Khutbah Jumat: Jangan Salah Pilih Idola

1,163

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah jangan salah pilih idola. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Pada kesempatan yang berbahagia ini tidak lupa kita mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Allah curahkan dan limpahkan kepada kita. Sehingga pada siang hari ini kita diberikan kesempatan serta dimampukan untuk melaksankan kewajiban shalat jumat. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada suri teladan seluruh umat, baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Tidak lupa juga saya berwasiat khususnya kepada diri pribadi dan umumnya kepada jamaah untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Dengan senantiasa melaksanakan kewajiban serta perintah-Nya dan meninggalkan apa yang menjadi larangan-Nya. Dan juga kita memohon kepada Allah untuk tidak mematikan kita kecuali dalam keadaan berserah diri kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah firmankan

QS. Ali Imran Ayat 102

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Sang Idola – Begitulah para remaja sekarang melihat bintang film, atlit, penyanyi, atau tokoh-tokoh mudah yang terkenal lewat layar kaca. Biasanya faktor yang paling menarik perhatian para remaja putra maupun putri ketika mengidolakan seseorang adalah berdasarkan fisik. Ganteng atau cantiknya, baru talent atau bakat yang dimiliki seperti kemampuan berakting, bernyanyi, atau prestasi-prestasi di bidang lainnya. Jarang ditemukan orang yang secara fisik biasa-biasa saja, tetapi menjadi idola para remaja kebanyakan. Begitu juga dengan kepribadian atau karakter yang dimiliki, merupakan nomor kesekian yang dijadikan bahan pertimbangan ketika seseorang remaha mengidolakan seorang bintang.

Hasil dari pengidolaan ini bermacam-macam, dari mulai mengikuti apa yang dikenakan sang idola, mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi idola, mengikuti gaya rambut sang idola, sampai menirukan segala sesuatu yang dilakukan sang idola. Bahkan yang lebih tragis ketika sang idola meninggal, sang fans pun ikut membunuh dirinya demi kesetiannya yang di luar akan sehat. Kasus ini nyata dan terjadi seperti kasus Grup Musik X Japan, ketika salah seorang personilnya meninggal, 4 orang fans ikut mencoba membunuh dirinya, 2 orang meninggal.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Bila kita memerhatikan fenomena masyarakat saat ini, di dalam mencari panutan atau sang idola, maka kita akan menemukan hal yang sangat kontras dengan apa yang terjadi pada abad-abad terdahulu.

Kalau dulu, orang begitu mengidolakan manusia-manusia pilihan dan berakhlak mulia di kalangan mereka seperti para ulama dan orang-orang shalih. Maka, kondisi itu sekarang sudah berubah total. Orang-orang sekarang cenderung menjadikan manusia-manusia yang tidak karuan dari segala aspeknya sebagai idola. Mereka mengidolakan para pemain sepakbola, kaum selebritis, paranormal dan tokoh-tokoh lainnya yang kelakuannya penuh dengan maksiat. Anehnya, hal ini didukung oleh keluarga bahkan diberi dorongan sedemikian rupa agar anaknya kelak bisa menjadi si fulanah sebagai artis top, si fulan sebagai pesepakbola hebat, dan anehnya mereka berbangga-bangga dengan hal itu.

Tentunya ini sangat ironi sebagai umat Islam yang mayoritas seharusnya mereka harus memahami ajaran agama secara benar. Dengan memahami agama secara benar, maka mereka akan tahu siapa yang harus dijadikan idola dan siapa yang seharusnya dijauhi bahkan tidak pantas untuk menjadi panutan. Sungguh kesalahan yang amat fatal jika seseorang salah dalam menentukan idolanya. Karena dia akan dikumpulkan di akhirat bersama orang yang diidolakan. Rasulullah bersabda:

Artinya:   Dari Abu Wail, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum padahal dia belum pernah (sama sekali) berjumpa dengan mereka?’ Rasulullah bersabda, ‘Seseorang itu adalah bersama orang yang dia cintai’.” (HR. Muslim)

Anas bin Malik mengomentari, “Setelah keislaman kami, tidak ada lagi hal yang membuat kami lebih gembira daripada ucapan Rasulullah, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.’ Lalu Anas melanjutkan, “Kalau begitu, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, Abu Bakar serta Umar. Aku berharap kelak dikumpulkan oleh Allah bersama mereka meskipun aku belum berbuat seperti yang telah mereka perbuat.”

Allah Ta’ala juga memerintahkan kita mengikuti idola yang paling baik, yaitu Rasulullah. Allah berfirman:

QS. Al Ahzab Ayat 21

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Bahkan pada sebagian masyarakat kita, telah muncul gejala yang lebih serius dan mengkhawatirkan lagi, yaitu pengkultusan terhadap sosok yang dianggap sebagai tokoh tanpa menyelidiki terlebih dahulu sisi akidah dan akhlaknya. Tokoh idola ini diikuti semua perkataan dan ditiru semua perbuatannya tanpa ditimbang-timbang lagi, apakah yang dikatakan atau dilakukan itu benar atau salah menurut agama bahkan sebaliknya, perkataan dan perbuatannya justru menjadi acuan benar tidaknya menurut agama. Naudzu billahi min dzalik

Yang lebih memilukan lagi, sang idola yang tidak ketahuan juntrungnya tersebut memposisikan dirinya sebagai yang dianggap oleh para pengidolanya. Mereka berlagak sebagai manusia-manusia suci pada momen-momen yang memang suci seperti bulan Ramadhan, hari Raya Idull Fitri dan Idul Adha. Bahkan ada di antara mereka yang berlagak menjadi seorang ustadz dalam rangka mengelabui para penggemarnya.

Pada momen-momen tersebut, mereka seakan mengisi semua hari-hari para pengidola bahkan non pengidola pun tak luput dari itu. Mereka menganggap bahwa diri mereka yang paling mengetahui apa yang harus dilakukan secara agama pada momen-momen tersebut. Maka dipersembahkanlah berbagai tayangan program dan acara untuk menyemarakkan syiar bulan Ramadhan tersebut. Tampak, pada momen-momen tersebut mereka seakan menjadi manusia yang paling suci dan panutan semua. Hal ini persis sebagaimana sabda Rasulullah

Artinya: Abdullah bin Amr bin Ash berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan langsung dicabut dari seorang hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mengangkat (mematikan) para ulama. Sampai jika sudah tidak tersisa seorang ulama pun, manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang bodoh, kemudian dia ditanya dan menjawab dengan tanpa ilmu, maka mereka itu sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

Tampilnya para bintang film dan sinetron di bulan Ramadhan dengan berpenampilan ustadz adalah bukti kebenaran hadits tersebut. Dari sanalah kesesatan akan muncul dan merebak pada umat ini. Dan kesesatan itu adalah sumber bencana pada umat ini.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Dalam Islam, salah satu bentuk pengidolaan sampai mengikuti seluruh sepak terjang sang idola, selain Rasulullah bisa dikategorikan sebagai salah satu dosa besar atau bahkan dosa syirik. Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang bisa menjadikan seseorang berlaku syirik kepada Allah ketika menjadikan seseorang sebagai idola, yaitu:

Pertama, jika seseorang mengikuti segala perilaku yang ditunjukkan oleh sang idola dalam hal-hal yang dimurkai Allah

Misalnya saja sang idola menganggap dugem itu adalah sesuatu yang ‘cool’, maka para remaja ikut-ikutan menyenangi tempat dugem seperti yang diidolakan. Contoh lain, bila sang idola memakai baju yang seksi, yang memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya, dengan serta merta para fans mengikuti gaya berpakaian sang idola tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah:

Artinya: Dari Ibnu Umar berkata,  bersabda Rasulullah, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, jika seseorang mencintai sang idola melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sehingga mereka rela melakukan apa pun untuk hanya sekedar bertemu sang idola. Bahkan sampai mengorbankan nyawa dan harta untuk bertemu sang idola. Bila tingkat kecintaan seseorang kepada sang idola melebihi cintanya kepada Allah, sampai-sampai bersedia melakukan apa pun agar bisa diperhatikan sang idola, maka jatuhlah kepada syirik yang dimurkai Allah. Sebagaimana firman Allah:

QS. Al Baqarah Ayat 165

Artinya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu  mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang dimaksud andad adalah tandingan yang mereka ibadahi bersamaan dengan Allah, dan mereka mencintai sebagaimana cinta mereka kepada Allah. Dia-lah Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, dan tidak ada lawan serta tandingan bagi-Nya. Dan tidak ada serikat bagi-Nya.”

Rasulullah bersabda

Artinya: Dari Abdullah, aku bertanya pada Rasulullah, “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau berkata, “Engkau jadikan untuk Allah tandingan sedangkan dia menciptakanmu.” (HR. Bukhari)

Jangan jadikan selain Allah sesuatu yang lebih kita cintai, dan jadikanlah Allah dan Rasul-Nya sesuatu yang paling kita cintai. Demikian khutbah yang kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita sekalian.

KHUTBAH KEDUA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Pada khutbah yang kedua ini, kami akan sampaikan beberapa rambu-rambu dalam menjadikan seseorang idola. Karena menjadikan seseorang idola itu diperbolehkan dengan beberapa catatan di bawah ini:

Pertama, kita menjadikan seseorang sebagai idola tidak melebihi pengidolaan kita kepada Rasulullah.

  • Rasulullah adalah sebaik-baik idola, apa pun yang dilakukan oleh beliau selalu berdampak baik kepada kita. Lebih dari itu, mengikuti setiap gerak-gerik Rasulullah akan mendatangkan pahala bagi kita. Sedangkan caranya adalah mendalami kehidupan beliau lewat kitab-kitab sirah.

Kedua, bila kita mengidolakan seseorang, semuanya karena ingin mencari ridha Allah Ta’ala.

  • Artinya, jika mengidolakan seseorang pasti idola yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu adalah para ulama dan shalihin dari hamba-hamba-Nya. Bukan para bintang film dan sinetron yang dibenci Allah karena banyak melanggar aturan-aturan Islam.

Ketiga, meskipun kita mengidolakan seorang ulama, kita harus mengingat, bahwa dia juga manusia.

  • Tentu banyak sekali kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Bisa saja orang tersebut terkenal lewat berbagai media. Padahal mungkin banyak kekurangan yang tersembunyi, yang kita tidak mengetahuinya. Islam telah menetapkan bahwa tidak ada yang ma’sum kecuali Rasulullah.

Keempat, menyadari bahwa kelebihan yang dimiliki sang idola, berupa ilmu yang banyak serta hikmah merupakan anugerah dari Allah.

  • Itu semua sebagai ujian baik untuk diri sang idola sendiri, maupun orang-orang yang mengidolakannya.

Demikian khutbah jumat siang hari ini, bila ada benarnya datangnya dari Allah Ta’ala dan jika ada salah atau kurang kata yang berkenan datangnya dari saya pribadi.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan