan malas-malasan. Karena kesibukan mereka dalam bekerja atau karena aktivitas lain sehingga badan dalam kondisi penat hingga akhirnya shalat mereka akhirkan. Tak hanya itu, shalat yang mereka akhirkan dari waktunya pun dikerjakan dengan tergesa-gesa bagaikan ayam yang mematuk. Bagaimana mereka akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan jiwa jika shalatnya dikerjakan dengan asal-asalan.

Orang-orang munafik yang telah Allah siapkan tempat mereka di dalam Neraka masih mengerjakan shalat. Akan tetapi shalat yang mereka kerjakan dalam keadaan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman:

QS. An Nisa Ayat 142

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

QS. At Taubah Ayat 54

Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Ada beberapa ciri seseorang dalam meremehkan shalat. Bisa jadi seseorang termasuk salah satu dari ciri tersebut atau yang lebih parah jika seseorang melakukan semua ciri-ciri dalam meremehkan shalat. Di antara ciri orang yang meremehkan shalat adalah:

Pertama, mengakhirkan shalat pada waktunya

Shalat subuh dikerjakan hampir masuk dhuha, shalat dzuhur dikerjakan hampir masuk waktu asar dan seterusnya. Inilah yang disebut meremehkan shalat. Allah berfirman:

QS. Maryam Ayat 59

Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

Berkata Ibnu Abbas, “Tidaklah yang dimaksud meremehkan adalah meninggalkan secara keseluruhan, Akan tetapi diakhirkan dari waktunya.”

Berkata Sa’id bin Musayyab, imam para tabiin, “Tidaklah mengerjakan shalat dzuhur sampai datang shalat Ashar, dan tidaklah dia shalat Ashar sampai datang shalat Maghrib, dan tidaklah shalat Maghrib kecuali datang Isya, dan tidaklah dia shalat Isya sampai datang fajar, dan tidaklah dia shalat fajar hingga terbit matahari. Barangsiapa mati dan ia terus berbuat demikian serta tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya ‘ghaiy yaitu lembah di Neraka Jahanam yang sangat dalam dasarnya dan sangat busuk baunya.” (Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi bab meninggalkan shalat)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un: 4-5)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dianggap lalai disini salah satunya adalah orang yang tidak melaksanakan shalat pada waktunya. Marilah kita melihat kebanyakan umat Islam hari ini. Hampir kebanyakan mereka mengakhirkan shalat. Karena minimnya ilmu dan lemahnya iman ditambah banyaknya maksiat yang dilakukan seseorang sehingga berat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dinnya.

Kedua, melaksanakannya dengan tidak menjaga kekhusyukan dan tukmaninah

Mengerjakan shalat dengan cepat tanpa memerhatikan rukuk dan sujudnya. Rasulullah juga pernah memerintahkan seseorang laki-laki yang tidak tuma’ninah dalam shalat untuk mengulangi shalatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan shalat kemudian menemui Rasulullah dan mengucapkan salam. Rasulullah membalas salamnya dan beliau bersabda, “Kembalilah dan shalatlah karena kamu belum shalat.” Orang itu mengerjakan shalat dengan cara sebelumnya, kemudian menemui dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Beliau pun kembali bersabda, “Kembalilah dan shalatlah karena kamu belum shalat.” Hal ini terjadi tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain dengan cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara shalat.” Rasulullah bersabda, “Ketika kau berdiri untuk shalat, ucapkan takbir lalu bacalah (surah) dari Al-Qur’an kemudian rukuklah hingga kau merasa tenang (tumakninah). Kemudian angkatlah kepalamu dan berdiri lurus, lalu sujudlah hingga kau merasa tenang (tumakninah) selama sujudmu, kemudian duduklah dengan tenang, dan kerjakan hal yang sama dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda:

Artinya: “Allah tidak akan melihat shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad)

Ketiga, tidak melaksanakan shalat wajib dengan berjamaah di masjid

Bagi setiap laki-laki, shalat di masjid bersama jamaah adalah sunnah mu’akkadah. Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan orang-orang yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa udzur berdosa dan mendapat adzab di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

Artinya: “Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.” (HR. Ibnu Majah)

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur itu?” Dia menjawab, “Takut atau sakit.”

Dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah didatangi seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah aku punya rukhsah untuk shalat di rumahku?” Kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Kalau begitu penuhilah.” (HR. Muslim)

Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudia aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut.” (HR. Bukhari)

Hadits-hadits shahih ini menunjukkan bahwa shalat jamaah termasuk kewajiban bagi kaum laki-laki dan merupakan kewajiban yang paling utama, dan bahwa yang menyelisihinya berhak mendapatkan siksaan yang menyakitkan.

Tiga ciri orang yang meremehkan shalat di atas menjadi penutup khutbah yang pertama. Kita memohon kepada Allah semoga memperbaiki kondisi seluruh kaum muslimin dan memberi mereka petunjuk ke jalan yang diridhai-Nya.

KHUTBAH KEDUA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Pada khutbah kedua ini kami kisahkan shalat yang dilakukan oleh para salaf agar bisa mencontoh mereka. Mungkin kita masih teringat dengan Urwah bin Zubair yang betisnya terkena pedang tajam, lalu para tabib berkata kepadanya, “Tidak ada cara untuk mengobati, kecuali dengan memotongnya.”

Lantas apa yang akan dilakukan Urwah?

Dia tengah berhadapan dengan ketentuan Allah dan tidak ada cara untuk menghindari, kecuali hanya dengan kesabaran. Tabib lalu menyarankan agar Urwah menggunakan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa sakit tatkala betisnya dipotong, tetapi apa yang dijawab Urwah?

Ia berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menggunakan sesuatu yang menghalangi akalku untuk berdzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Urwah lalu berkata kepada para tabib, “Bila saya telah menjalankan shalat kemudian saya sudah dalam kondisi duduk untuk membaca dan tasyahud, potonglah betisku karena sesungguhnya saat itu saya merasa berada di hadapan Allah, tidak ada dalam hatiku, kecuali Allah Ta’ala.

Urwah kemudian melaksanakan shalat, kemudian Urwah membentangkan betisnya, sedang dia dalam keadaan duduk membaca tasyahud, dan setelah mengucapkan dua salam, dia menanyakan kondisinya, “Apakah kalian telah selesai memotong?” Mereka menjawab, “Ya”. Mereka lalu membawa Urwah ke rumahnya sementara darah masih menetes dari betisnya.

Imam Hatim Al-Ashim suatu hari ditanya, “Bagaimana kondisimu ketika engkau melaksanakan shalat, wahai Hatim? Ia menjawab, “Ketika saya melaksanakan shalat, saya jadikan Ka’bah ada di hadapanku, kematian dibelakangku, Ash-Shirath di bawah dua telapak kakiku, Surga di sebelah kananku, Neraka ada di sebelah kiriku, dan saya merasa Allah mengawasiku, lalu saya sempurnakan ruku dan sujudnya, kemudian bila saya telah mengucapkan salam saya tidak mengetahui apakah Allah akan menerima atau menolaknya.”

Demikianlah beberapa kisah yang bisa kita ambil pelajaran. Semoga senantiasa dibimbing Allah di atas jalan-Nya yang lurus, dikuatkan dalam beribadah dan beramal shalih. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan