Khutbah Jumat: Jauhi Gaya Hidup Jahiliyyah

970

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang jauhi gaya hidup jahiliyyah. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jammah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Di kesempatan yang berbahagia ini kita dengan sepenuh hati dan perasaan mengakui bahwa seluruh nikmat yang ada di hadapan kita adalah dari Allah. Kita wajib bersyukur kepada-Nya, dan tidak mengkufuri-Nya. Kita gunakan nikmat-nikmat itu untuk ketaatan. Semoga kehadiran kita di masjid yang mulia ini termasuk dari bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Shalat dan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Baginda Rasulullah.

Dan tidak lupa juga kami wasiatkan khususnya kepada saya pribadi dan umumnya kepada jamaah untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah. Karena hanya dengan bekal ketaqwaan kitalah nantinya Allah menjanjikan surga untuk hambanya. Kita masuk Islam seluruhnya tanpa ada paksaan, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari mulai kita bangun tidur sampai tidur kembali, terus seperti itu sampai Allah menentukan waktu hidup kita di dunia ini. Mulai dari urusan pribadi hingga urusan negara dan pemerintahan. Dan tidak seorang pun diperbolehkan untuk keluar dari aturan Allah dan syariat-Nya jika ingin selamat dunia dan akhirat. Bahkan Allah dengan tegas telah mengancam kepada siapa saja yang menentang atau menyelisihi perintah-perintah-Nya di dalam QS. An-Nur: 63, yang berbunyi:

QS. An Nur Ayat 63

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. ”

Ibnu Katsir menjelaskan, “Hendaklah kalian berhati-hati dan takut untuk menyelesihi syariat Rasulullah secara batin ataupun yang nampak, maka akan tertimpa bencana di dalam hati mereka berupa kekufuran, kenifakan atau kebid’ahan serta tertimpa adzab yang amat pedih. Yaitu di dunia dengan terbunuh, atau terkena had, penjara atau yang lainnya.”

Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya dengan kesengsaraan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi seorang muslim tidak ada pilihan jika menginginkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat kecuali mengikuti aturan Islam dan cinta terhadap aturan tersebut. Sebagaimana perkataan Umar Ibnu Khattab:

“Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.” (Tafsir Ath-Thabari, XIII/478)

Jammah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Lawan dari Islam adalah jahiliyyah. jika ada gaya hidup yang Islami, tentu juga ada gaya hidup jahili. Sedangkan orang-orang yang menyelisihi Islam disebut dengan jahiliyyah. Keduanya memiliki gaya hidup masing-masing, yaitu gaya hidup Islami, dan gaya hidup jahili.

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah gaya hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya hidup orang kafir. Setiap muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala berikut ini:

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah gaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram baginya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Mereka bangga meniru mode-mode orang kafir, seperti memperingati ulang tahun kelahiran, valentine, acara hallowen dan adat-adat lain yang tidak ada contohnya dalam Islam. Fenomena iini persis seperti apa yang pernah disinyalir oleh Rasulullah dalam sabda beliau:

“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Rasulullah, “Siapa lagi?”. (HR. Bukhari)

Hadist tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir. Inilah bencana kepribadian yang paling besar. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Menurut hadits tersebut, orang yang gaya hidupya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?

Al-Munawi berkata, “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, bertingkah laku atau berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Tasyabbuh dengan orang-orang kafir terjadi dalam hal penampilan, pakaian, tempat makan dan sebagainya, karena ia adalah kalimat yang bersifat umum. Dalam artian, bila ada seseorang yang melakukan ciri khas orang-orang kafir, tatkala orang yang melihatnya mengira bahwa dia termasuk golongan mereka.”

Ada sebagian orang yang mengatakan, “Kami memang meniru pakaian dan adat istiadat orang kafir, akan tetapi semua itu tidak akan membawa kami cinta kepada mereka.”

Pernyataan itu dibantah Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Seseorang yang meniru orang lain dalam hal zhahir (nampak) sudah dipastikan akan melahirkan perasaan dekat dan mencintai. Dan jika seorang muslim meniru orang kafir dalam tampilan, kebiasaan, akhlak, bahasa dan yang lain, maka sudah dipastikan akan melahirkan perasaan dekat, kecintaan dan itulah yang terjadi hari ini.”

Tentu saja lingkup pembicaraan tentang tasyabbuh itu masih cukup luas, namun dalam kesempatan yang singkat ini, tetap mewajibkan diri kita agar prihatin terhadap kondisi umat kita saat ini.

Jammah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudidaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat mode busana muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode jahiliyyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syariat. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyyah.

Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak mempertontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan ketetatan pakaian. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang kata mereka selaras dengan mode busananya.

Hadirin, marilah kita takut pada ancaman akhirat dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah pernah bersabda:

“Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataannya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh.” (HR. Muslim)

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat ber-tasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.

Jammah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Sebagai penutup khubat kali ini saya mengajak kepada kita semua untuk memperhatikan, merenungi dan menaati firman Allah Ta’ala:

QS. At Tahrim Ayat 6

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

KHUTBAH KEDUA

Jammah shalat jumat yang dirahmati Allah!

Tiada bukti keimanan seorang hamba kecuali tunduk kepada aturan yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta dan takut terhadap ancamannya jika menyelisihi perintahNya. Demikianlah Allah telah melarang kita lewat lisan Rasul-Nya dari sikap meniru-niru orang kafir dan juga telah diterangkan sebagian akibatnya. Tidak ada manfaat sikap membangkang, berbahagialah hati yang tunduk patuh kepada Allah meskipun dalam perkara yang dibencinya lantaran yakin bahwa hal itu akan membawa manfaat bagi dunia dan agamanya. Semoga kita dapat mengambil manfaat dan mendapat ridha Allah Ta’ala.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan