Khutbah Jumat: Riba, Petaka Dunia Berbuah Derita Akhirat

1,649

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang riba, petaka dunia berbuah derita akhirat. Semoga khutbah jumat tentang riba ini bermanfaat bagi Anda dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Dari mimbar ini, di tempat dan hari yang mulia ini, marilah kita tidak lupa mengawali shalat jumat ini denga banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Karena dalam salah satu firman-Nya Allah telah menyatakan, “Jika kalian bersyukur, sesungguhnya Dia ridha kepada hamba-Nya yang bersyukur.”

Kami wasiatkan juga kepada hadirin sekalian untuk selalu menjaga keimanan dengan menghindari hal-hal yang dapat mencemarinya. Kita juga harus dalam kondisi selalu meningkatkan keimanan dengan melaksanakan apa yang dibebankan kepada kita dan berusaha dengan sungguh-sungguh menjauhi apa yang dilarang untuk kita kerjakan.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Di kesempatan yang bahagia ini akan kita coba mengangkat tema tentang satu dosa besar yang sekarang ini hampir mereata dilakukan oleh sebagian saudara kita, padahal Allah dan Rasul-Nya telah menyatakan perang terhadapnya. Sebagaimana kemungkaran besar lainnya seperti perzinaan, perjudian, dan minuman keras, riba adalah kemungkaran besar yang usianya setua usia sejarah manusia itu sendiri.

Tepatnya ketika Allah memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasih-Nya, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam, berupa Isra’ Mi’raj pada saat itu pula Allah Ta’ala memperlihatkan berbagai kejadian kepada beliau. Salah satu dari peristiwa itu adalah para pemakan riba.

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke Tanah Suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang ada di pinggir sungai tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, ‘Siapakah itu?’ Aku diberitahu, bahwa laki-laki yang di tengah sungai itu ialah orang yang memakan riba’.” (HR. Bukhari)

Badr Ad-Din Al-Ayni berkata, “Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.” (Umdat Al-Qari Syarah Shahih Al Bukhari)

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan telah menjadi ijma kaum muslimin atas keharamannya.

Allah berfirman:

QS. Al Baqarah Ayat 276

Artinya: “Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Orang yang bergelut dan berinteraksi dengan riba berarti secara terang-terangan mengumumkan dirinya sebagai penentang Allah dan Rasul-Nya dan dirinya layak diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

al-baqarah-278

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

al-baqarah-279

Artinya: “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Tidak ada satu ayat pun yang isinya pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya kecuali ayat ini. Maka keuntungan apakah yang akan diraih bagi mereka yang telah mengikrarkan dirinya sebagai musuh Allah serta Rasul-Nya dan akankah mereka meraih kemenangan jika yang mereka hadapi adalah Allah dan Rasul-Nya?!

Allah juga mengancam kepada orang-orang yang suka makan harta riba. Rasulullah bersabda dalam haditsnya:

Artinya: “Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda, ‘Mereka itu sama’.” (HR. Muslim)

Semaraknya praktik riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Bahkan negara-negara muslim pun menerima berbagai pinjaman luar negeri yang disebut dengan pinjaman lunak atau bunga rendah. Padahal itu juga termasuk bagian dari riba.

Umat tidak lagi memerhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syariat Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukum-Nya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merajalela di dalamnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasanya Rasulullah bersabda:

Artinya: “Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Majma’ Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, IV/131)

Bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya pun menjadi haram, motor atau mobil yang dikendarainya menjadi haram, bahkan ASI yang dikonsumsi si bayi pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin doa yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada di rumahnya ternyata bersumber dari praktik yang diharamkan Allah alias riba.

Sebenarnya praktik riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabiat orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media lainnya. Sehingga umat Islam bergegas mendepositkan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka. Menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis, dan acara-acara kafir lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita seiman dengan mendepositkan uang kita di bank-bank mereka.

Dalam firman-Nya Allah menegaskan:

QS. An Nisa Ayat 161

Artinya: “Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih.”

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Rasulullah mensinyalir sebuah zaman yang seseorang tidak akan lepas dari riba. Jika seorang berusaha untuk meninggalkannya, tetap saja dia akan mendapat debu riba. Mungkin zaman itu adalah zaman kita sekarang hidup. Munculnya bank-bank syariah ternyata juga belum memberikan solusi, karena transaksi yang kadang tidak sesuai syariat dan tujuan yang hanya untuk mencari keuntungan tanpa mempertimbangkan halal dan haram. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (tatkala) tiada seorang pun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)-nya.” (HR. Ibnu Majah)

Demikian khutbah jumat yang kami sampaikan. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita menuju jalan-Nya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafus-shalih.

KHUTBAH KEDUA

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Setelah memerhatikan berbagai dalil yang mengharamkan riba dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan olehnya, selayaknya kaum muslimin untuk menjauhi dan segera meninggalkan transaksi yang mempraktikan riba. Bukankah keselamatan dan kesuksesan akan diperoleh ketika menaati Allah dan Rasul-Nya. Ketahuilah tolak ukur kesuksesan bukan terletak pada banyaknya harta atau tingginya jabatan, namun ketakwaan seseorang kepada Allah Ta’ala.

Bukankah telah cukup laknat Allah dan Rasul-Nya sebagai peringatan bagi kaum muslimin?

Tentu akal yang sehat dan fitrah yang lurus akan menggiring pemiliknya untuk menjauhi dan meninggalkan transaksi ribawi. Suatu keanehan jika ternyata di antara kaum muslimin yang mengetahui keharaman dan keburukan riba kemudian nekat menjerumuskan diri ke dalamnya demi memperoleh bagian dunia yang sedikit ini.

Mari renungkan sabda Rasulullah berikut:

Artinya: “Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dan buruk dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad)

Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi kami pribadi dan kaum muslimin. Semoga Allah menolong kaum muslimin untuk terlepas dari jeratan riba dan beralih kepada bentuk-bentuk muamalah yang sesuai dengan syariat Islam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan