Kisah Prajurit Muslim Jatuh Cinta Kepada Wanita Nasrani

609,067

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Prajurit Muslim Jatuh Cinta Kepada Wanita Nasrani. Jalan hidayah ini memang jalan yang lurus. Straight, langsung dan pasti menuju Jannah (surga). Hanya saja, ini bukanlah lintasan sprint yang pendek dan bisa ditempuh dengan puluhan langkah kaki. Jalan ini panjang dengan akhir yang tak seorang manusia pun tahu karena finishnya adalah kematian. Istiqamah berarti tetap menempuh jalan hidayah hingga ajal tiba. Lain dari itu, jalan ini juga tidak selalu mulus tanpa penghalang, ada jerat yang bisa menjerembab, ada lubang atau sandungan yang bisa menjatuhkan dan mungkin juga duri yang begitu menyiksa.

Rintangan inilah yang akan menyeleksi setiap hamba Allah di muka bumi ini, ada yang terjatuh, namun bangkit lagi. Ada yang kakinya terluka, tetapi tetap tegar menapaki jalan hidayah dan tak tertarik untuk berhenti apalagi menyimpang ke jalan lain (sesat). Dan sebagian besar juga yang lain tak tahan menghadapi rintangan dan godaan sehingga memilih jalan lain yang ia rasa mengenakkan. Tentu saja kedua golongan orang ini tidak akan menemui finish yang sama, yang istiqamah akan menemui akhir perjalanan menyenangkan berupa jannah (surga) dan yang berbelok akan sampai di neraka.

Istiqamah - jalan yang lurus

Ada beragam kisah mengenai mereka yang berguguran di jalan hidayah. Ada yang gugur di tengah perjalanan, ada pula yang membelok arah padahal garis finish tinggal selangkah. Kisah seorang prajurit muslim yang jatuh hati kepada putri Nasrani merupakan contoh manusia yang gugur pada tahun 279 H. Berikut kisah selengkapnya sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Katsir.

“Pada tahun itu wafatlah Abduh bin Abdirrahim. Ibnu Jauzi menceritakan bahwa orang celaka ini pada awalnya adalah mujahidin, banyak berjihad ke negeri Romawi. Suatu ketika kaum muslimin sedang mengepung salah satu daerah kekuasaan Romawi. Tiba-tiba dia melihat seorang wanita Romawi di benteng yang tengah-tengah dikepung. Prajurit itu terpikat kepadanya lalu melemparkan surat kepada wanita yang berbunyi, “Bagaimana caara mendapatkan dirimu?” Dijawab oleh wanita tersebut, “Hendaknya engkau beragama Nasrani kemudian naik ke benteng menemuiku.”

Si prajurit tersebut setuju. Setelah itu, setiap kali tentara Islam berpatroli, memergoki si prajurit sedang bersama wanita tersebut. Hal itu membuat prajurit lain jengkel dan terpukul. Berlalu sekian lama, terlihat bahwa si prajurit telah berada di dalam benteng bersama si wanita. Para prajurit lain bertanya, “Wahai fulan, bagaimana dengan Qur’anmu? Bagaimana dengan ilmumu? Bagaimana dengan shaummu? Bagaimana dengan jihadmu? Bagaimana dengan shalatmu?” Si prajurit itu menjawab, “Ketahuilah, saya telah lupa seluruh hafalan al-Qur’an kecuali firman-Nya

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka ( di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr: 2-3). Sedangkan saya bersama mereka mendapatkan harta dan anak.

Adapun yang gugur dari jalan istiqamah saat garis finish tinggal selangkah, contohnya adalah kisah Shalih al Muadzin. Ibnul Jauzi menceritakan:

“Telah sampai kepadaku tentang seorang lelaki di Baghdad yang di panggil Shalih al-Muadzin. Dia menjadi muadzin selama 40 tahun dan dia dikenal dengan orang yang shalih. Suatu hari ia menaiki menara masjid untuk mengumandangkan adzan. Tiba-tiba dia melihat anak wanita seorang Nasrani yang rumahnya berdekatan dengan masjid, maka laki-laki itu tergoda olehnya. Dia pun mendatangi dan mengetuk pintu. Si wanita bertanya, “Siapakah Anda?” Dia menjawab, “Saya Shalih al-Muadzin.” Pintu pun terbuka untuknya, dan begitu masuk dia langsung mendekatkan wanita itu ke tubuhnya, lalu si wanita berkata, “Kamu menganggung amanat, perbuatan khianat macam apa ini?”

Laki-laki itu berkata, “Kalau kau menurut, kau akan selamat, tapi jika menolak, kau akan kubunuh.” Si wanita berkata, “Aku tak sudi menurutimu kecuali jika kamu meninggalkan agamamu.” Laki-laki itu berkata, “Saya murtad dari Islam dan apa yang dibawa oleh Muhammad.” Laki-laki itu mendekat si wanita, lalu si wanita berkata, “Kamu mengatakan itu semata-mata supaya tercapai tujuanmu, lalu kamu akan kembali kepada agamamu. Kalau memang serius, makanlah daging babi!” Laki-laki itu pun makan daging babi. Si wanita berkata, “Minumlah khamr!” Laki-laki itu pun minum khamr.

Ketika khamr telah masuk ke perutnya, dia mendekati si wanita, tetapi wanita itu masuk dan menutup pintu rumahnya sembari berkata, “Naiklah ke atas loteng sampai datang ayahku untuk menikahkanmu denganku.” Laki-laki itu pun naik ke loteng, lalu terjatuh dan mati. Wanita itu keluar dan menutupkan kain ke mayatnya. Ketika ayahnya datang, wanita itu menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Sang ayah mengeluarkan mayat tersebut di waktu malam dan membuangnya di perkebunan. Namun karena jasadnya terlihat, akhirnya jasad itu dilemparkan ke pembuangan sampah.”

Tragis, benar-benar akhir yang tragis. Tinggal sejengkal lagi ajal tiba, tapi amal terakhir yang dilakukannya adalah membelokkan langkah menuju neraka. Wal’iya zubillah.

Oleh karenanya, hendaknya kita senantiasa menjaga diri agar tetap istiqamah, tegak berada di atas jalan kebenaran atau terus berusaha menapaki kebenaran dan hidayah sampai kapan pun. Dengan begitu, ketika ajal datang suatu saat nanti, kita masih berada di jalan hidayah. Wallahul musta’an.

2 Comments
  1. Asakk@gmail.com says

    Mohon maaf tulisanWal’iyaqzubillah itu yang di atas sudah benar ta

    1. Admin says

      Alhamdulillah sudah kami koreksi dan benarkan, sebelumnya kami ucapkan terima kasih telah mengingatkannya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan