Khutbah Jumat: Jalan Menuju Istiqamah

2,896

Meniti Jalan Istiqamah

KHUTBAH PERTAMA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Di kesempatan yang penuh barakah ini marilah kita selalu bersyukur kepada Allah atas segala rahmat-Nya. Meskipun kita tahu bahwa syukur kita tersebut tidak akan dapat mengimbangi ataupun mendakati sebagian saja dari nikmat-Nya yang sampai detik ini masih kita rasakan. Semoga syukur kita tersebut dapat menghantarkan kepada syukur yang sebenarnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallau’alaihi wa sallam.

Kami wasiatkan kepada diri kami sendiri dan juga kepada segenap jamaah kaum muslimin, agar senantiasa bertaqwa kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, karena semua itu merupakan urgensi dari ketaqwaan. Dengan ketaqwaan, Allah Ta’ala akan memberikan keselamatan di dunia dan akhirat, di dunia memperoleh kebahagiaan walaupun hidup sederhana, dan di akhirat kelak memperoleh surga yang telah Allah janjikan hanya kepada orang-orang yang bertaqwa. Allah berfirman

QS. Maryam Ayat 63

Artinya: “itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Tak seorang pun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Maka merawat dan senantiasa berusaha menguatkan keimanan menjadi kebutuhan pokok paling penting dalam kehidupan kita.

Kita saksikan ada seseorang yang kehidupannya diliputi perbuatan baik, tetapi akhir hayatnya mati dalam keadaan su’ul khatimah. Sebaliknya, ada juga seseorang yang kehiduannya diliputi dengan perbuatan dosa, tetapi akhir hayatnya nanti dalam keadaan husnul khatimah. Senantiasa takut dari kesesatan setelah mendapat petunjuk adalah hal yang paling penting agar kita istiqamah di jalan Islam ini.

Rasulullah mengajarkan satu doa:

Artinya: “Ya Allah yang membolak-balikkan hati, baliklah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR. Muslim)

Khutbah kita kali ini akan mengambil tema pentingnya menjaga keistiqamahan. Istiqamah di atas kebenaran adalah tuntutan  asasi setiap muslim. Karena tema ini penting untuk dibahas, ada beberapa alasan mengapa tema ini sangat perlu mendapat perhatian yang serius.

Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syuhbat dan hal itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan mutlak, bahkan lebih utama dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.

Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90%, maka saat ini jumlah itu hampir berkurang sebesar 5%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam, untuk mengatasinya diperlukan suatu jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.

Ketiga, pembahasan istiqamah berkait erat dengan masalah hati. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati ini bagaikan bulu yang  ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad)

Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Bila hati penuh dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka perilaku seseorang akan penuh dengan kebaikan. Sebaliknya, bila hati penuh dengan syahwat dan hawa nafsu, maka yang akan muncul dalam perilaku adalah keburukan dan kemaksiatan.

Keburukan dan kemaksiatan ini bisa datang karena hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir kepada Allah. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Apabila hati seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka setang langsung masuk ke dalam hatinya dan mempengaruhinya untuk berbuat keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya angin ke dalam sebuah ruangan.”

Oleh karena itu, hati seorang mukmin harus senantiasa dihaga dari pengaruh setan. Yaitu, dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada Allah. Upaya inilah yang disebut dengan istiqamah. Imam Al-Qurtubi berkata, “Hati yang istiqamah adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan kepada Allah, baik berupa keyakinan, perkataan dan maupun perbuatan.”

Lebih lanjut beliau mengatakan, “Hati yang istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan dari adzab akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan terhadap adzhab kubur. Hati yang istiqamah akan membuat amal diterima dan menghapus dosa.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Ada banyak cara untuk menggapai hati yang istiqamah ini, tetapi hanya orang-orang yang berkeinginan saja yang akan bisa melakukannya. Di antaranya:

Pertama, meletakkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas segala-galanya.

Ini adalah prsoalan yang tidak mudah dan butuh perjuangan keras. Karena, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami benturan antara kepentingan Allah dan kepentingan makhluk. Entah itu kepentingan orangtua, istri dan keluarga atau kepentingan pekerjaan yang dalam hal ini melanggar syariat Allah Ta’ala. Apabila dalam kenyataannya kita lebih mendahulukan kepentingan makhluk, maka itu pertanda bahwa kita belum meletakkan cinta Allah di atas segalanya.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

QS. At Taubah Ayat 24

Artinya: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dna tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Demi Allah tidak memberi pentunjuk bagi orang-orang fasik.”

Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa siapa saja yang lebih mencintai sesuatu selain Allah, pelakunya justru akan tersiksa dengan rasa cintanya. Siapa yang takut karena selain Allah, akan dikuasai oleh rasa takutnya itu. Siapa yang sibuk dengan selain Allah, akan mengalami kebosanan. Siapa yang mendahulukan yang lain daripada Allah, tidak akan mendapatkan keberkahan dari-Nya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Kedua, membesarkan perintah dan larangan Allah Ta’ala

Dalam hal ini harus dimulai dari membesarkan dan menganggunkan pemilik perintah dan larangan tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Allah berfirman:

QS. Nuh Ayat 13

Artinya: “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.”

Ulama dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah.” Membesarkan perintah Allah di antaranya adalah dengan menjaga waktu shalat, melakukannya dengan khusyu, memerhatikan rukun dan kesempurnaannya serta melakukannya secara berjamaah.

Ketiga, senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dzikir adalah wasiat Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dan wasiat Rasulullah kepada umatnya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Barangsiapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku dalam kesibukkan, maka Aku akan mengingat-Nya dalam kesibukan yang lebih baik darinya.” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah memberikan permisalan bahwa perbedaan antara orang yang hidup dengan orang yang mati adalah dzikir. “Permisalan orang yang selalu mengingat Allah dan yang tidak mengingat-Nya seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

Orang yang sehat dan kuat, tetapi tidak mengenal Allah dan tidak pernah mengingatnya seperti bangkai yang berjalan. Akan tetapi orang yang senantiasa mengingat Allah, dia adalah orang yang hidup walaupun telah mati.

Oleh karena itu akankah hati kita biarkan mati? Tentu saja tidak, kita harus gunakan untuk selalu berdzikir pada Allah dengan banyak membaca Al-Qur’an dan dzikir-dzikir lain yang diajarkan baginda Rasulullah. Dan wajib bagi kita meninggalkan nyanyian jahiliyah karena hal itulah yang akan menjauhkan kita dari berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Keempat, mempelajari kisah dan sejarah orang-orang shalih

Apalagi sejarah para Nabi, dapat menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya:

QS. Hud Ayat 120

Artinya: “Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Tidaklah berbagai kisah yang Allah turunkan pada masa Nabi dan para sahabatnya adalah untuk menguatkan mereka dari berbagai ujian. Ingatkah kita dengan kisan Nabi Ibrahim, ketika disiksa oleh raja Namrud? Nabi Ibrahim hanya berdoa hasbiyallah wa ni’mal wakil. Bukankah dengan kisah ini kita tertuntut untuk sabar dan kuat dalam menegakkan Islam ini walaupun harus berhadapan dengan para thagut? Masih banyak kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang semua tujuannya adalah menguatkan kita di atas jalan kebenaran.

Kelima, senantiasa berpikir tentang kebesaran ciptaan Allah

Allah Ta’ala memiliki ciptaan yang indah dan besar. Dengan memikirkan ciptaan-Nya diharapkan bisa menyadari betapa besar kekuasaan Allah terhadap ciptaan-Nya itu. Allah berfirman:

QS. Al Hajj Ayat 73

Artinya: “Wahai manusia, telah diberikan kepada kalian beberapa permisalan, maka dengarkanlah (perhatikanlah) permisalan itu. Sesungguhnya orang-orang yang engkau seru selain Allah, mereka tidak akan mampu untuk menciptakan lalat, meskipun untuk melakukannya itu mereka berkumpul bersama?”

Cukup sekian khutbah jumat yang kami sampaikan, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan bertambahnya iman dan taqwa kita kepada Allah Ta’ala.

KHUTBAH KEDUA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Demikianlah beberapa hal yang akan mengantarkan kita kepada hati yang istiqamah, mudah-mudahan saja kita bisa mendapatkannya. Dan semoga Allah Ta’ala tetap memberikan keistiqamahan pada kita hingga Allah memanggil kita di akhirat kelak.

Sebagai penutup, kita renungkan dan kita amalkan doa yang diajarkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an:

QS. Ali Imran Ayat 8

Artinya: “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri pentunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).”

Marilah khutbah jumat pada hari ini kita tutup dengan memohon kepada Allah, semoga Dia senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah, serta senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan