Kisah Ibnu Ummi Maktum, Masuk Surga Karena Buta

911,830

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Ibnu Ummi Maktum, Masuk Surga Karena Buta. Salah satu ujian yang cukup berat bagi seorang muslim adalah buta. Karena dengan hilangnya penglihatan akan bisa mengurangi produktivitas amal. Walau demikian, jangan berputus asa apalagi berkelit menghindarkan diri dari keharusan mengoptimalkan kebaikan. Semestinya, kita tanam dalam nurani, “Ya, Allah telah memberiku kelebihan, mataku buta. Dan buta harus bisa menjadikanku sebagai penghuni jannah (surga) paling bahagia.” Allah telah menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang buta yang mau bersabar serta bersyukur atas musibah buta sejak ia dilahirkan di buminya Allah ini.

Artinya: “Wahai anak Adam, apabila Aku ambil kedua matamu lalu engkau bersabar sejak awal terjadi musibah tersebut, dan engkau berharap balasan, maka Aku tidak ridha memberikan pahala untukmu selain surga.” (Hasan shahih: Shahih Al Jami’ no 8143; Shahih Al Adab Al Mufrad no 415)

Juga,

Artinya: “Tatkala Aku ambil kedua mata hambaKu, Aku tidak ridha balasan baginya selain surga jika dia memujiKu atasnya.” (Hasan: Ash-Shahihah no 2010)

Sebuah teladan paling menawan dalam masalah ini adalah Ibnu Ummi Maktum. Beliau adalah sahabat Rasulullah yang ditakdirkan oleh Allah seumur hidup buta. Kendati demikian, dengan kelebihan itu, beliau menempati posisi sosial yang strategis berkat kesungguhannya untuk mengoptimalkan ibadah kepada Allah.

Kisahnya bermula saat awal-awal Islam mensyariatkan shalat jamaah sebagai kewajiban atas setiap lelaki muslim baligh muqim yang tidak terkena uzur syar’i.

Kala itu Ibnu Ummi Maktum menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, saya orang buta, saya memiliki penuntun namun tidak cocok. Apakah ada keringanan bagi saya untuk shalat di rumah saja?” Rasulullah bersabda, “Apakah engkau mendengar adzan?” “Ya”, jawabnya. Maka Rasulullah memutuskan, “Saya tidak menemukan keringanan bagimu.” (HR. Abu Daud)

Di lain kesempatan, Ibnu Ummi Maktum melaporkan alasan lain agar mendapat rukhsah (keringanan) meninggalkan shalat berjamaah lima waktu di masjid,

Artinya: “Wahai Rasulullah, antara rumahku dengan masjid banyak pohon kurma dan semak belukar. Dan tiada ada lagi orang yang dapat menuntunku. Apakah boleh bagiku untuk shalat di rumahku?” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau mendengar iqamah?” Ia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah bersabda, “Kalau begitu datangilah panggilan tersebut.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ketika itu usia Ibnu Ummi Maktum sudah renta.

Artinya: “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai jaminan untukmu. Sungguh aku adalah orang yang telah tua umurnya, rapuh tulangku, hilang pandanganku (buta), dan aku memiliki penuntun yang tidak cocok denganku, apakah engkau memiliki rukhsah untukku agar aku shalat di rumah?” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau mendengar suara muadzin di rumah yang kamu tinggal di dalamnya?” Ia menjawab, “Ya”. Maka Nabi pun bersabda, “Aku tidak menemukan keringanan untukmu. Sungguh kalau orang yang tidak hadir shalat berjamaah ke masjid itu mengetahui apa pahalanya orang yang berjalan menuju shalat berjamaah, niscaya dia akan mendatanginya walaupun merangkak dengan tangan dan kakinya.” (Shahih At Targhib wa At Tarhib 1/247)

Berdasarkan romantika yang dihadapi oleh Ummi Maktum karena kebutaannya ini, mayoritas ulama kemudian berhujjah dengannya dan memutuskan bahwa shalat fardhu lima waktu wajib dilaksanakan secara berjamaah selalu. Di antaranya adalah Ibnu Al-Mundzir yang berkata, “Jika orang yang buta tidak mendapatkan udzur meninggalkan shalat jamaah, maka orang yang memiliki penglihatan normal lebih tidak udzur lagi. Tidak ada keringanan sama sekali baginya.” (Al Ausath Fi As Sunan wa Al Ijma’ wa Al Ikhtilaf 4/132)

Ulama lainnya yaitu Al-Khathabi, “Dalam hadits ini ada dalil bahwa menghadiri shalat jamaah adalah wajib. Kalau saja shalat jamaah itu hanya anjuran, maka yang lebih pantas untuk meninggalkannya adalah orang yang memiliki udzur dan kelemahan atau orang yang seperti Abdullah bin Ummi Maktum.” (Ma’alim As Sunan 1/160)

Setelah beberapa kali meminta rukhsah untuk “tidak mengoptimalkan” shalat fardhu, akhirnya Ibnu Ummi Maktum yang buta ini membulatkan tekad untuk mengoptimalkan setiap shalat fardhu dengan cara selalu berjamaah walaupun beliau sudah tua renta, jarak rumahnya yang jauh dengan masjid, melewati jalanan yang penuh semak belukar dan dengan penglihatan yang hilang.

Ummi Maktum tidak menjadi terpuruk atau kecewa dengan hal itu untuk menghadiri shalat jamaah di masjid. Bahkan beliau menjadi semangat dan karena semangat beliau itulah, Rasulullah lalu menugaskannya untuk menjadi muadzin.

Dari Ibnu Umar

Rasulullah berkata, “Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” Ibnu Umar mengomentari, “Beliau adalah orang yang buta yang tidak akan mengumandangkan adzan sampai ada yang mengatakan kepadanya, ‘Waktu shubuh telah tiba! Waktu subuh telah tiba!’.” (HR. Bukhari)

Ibunda Aisyah juga mengisahkan,

Artinya: “Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan untuk Rasulullah padahal beliau buta.” (HR. Muslim)

Kisah diangkatnya Ummi Maktum sebagai muadzin ini juga dijadikan dasar hukum oleh para ulama tentang bagaimana orang buta menentukan waktu-waktu ibadah, yaitu dengan berijtihad atau dengan bertaqlid kepada orang yang tsiqah (kredibel) yang memberitahukan tentang hal itu.

An Nawawi juga menjelaskan, “(Ketika tidak mengetahui waktu shalat) orang yang buta tetap terkena kewajiban yang sama dengan orang yang bisa melihat….orang buta berijtihad seperti orang yang melihat dalam masalah waktu shalat, jika memang tidak ada orang tsiqah yang menyaksikan (waktu shalat) lalu memberitahukannya (kepadany)… (jika ada orang tsiqah yang memberitahunya) maka ia tidak boleh berijtihad, melainkan wajib melaksanakan pemberitahuan tersebut.” (Al Majmu’ 2/72)

Kembali ke kisah Ibnu Ummi Maktum, merasa mendapatkan kepercayaan agung dan perhatian khusus dari Rasulullah, Ibnu Ummi Maktum semakin bersemangat menyiarkan Islam. Beliau senantiasa istiqamah melazimi perintah Rasulullah untuk menjadi muadzin. Selanjutnya, menyaksikan keteguhan Ummi Maktum dalam menjalankan Islam dalam keadaan buta, akhirnya Ummi Maktum diserahi tugas untuk menjadi imam rawattib sekaligus khalifah pengganti sementara untuk kota Madinah. Aisyah dan Anas bin Malik menyebutkan, “sesungguhnya Nabi mengangkat Ibnu Ummi Maktum (menjadi khalifah pengganti sebanyak dua kali) untuk kota Madinah dan mengimami orang shalat.” (HR. Abu Daud)

Berkisah dari Ibnu Ummi Maktum ini, jika ada saudaraku yang muslim diberi “kelebihan” dengan kebutaan, ingatlah akan janji Allah, Allah akan mengganti kebutaan yang sementara itu dengan surga yang abadai dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dalam video ini mengkisahkan seorang yang buta tetap istiqamah untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid dengan bantuan seutas tali yang dibentangkan antara rumah dan masjid.

Semoga Allah memberikan kesabaran dan kemuliaan terhadap hamba-hambanya yang diberikan “kelebihan” yang mungkin di mata manusia itu adalah sebuah kekurangan. Aamiin.

Jangan langsung tutup, coba baca ulasan di bawah ini untuk menambah wawasan keilmuan agama Anda!

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan