Kisah Abdullah bin Mas’ud, Ulama Mantan Penggembala Kambing

239,225

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Abdullah Bin Mas’ud, Ulama Mantan Penggembala Kambing. Siang itu sangat terik, nampak dari kejauhan dua lelaki dewasa mendekati seorang anak penggembala yang sedang menggembala kambing. Dua lelaki itu tidak lain adalah Rasulullah dan sahabat setianya Abu Bakar As-Shiddiq. Keduanya yang merasa sangat kehausan berkata pada si penggembala, “Wahai anak muda, tolong perahkan untuk kami susu kambing itu agar rasa haus dan keringnya kerongkongan segera hilang.” Anak muda yang bernama Abdullah bin Mas’ud tersebut menjawab, “Saya tidak bisa melakukannya. Kambing-kambing ini bukan milikku. Sedangkan saya dipercaya merawatnya.”

Rasulullah lalu bersabda, “Tunjukkan padaku kambing yang belum keluar air susunya.” Abdullah bin Mas’ud atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Ummi Abdin pun menunjukkan seekor kambing yang masih kecil.

Rasulullah lantas maju dan mengusap puting susu kambing tersebut dengan menyebut nama Allah. Tiba-tiba puting susu tersebut membesar dan penuh berisi air susu. Satu kejadian yang sangat mengagetkan Abudullah bin Mas’ud. Kemudian beliau bersama sahabatnya meminum air susu tersebut, lalu Abdullah juga ikut meminumnya.

Setelah cukup puas, beliau bersabda, “Kempeslah.” Maka puting susu kambing tersebut kembali mengempes seperti sedia kala. Melihat kejadian yang menakjubkan tersebut, Abdullah bin Mas’ud tertarik untuk belajar kepada dua orang yang belum begitu dikenalnya. Ia berkata, “Ajarilah saya ilmu yang tadi anda lakukan.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang anak muda yang akan diberi ilmu.”

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Abdullah bin Mas’ud kemudian mengikrarkan keislamannya di hadapan Rasulullah. Bahkan ia menawarkan diri untuk menjadi pembantu yang berkhidmat untuk kepentingan beliau. Tawaran itu diterima oleh Rasulullah, dan sejak saat itu Abdullah bin Mas’ud hampir tidak pernah berpisah dengan Rasulullah.

Kesempatan hidup bersama Rasulullah tidak disia-siakan. Ibnu Ummi Abdin berusaha mengambil telaga ilmu yang berada di hadapannya. Bacaan Al-Qur’annya pun sangat bagus sehingga Rasulullah memujinya, “Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an persis seperti ketika ia turun, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdin.” Selain menguasai bacaan Al-Qur’an, beliau juga sangat paham tentang tafsir dan makna masing-masing ayat. Beliau pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia. Tidaklah ada satu ayat dari ayat-ayat Allah, kecuali saya mengetahui di mana ayat tersebut turun, dan tentang apa diturunkan. Sekiranya saya tahu ada orang lain yang lebih tahu dariku tentang kitab Allah dan memungkinkan untuk sampai padanya, tentulah saya akan mendatanginya.”

Selain ahli ilmu dan ahli ibadah, Abdullah bin Mas’ud juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk menyampaikan kebenaran. Tercatat, beliaulah sahabat pertama yang berani membaca Al-Qur’an dengan suara keras di hadapan orang-orang Quraisy setelah Rasulullah.

Dikisahkan bahwa para sahabat Rasulullah saat di Mekkah sedang berembuk. Mereka berkata, “Demi Allah, orang Quraisy itu belum pernah mendengar Al-Qur’an dibaca dengan suara lantang. Siapa yang berani memperdengarkan kepada mereka?” Abdullah bin Mas’ud dengan sigap menjawab, “Saya siap memperdengarkan Al-Qur’an pada mereka.” Para sahabat menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami inginkan adalah yang memiliki backing kuat dari keluarganya.” Beliau menimpali, “Biarkan saya saja, sesungguhnya Allah-lah yang akan menjaga dan melindungiku.”

Kemudian di pagi hari yang cerah, Abdullah bin Mas’ud datang ke Ka’bah dan membaca awal surat Ar-Rahman di maqam Ibrahim. Kontan para pembesar Quraisy marah dan memukulinya sampai babak belur. Abdullah pun datang menemui para sahabatnya, mereka berkata, “Inilah yang kami khawatirkan atasmu.” Abdullah menjawab, “Demi Allah, sekarang dalam pandanganku tidak ada musuh Allah yang lebih rendah dari mereka, jika kalian menghendaki, besok saya akan lakukan hal yang sama.” Tetapi para sahabat mencegahnya.

Hari-hari berikutnya Abdullah bin Mas’ud tetap setia membantu Rasulullah, memakaikan sandal dan melepaskannya, membawa tongkat, menutupi beliau saat buang air, mengambilkan air wudhu dan berbagai pekerjaan lainnya. Beliau juga tidak pernah absen dari medan jihad yang ada. Pantas, meskipun beliau memiliki tubuh yang kecil tetapi bobot amalnya kelak di hari Kiamat sungguh amat besar. Sebagaimana disebutkan bahwa pada suatu hari beliau memanjat pohon untuk mengambil kayu siwak. Ketika ada angin berhembus, tersingkaplah betisnya yang kecil, sehingga para sahabat lain mentertawakannya.

Rasulullah menukas, “Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, betisnya sangat kecil.” Beliau bersabda, “Demi yang jiwaku ada pada-Nya, kedua betisnya tersebut lebih berat daripada gunung Uhud pada timbangan hari Kiamat.”

Sepeninggal Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud tetap berkhidmat untuk Islam. Bahkan beliau menjadi rujukan umat karena kedalaman ilmu yang dimilikinya. Sebagaimana dipersaksikan salah seorang tabi’in, Masruq yang berkata, “Saya perhatikan bahwa ilmu para sahabat berkumpul pada diri Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.” Beliau sering memberi wejangan-wejangan berharga kepada orang yang hidup semasa dengannya. Diantara wejangan beliau ialah, “Sesungguhnya saya sangat benci kepada seseorang yang tidak memiliki aktivitas apapun, tidak melakukan aktivitas keduniaan dan juga tidak melakukan amal untuk akhirat.”

Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang shalatnya tidak memerintahkannya untuk berbuat makruf dan mencegahnya dari kemungkaran maka shalatnya tidak menambah baginya kecuali semakin jauh dengan Allah.” Beliau juga menasehati para pencari ilmu, “Ilmu bukan sekedar banyak meriwayatkan tetapi ilmu adalah tumbuhnya rasa takut.”

Pada satu malam, setelah beberapa saat menderita sakit, Abdullah bin Mas’ud mengembuskan nafas yang terakhir di kota Madinah dengan lisan basah berdzikir kepada Allah. Kaum muslimin pun berduyun-duyun menshalatinya dan mendoakan keberkahan baginya.

Selamat atasmu wahai Ibnu Ummi Abdin. Engkau telah menanam tanaman kebaikan dan amal shalih. Tentunya sekarang sebagian buahnya telah engkau rasakan. Semoga kita tidak terhalangi untuk menapak jejak kiprah beliau untuk memperjuangkan agama Allah yang agung ini, yaitu Islam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan