Kisah Rufai bin Mihran, Dari Budak Menjelma Ulama

706,100

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Rufai bin Mihran, Dari Budak Menjelma Ulama. Ia lahir di Persia yang ketika itu di bawah pemerintahan Dinasti Sasanid. Mereka itu tidak lain adalah para penyembah Api. Rufai bin Mihran lahir dan tumbuh besar dalam negeri itu. Hingga tibalah masa kekhalifahan Abu Bakar. Beliau memerintahkan sahabat Khalid bin Walid untuk membebaskan bumi Persia dari tangan para penyembah berhala tersebut.

Majulah para tentara muslim yang dipimpin Khalid bin Walid ke negeri Persia yang ketika itu diperintah oleh Kisra Yezdegrid III, seorang kaisar penyembah berhala yang sombong. Kaum muslim mampu menggempur tentara Persia sampai tempat dimana Rufai bin Mihram tinggal. Perang pun pecah dalam wilayah tersebut dan akhirnya jatuh ke tangan tentara muslim.

Rufai bin Mihran yang saat itu jatuh ketangan kaum muslim sebagai tawanan perang dibawa ke Madinah dan akhirnya menjadi budak dari seorang wanita golongan bani Tamim. Hingga pada suatu hari jum’at, Rufai bin Mihran berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian meminta izin kepada majikannya untuk pergi. Majikannya hendak bertanya: “Hendak kemana wahai kamu Rufai?” Rufai menjawab, “Saya hendak ke masjid.”. Majikannya kembali bertanya: “Masjid manakah yang kamu maksud?” Jawabnya: “Masjid Jami”. Majikannya menjawab: “Kalau begitu marilah berangkat bersamaku”.

Ketika kaum muslimin telah berkumpul, majikan Rufai angkat bicara: “Saksikanlah wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memerdekakan budakku ini karena mengharap pahala Allah, memohon ampunan dan ridha-Nya. Dab bahwasannya tidak layak seseorang menempuh suatu jalan melainkan jalan yang baik.” Lalu dia menoleh kepada Rufai seraya berdoa kepada Allah :’

“Ya Allah, aku menjadikan ia tabungan di sisi-Mu di hari yang tiada manfaatnya harta dan anak-anak.”

Maka ketika selesai shalat, Rufai telah berjalan sendiri sedangkan majikannya telah berjalan sendiri pula. Sejak dia merdeka, Rufai bin Mihran sering bolak-balik ke Madinah. Beliau bertemu dengan Abu Bakar As-Shiddiq beberapa saat sebelum wafatnya. Beliau juga sempat bertemu Umar, belajar Al-Qur’an darinya, dan shalat dibelakangnya.

Selain rajin belajar Al-Qur’an beliau juga aktif belajar hadits. Beliau berusaha mendengarkan hadits dari para thabi’in di Basrah. Beliau juga sering pergi ke Madinah untuk belajar haditss langsung dari para sahabat Nabi, yang ketika itu banyak tinggal di Madinah. Sebenarnya Rufai ingin sekali bertemu dengan Rasulullah, namun ‘manusia terbaik’ itu telah tiada.

Beliau termasuk orang yang kekeh mencari ilmu, jika ada orang yang berilmu maka Rufai langsung datang menemuinya. Dia shalat dibelakang beliau, jika orang tersebut shalatnya tidak sungguh-sungguh, tidak konsisten dan mengabaikan hak-hak shalat maka dia mengurungkan niatnya untuk mengambil hadits darinya.

Suatu hari Rufai bertekad untuk pergi berjihad fii sabilillah. Maka beliau mempersiapkan segala peralatan tempurnya. Keesokan harinya, beliau mendapatkan kakinya terasa sakit dan terus bertambah sakit. Hingga ada seorang tabib yang menjenguk dan memeriksanya, tabib itu berkata, “ini terkena akhlah?” Rufai berkata, “Apa itu akhlah?” Tabib itu menjawab, “Yakni penyakit yang akan mematikan sel-sel dan merambat sedikit demi sedikit hingga ke seluruh tubuh.” Kemudian tabib itu meminta persetujuan untuk memotong kakinya hingga setengah betis, maka beliaupun menyetujuinya.

Maka tabibpun menyiapakan peralatan amputasi seperti pisau dan gergaji. Kemudian tabib itu berkata, “Maukah Anda minum bius agar Anda tidak merasakan sakit tatkala dipotong nanti?” beliau menjawab, “Namun ada yang lebih baik untukku daripada itu.” Tabib bertanya, “Apa itu?” beliau berkata, “Carilah untukku seorang qari’ yang membacakan kitabullah, mintalah dia untuk membacakan ayat-ayat yang mudah dan jelas. Jika kalian melihat wajahku telah memerah, pandanganku mengarah ke langit, maka berbuatlah sesukamu.” Maka merekapun melaksanakan permintaan dari Rufai tersebut.

Tatkala selesai amputasi, tabib itu berkata kepada Rufai, “Seakan Anda tidak meraskan sakit saat di amputasi.” Beliau menjawab, “Karena saya tersibukkan oleh sejuknya kecintaan kepada Allah, merasakan kelezatan dari apa yang aku dengar dari kitabullah, sehingga melupakan panasnya gergaji.”

Subnanallah beginilah gambaran ulama terdahulu yang hanya dengan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mampu menghilangkan rasa sakit yang luar biasa. Begitulah gambaran orang-orang yang mengutamakan Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan yang lain, kecintaan mereka mampu menghilangkan kesakitan yang amat perih.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan