Khutbah Jumat: Problematika Umat Islam

2,359

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang problematika umat Islam sekarang ini. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia, yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah, keluarga, sahabat-sahabat dan orang-orang yang berjalan di atas tuntutannya.

Kemudian tidak lupa juga kami wasiatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah shalat jumat untuk selalu senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita. Karena hanya dengan keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menghadap-Nya kelak.

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Bila kita meneliti kondisi Umat Islam dewasa ini, ada 3 hal problematika umat Islam yang patut kita cermati dan selanjutnya kita carikan solusinya dalam Islam. Di antara permasalahan tersebut adalah:

Pertama, Hilangnya Sumber Kekuatan Umat Islam

Sumber kekuatan tersebut adalah Islam. Maka benar yang dikatakan oleh sahabat Umat bin Khattab:

“Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.”

Karena itu seorang muslim, tidak akan mendapatkan kemuliaan bila dia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya dia lemah, meskipun merasa dirinya kuat, dia fakir, meskipun dirinya kaya.

Islam adalah sumber kekuatan. Bila kaum muslimin berpegang teguh dengan Islamnya, niscaya akan mengalami kejayaan. Namun bila tidak, akan dihinakan Allah dan dijadikan sebagai hidangan bagi musuh-musuh Islam.

Banyak dari generasi Islam hari ini, yang berbangga dengan mengikuti budaya barat. Mereka bangga ketika istri-istri mereka melepas hijab. Berdandan dengan dandanan yang diharamkan Islam. Bangga dengan berpakaian merangsang yang mereka pakai di tempat-tempat keramaian. Bangga ketika melakukan kemaksiatan dan kefasikan. Sebaliknya, mereka malu ketika melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala. Malu ketika menegakkan shalat jamaah di masjid. Memakai pakaian muslim atau muslimah, padahal kebanggaan yang bertentangan dengan Islam akan menghinakannya di hadapan Allah.

Kedua, Terurainya Ikatan Islam Sedikit Demi Sedikit

Dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasulullah bersabda:

“Ikatan Islam betul-betul akan terurai satu persatu. Dan setiap kali terlepas satu ikatan, maka manusia akan bergantung dengan ikatan berikutnya. Yang pertama adalah terlepasnya hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyampaikan bahwa yang pertama kali terlepas dari ikatan umat muslim adalah persoalan hukum. Hukum ini, beserta ruang lingkupnya, mulai terlepas satu demi satu, semenjak Kekhalifahan Rasyidin berakhir. Apa yang dahulu ada di kekhalifahan ini, seperti majelis syura, penjagaan harta, dan penyampaian hak-hak mulia hilang satu per satu. Harta, jiwa, dan kehormatan kaum muslimin tidak lagi dihukumi dengan syariat Allah Ta’ala. Sebaliknya, demokrasi dan pemikiran-pemikiran lainnya menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai masalah umat.

Bersamaan dengan itu, berubahlah kekhalifahan yang berbentuk syura kepada raja yang manggigit, yang diwariskan secara turun-temurun dari bapak kepada anaknya. Perkara hukum mulai diserahkan kepada bukan ahlinya dan amanah mulai disepelekan. Rasulullah bersabda:

“Jika suatu urusan diserahkann kepada selain ahlinya, maka tungguhlah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Orang yang menyerahkan kekuasaan kepada seseorang, padahal dia tahu ada orang yang lebih ahli dan lebih baik darinya dalam membawa kekuasaan itu, maka dia telah menipu Allah, Rasul dan orang-orang mukmin.

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Hukum Islam telah digantikan dengan hukum yang lain. Aturannya diubah dan pemahamannya dikaburkan. Kebodohan, bid’ah, khurafat, gambaran yang rusak dan pemikiran yang membawa kepada kefakiran, juga telah tersebar di tengah kaum muslimin.

Ini semua adalah hasil dari perbuatan pemimpin Islam yang menyebar kebodohan, meremehkan ilmu, dan memerangi dakwah di belahan dunia. Setiap ada dakwah yang bersungguh-sungguh untuk mengajarkan kepada manusia bahwa Allah Ta’ala adalah pemilik hukum dan kemualiaan umat Islam terletak pada Islam, maka akan dihancurkan, pelakunya dicap dengan cap teroris, dijebloskan ke dalam penjara atau dihukum mati. Sementara dalam waktu bersamaan, mereka memberi kesempatan kepada umat khurafat dan bid’ah serta kemaksiatan untuk berkembang. Maka yang tersebar di tengah manusia adalah kebodohan dan kerusakan.

Kembalilah kita pada masa jahiliyyah, yaitu masa yang jauh dari tuntunan Islam, walau sesungguhnya masa jahiliyyah telah meninggalkan kita. Bersamaan dengan itu, masyarakat kita tidak paham dengan jahiliyyah menurut Islam. Sehingga mereka bangga dengan budaya-budaya orang kafir, akhlak orang kafir serta kebiasaan-kebiasaan mereka. Inilah yang disinyalir oleh sahabat Umar bin Khattab dalam perkataannya:

“Sesungguhnya akan terurai ikatan Islam ini sehelai demi sehelai, ketika ada dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui apa itu jahiliyah.”

Ketiga, Meninggalkan Jihad

Jihad adalah bentuk kekuatan kaum muslimin dan sebab kemuliannya. Dengan jihad kaum muslimin menjadi kuat di hadapam musuh-musuhnya. Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Bakar As-Shiddiq bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fisabilillah kecuali Allah akan mengadzab seluruhnya dari mereka.” (HR. At-Thabrani)

Hari ini kaum muslimin telah meninggalkan jihad, mencintai dunia dan takut mati. Maka benarlah apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah 14 abad silam. Beliau pernah bersabda:

“Apabila kalian telah melakukan penjualan secara kredit beserta tambahan harga, mengikuti ekor sapi, suka terhadap pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak dilepaskan dari kalian sampai kalian kembali kepada din kalian.” (HR. Abu Dawud)

Ketika kaum muslimin meninggalkan jihad, maka Allah Ta’ala meninpakan kehinaan kepada mereka. Dan kehinaan itu tidak akan dicabut kecuali mereka kembali pada Islam dan jihad mereka. Dahulu, Islam berada dalam satu kekhalifahan, yang merupakan simbol persatuan dan kesatuan. Semua kaum muslimin tunduk pada kekhalifahan ini. Namun setelah kekhalifahan ini runtuh pada tahun 1924 M, karena meninggalkan jihad, umat Islam berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Wilayahnya pn direbut dan dibagi-bagi di antara mereka. Maka muncullah negara Italia, Perancis, Inggris, Belanda, Spanyol dan Portugal. Maka, sebagian umat Islam saat itu berada di bawah kekuasaan Perancis, sedang sebagian yang lain dibawah kekuasaan Inggris. Hukum Islam diberangus dan digantikan dengan hukum mereka. Jihad disingkirkan dan kaum muslimin disibukkan dengan perkara-perkara yang remeh.

Wilayah Islam dahulu merupakan wilayah yang luas, oleh mereka kemudian dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil, yang jumlahnya lebih dari 80 buah. Setiap negara di dalamnya dimunculkan masalah-masalah. Di samping dibuat bergantung kepada mantan penjajahnya, dimunculkan pula fitnah dan konspirasi untuk mengadu domba satu dengan yang lainnya. Irang diadu dengan Irak, Yaman dengan Oman, Mesir dengan Sudan, dan sebagainya. Ini semua tentunya menjadikan kaum muslimin semakin lemah.

Di samping mengadu domba, merek ajuga menanamkan pengaruh-pengaruhnya. Di antaranya adalah hukum jahiliyyah, pendidikan sekuler, perilaku buruk, bahasa dan adat-istiadat yang menyimpang dari Islam. Akibatnya, kaum muslimin tumbuh tidak pada gambaran jenihnya sebagaimana telah diwariskan oleh para pendahulunya. Maka yang muncul adalah perpecahan, perselisihan pandangan, dan kekacauan, yang semua itu berujung pada kehinaan diri.

Akan tetapi Allah Ta’ala akan senantiasa memenangkan dan menyempurnakan cahanya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Allah berfirman:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. As-Shaff: 8)

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Itulah persoalan umat yang menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga Allah memberikan jalan keluar yan terbaik bagi kita semua. Dan menguatkan untuk menempuh jalan tersebut. Demikian khutbah pertama yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya minta maaf.

KHOTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Islam adalah agama yang sempurna, memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan dengan jalan yang logis dan sesuai dengan fitrah manusia. Termasuk permasalahan yang kami jelaskan di depan. Islam memberikan konsep dakwah, amar makruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah dalam menghadapi realita umat hari ini. Dengan dakwah kita pahamkan umat bahwa kemualiaan hanya dengan Islam. Hanya ber-Islam secara kaffah seseorang mendapat kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala. Dan dengan amar makruf nahi munkar serta jihad fi sabilillah kita akan hadapi orang-orang yang menghalang-halangi dakwah dan kebenaran ini.

Sebelum khutbah jumat ditutup pada siang hari ini, marilah kita merenungi firman Allah Ta’ala:

QS. An Nahl 125

“Serulah (manusia) kejalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Dengan ayat ini dapat kita simpulkan bahwa dakwah, amar makruf nahi munkar serta jihad fi sabilillah adalah solusi untuk mengembalikan kejayaan umat serta solusi dari seluruh permasalahannya. Semoga umat ini senantiasa dibimbing Allah berjalan di atas kebenaran. Diberikan solusi dari berbagai masalah, dilindungi dari makan musuh-musuh Allah, dan dimenangkan dari mereka.

Demikian khutbah jumat yang kami sampaikan, semoga meningkatkan iman dan taqwa kita pada Allah Ta’ala. Dan semoga kita diistiqamahkan di jalan-Nya yang mulia hingga kita menemui ajal.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan