Kisah Abdurrahman bin Auf – Milyader Pembeli Jannah

20,828

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Abdurrahman bin Auf – Milyader Pembeli Jannah. Kalau diantara kita ada yang dikarunai rezeki melimpah oleh Allah, patutlah kiranya kita merenungi kisah sahabat yang satu ini. Seorang sahabat yang dikaruniai limpahan harta oleh Allah, lalu menggunakannya untuk membangun jalan tol menuju ridha dan jannah-Nya.

Ketika mendengar ayat:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai dan apa yang kamu nafkahkan. Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Dan ayat:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari mereka orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

Abdurrahman bin ‘Auf segera menafkahkan hartanya di jalan Allah. Dari Thalhah bin Abdillah bin’Auf ia berkata: “Orang-orang Madinah bergantung kepada Abdurrahman bin ‘Auf, sepertiga dari mereka ia berikan pinjaman, sepertiga penduduk lain ia lunasi hutangnya, dan sepertiga yang lain ia sambungkan silaturahimnya.”

Pada zaman Nabi beliau pernah menyedekahkan separuh harta yang dimilikinya saat itu. Sebanyak 2000 dinar atau kurang lebih setara dengan 3,6 milyar 600 juta rupiah ( 1 dinar -+ 1,8 juta). Bahkan pada perang Tabuk, yaitu perang yang terakhir kali yang diikuti Nabi, Abdurrahman bin ‘Auf menginfakkan seluruh hartanya, ketika ditanya Nabi, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?” beliau menjawab, “Ya, mereka saya tinggali lebih banyak, dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan.” “Berapa?” Tanya Rasulullah, “Sebanyak rezeki, kebaikan dan pahala yang dijanjikan Allah.”

Sebelum meninggal, beliau sempat berwasiat, sebanyak 50.000 dinar (-+ 9,2 milyar rupiah) untuk dibelanjakan di jalan Allah. Beliau juga berwasiat untuk orang-orang yang ikut dalam perang Badar (saat itu jumlahnya kurang-lebih 100 orang), Abdurrahman bin ‘Auf memberi setiap orang dari mereka 400 dinar, diantara mereka yang diberi adalah Utsman bin Affan. Jika dikalkulasi berarti 100 x 400 dinar = 40.000 dinar (-+ 7,2 milyar rupiah). Jika wasiat maksimal adalah 1/3 dari total harta, kemungkinan harta beliau pada saat itu sekira 48 milyar.

Selain itu Abdurrahman bin ‘Auf termasuk dari delapan orang yang masuk Islam pertama kali. Juga termasuk salah satu dari orang yang disebutkan dalam ayat ini,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setiap kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al Fath: 18)

Meski kaya, namun Abdurrahman bin ‘Auf bukanlah sosok juragan yang hidup serba mewah dan gemar main mata dengan kekuasaan demi mendukung bisnisnya. Beliau bukanlah orang yang merasa harus beda dan ingin diperlakukan istimewa dari orang lain karena kekayaan dan dermanya.

Zuhud dari dunia adalah pakaian yang biasa beliau kenakan saban hari. Dari Sa’ad bin al Hasan ia berkata, “Sulit membedakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan hamba-hamba sahayanya.” Maksudnya dari pilihan baju dan makanan.

Jabatan Tertinggi

Soal kekuasaan, inilah jawaban beliau saat ditawari menjadi pimpinan tertinggi umat Islam. Suatu ketika Khalifah Utsman bin Affan mimisan, maka ia memanggil Humran dan berkata kepadanya, “Tulislah surat untuk Abdurrahman bin ‘Auf agar ia menjadi penggantiku.” Ketika Humran bertemu dengan Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata, “Bergembiralah.” “Apa itu?” Tanya Abdurrahman bin ‘Auf. “Sesungguhnya Utsman telah menetapkanmu sebagai penggantinya.”

Mendengar hal itu, lalu Abdurrahman bin ‘Auf berdiri diantara kubur Nabi dan Mimbarnya (raudhah), dia berdoa, “Ya Allah, jika karena penunjukan Utsman kepadaku untuk memegang perkara ini, matikanlah aku sebelum itu.” Setelah itu tidak bertahan enam bulan, beliau wafat sebelum Utsman meninggal karena dibunuh.

“Sebuah gunung telah pergi”, ucap Sa’ad bin Abi Waqqash, ketika berdiri dihadapan jenazah Abdurrahman bin ‘Auf. Seorang sahabat mulia yang telah ditetapkan meraih kebahagiaan dan ampunan semenjak dalam rahim ibunya. Anaknya sendiri meriwayatkan, dari Ibrahim bin Abdirrahman, ia berkata, “Abdurrahman bin ‘Auf pingsan dalam sakitnya sehingga orang-orang mengira nyawanya telah melayang. Mereka pun meninggalkannya dan menutupinya dengan kain. Tiba-tiba Abdurrahman bin ‘Auf sadar dan langsung bertakbir, orang-orang dalam rumah itu juga langsung ikut bertakbir.

Kemudian ia berkata, “Apakah tadi aku pingsan?” orang-orang menjawab, “Ya, benar”. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Dalam pingsanku itu aku dibawa oleh dua orang laki-laki, salah satu dari dua orang itu terlihat kasar dan berwatak keras. Keduanya berkata kepadaku, “Berangkatlah! Kami akan memperkarakanmu kepada yang Maha Perkasa, Maha Dipercaya.” Lalu keduanya membawaku pergi. Bertemulah kami dengan seorang laki-laki dan ia pun bertanya kepada keduanya, “Kemana kalian akan membawa orang ini?” keduanya menjawab, “Kami akan memperkarakannya kepada yang Maha Perkasa, Maha Dipercaya”. Maka laki-laki itupun berkata, “Pulanglah kalian berdua! Karena orang ini termasuk orang-orang yang ditetapkan oleh Allah meraih kebahagiaan dan ampunan ketika masih di dalam rahim ibunya.”

Subhanallah. Itulah keutamaan yang diberikan Allah kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Kita memohon kepada Allah agar diberi jiwa dermawan sebagaimana beliau. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan