Kisah Bilal bin Rabah – Muadzin Pertama Rasulullah

1,404,845

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Bilal bin Rabah – Muadzin Pertama Rasulullah. Allohu Akbar…Allohu Akbar…, lantunan adzan yang senantiasa menjadi pertanda panggilan Allah untuk umat muslim menunaikan kewajibannya, yaitu shalat. Ini bermula ketika kaum muslimin tiba di kota Madinah, mereka berkumpul menunggu shalat tanpa ada panggilan khusus.

Suatu ketika Abdullah bin Zaid bermimpi tentang adzan, lalu ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan mimpi tersebut. Setelah selesai mendengar cerita Abdullah bin Zaid, maka Rasulullah bersabda sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar. Berdirilah bersama Bilal dan ajarkan (lafazh adzan) kepadanya agar dia adzan.

Bilal adalah salah satu sahabat Rasulullah yang sangat dihormati oleh sahabat lainnya meskipun dulunya ia adalah budak. Ketika di Makkah bilal juga berteman baik dengan Wahsyi bin Harb, seorang budak dan juga pembunuh paman Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Namun Islam mengangkat derajatnya, bukan karena pangkat melainkan karena keistiqomahannya memeluk Islam. Diceritakan pada waktu itu Bilal selalu dibawa keluar oleh majikannya di terik panas matahari, ditaruhkannya batu dibadannya, dipakaikan baju besi agar kulitnya kepanasan. Tidak lain hanya untuk membujuk Bilal untuk mengkafiri Nabi Muhammad.

Seolah-olah Bilal ingin mengenalkan kepada seluruh umat manusia, bahwa sekalipun dia dikelilingi oleh dunia dengan segala isinya, dia tidak akan bisa menggoncang iman yang sudah tertancap di dalam hatinya.

Kembali ke kisah Bilal bin Rabah sebagai muadzin Rasulullah. Pada saat waktu shalat tiba, Rasulullah memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan menyerukan adzan di sana. Sungguh keindahan yang luar biasa, seketika nuansa di bumi Makkah berhenti dan ribuan Muslim terdiam seolah-olah mereka adalah satu nyawa yang mengulang-ulang kalimat adzan di belakang Bilal dengan khusyu dan khidmat.

Tak Kuasa Menangis Saat Adzan

Bilal bin Rabah terus menjadi muadzin Rasulullah sampai akhir hayatnya. Namun ketika Rasulullah telah, saat Bilal mengumandangkan adzan dan sampai pada kalimat “Asyadu anna Muhammad Rasulullah”, ia tak kuasa membendung tangisnya dan inipun juga terjadi pada umat muslim pada waktu itu. Ini menjadi gambaran betapa tingginya kecintaan dan kerinduan umat muslim pada waktu itu kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

Setelah hari itu, setiap kali Bilal mengumandangkan adzan dan dia selalu menangis ketika tiba pada kalimat “Asyadu anna Muhammad Rasulullah”. Lantas karena hal tersebut ia memohon kepada Khalifah Abu Bakar As Shiddiq untuk membebaskan dirinya dari tugas sebagai muadzin. Dan ia meminta izin pergi ke Syam untuk berjidah bersama kaum muslim lainnya.

Abu Bakar As Shiddiq enggan untuk memberikan izin tersebut, lantas Bilal berkata,”Jika engkau (dulu) membeliku untuk dirimu sendiri maka tahanlah aku, namun jika engkau membeliku karena Allah maka biarkanlah (aku pergi) dan beramal untuk Allah.” Dengan begitu akhirnya Abu Bakar mengizinkan Bilal pergi.

Kabar Dari Rasulullah

Beramal shaleh adalah selalu yang ada dibenaknya, hingga suatu saat Rasulullah pernah mengabarkan bahwa kedua terompahnya (alas kaki/sandal) dari Bilal sudah terdengar di Surga. Ketika ditanya amalan apa yang ia kerjakan, maka Bilal menjawabnya,”Aku tidak mengamalkan suatu alaman yang menurutku paling bisa diharapkan melainkan aku tidak bersuci di malam atau siang hari kemudian aku mengerjakan shalat yang telah ditentukan bagiku untuk melakukan shalat tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kisah tadi mampu meningkatkan keimanan kita kepada Allah, memperkuat aqidah dan menjadi pelecut semangat untuk selalu beramal shaleh ditengah zaman yang semrawut ini. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan