Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib, Pemimpin Para Syuhada

1,800,514

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib, Pemimpin Para Syuhada. Jihad fii sabilillah, sebuah kalimat mulia yang telah distigmakan buruk oleh musuh-musuh islam agar umat islam lari dari amalan yang mulia ini. Bahkan, setan pun telah menghadang kaum muslimin di jalan ini. Setan berbisik, “Apakah kamu akan berjihad, padahal jihad itu menyusahkan dirimu dan menghabiskan hartamu. Kamu berperang lalu kamu terbunuh sedangkan istrimu akan dinikahi oleh orang lain dan hartamu akan di bagi-bagi. Padahal lisan Rasulullah telah bersabda:

“Pokok dari perkara agama adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat sedangkan puncaknya adalah jihad.” (HR. Tirmidzi)

Karena sudah dipuncak, sampai-sampai tidak ada amal yang sepadan dengan jihad. Ketika itu Rasul ditanya oleh seorang sahabatnya, “Wahai Rasul tunjukan kepadaku suatu amalan yang setara dengan jihad.” Maka Rasul pun menjawab, “Aku tidak menemukannya. Apakah kamu sanggup jika seorang mujahid keluar berjihad fii sabilillah sedangkan kamu masuk dalam masjid lalu kamu menegakan ibadah tanpa henti dan berpuasa tanpa berbuka?” Orang itupun menjawab, “mana ada orang yang sanggup berbuat seperti itu.” (HR. Bukhari)

Lembaran uswah kali ini akan menghadirkan sosok pahlawan islam, pecinta jihad fii sabilillah, seorang panglima perang, pemimpin para syuhada sekaligus sebagai paman Nabi Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib memeluk Islam dan berjuang hingga ajalnya menjemput, sebagaimana yang telah dikisahkan oleh Ibnu Ishaq, bermula dari permusuhan, cacian dan hinaan fisik Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad. Suatu ketika Hamzah berpulang dari berburu, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, namun tawaf dulu di Ka’bah. Setelah selesai tawaf dia melewati sekumpulan orang-orang Quraisy, setiap melewati mereka dia selalu memberikan salam serta berbincang-bincang sebentar. Perlu diketahui bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib merupakan sosok yang dihormati dan ditakuti oleh penduduk Quraisy karena kekuatan dan tekadnya.

Ketika Hamzah melewati hamba sahaya wanita, hamba sahaya itu berkata kepada Hamzah, “Wahai Abu Imarah! Seandainya engkau tadi melihat apa yang didapatkan oleh keponakanmu, Muhammad, dari Abdul Hakam bin Hisyam tadi, dicela, dicaci dan ditimpakan sesuatu yang ia benci sedangkan Muhammad tidak menjawab apapun.”

Maka Hamzah pun marah besar, ia tinggalkan tempat itu tanpa menoleh kepada siapapun yang dilewatinya. Ketika Hamzah masuk ke masjidil Haram, ia melihat Abu Jahal sedang duduk bersama rekan-rekannya. Hamzah lalu mengangkat busurnya dan memukulnya dengan keras ke kepala Abu Jahal. Hamzah berkata kepadanya, “Betapa beraninya engkau mencacinya padahal aku berada di atas agamanya dan aku mengatakan apa yang ia katakan! Balaslah apa yang aku lakukan ini jika engkau berani!”

Baca juga: Akhir Tragis Sang Nabi Palsu, Musailamah Al Kaddzab

Sejak saat itu Hamzah masuk islam dan iman telah bersemayam di dalam hatinya, saat itu juga orang-orang Quraisy jarang yang berani mengusik Nabi Muhammad. Setelah hijrah dan di izinkan Allah untuk berperang, kaum muslimin mulai mengadakan kegiatan militer dan menugaskan sariyah. Rasulullah mengirim pasukan patroli siap tempur 30 prajurit berkuda yang dipimpin oleh Hamzah, tugas itu diberikan oleh Rasulullah untuk mengintimidasi kafilah dagang Quraisy yang menempuh rute perjalanan antara Makkah dan Syam.

Singkat cerita pada Perang Badar, Hamzah berhasil membunuh pemicu perang, yaitu Aswad bin Abdil Asad al Makhzum, seorang lelaki kasar yang berperilaku buruk. Ia berkata, “Aku berjanji kepada Allah, aku pasti minum dari telaga mereka atau aku akan menghancurkannya atau aku akan mati karenanya.” Orang ini maju, Hamzah bin Abdul Muthalib pun menyongsong dan menebasnya, sehingga setengah betis kakinya putus padahal ia belum mencapai telaga.

Aswad bin Abdil Asad al Makhzum ingin memenuhi sumpahnya, tetapi Hamzah mengikutinya dan mengakhirinya di telaga. Di Perang Uhud, Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Pada perang Uhud, Hamzah berperang di hadapan Nabi dengan dua pedang dan ia berkata, “Aku adalah singa Allah.” Angin kematian berhembus di bumi peperangan, saat yang telah Allah takdirkan bagi Hamzah untuk menjemput syahid telah tiba. Di tangan seorang mantan budak Wahsyi bin Harb, Singa Allah ini terbunuh. Hingga Rasulullah bersabda:

“Hamzah adalah pemimpin para syuhada di hari kiamat.” (HR. Al Hakim)

Dan ia pun termasuk syuhada yang disabdakan Nabi Muhammad :

“Ketika saudara-saudara kalian gugur dalam Perang Uhud, Allah menjadikan ruh-ruh mereka di dalam perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai surga, memakan buah-buahannya dan bertengger di lentera-lentera dari emas yang tergantung di bawah naungan Asry. Ketika mereka mandapat makanan, minuman dan tempat tinggal yang baik, mereka berkata, “Siapa yang menyampaikan kepada saudara-saudara kami bahwa kami saat ini hidup di surga dalam keadaan diberi rizki, agar mereka tidak menolak untuk berangkat berjihad dan bersikap menahan diri dari jihad. Allah berfirman, “Aku menyampaikan untuk kalian kepada mereka.” Maka turunlah ayat (yang bunyinya) :

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-Nya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran : 169)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan