Kisah Wahsyi Bin Harb – Kesempatan Kedua Pasti Ada

852,843

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Wahsyi Bin Harb – Kesempatan Kedua Pasti Ada. Tokoh yang akan kita bicarakan ini ialah Wahsyi bin Harb, dialah pembunuh dari paman Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib. Tapi hal itu terjadi ketika Wahsyi belum mendapatkan hidayah dan memeluk islam. Orang seperti Wahsyi tidak hanya ada satu, banyak yang dulu sangat membenci Islam setengah mati. Namun pada akhirnya Allah menghendaki mereka mengucapkan syahadat dan berbalik membela agama Allah, yaitu Islam.

Pada mulanya, Wahsyi bin Harb hanyalah seorang budak milik Jubair bin Muthim. Majikannya tersebut merupakan salah satu suku Quraisy di Makkah. Jubair bin Muthim memiliki paman yang bernama Thaimah bin Ady yang tewas pada saat perang Badar. Dendam tersebut tidak terlupakan oleh Jubair bin Muthim karena pada saat itu ia juga ikut berperang. Karena sebab itu dia menjanjikan kepada Wahsyi jika berhasil membunuh Hamzah, maka dia akan merdeka.

Bagi Wahsyi janji tersebut merupakan harga mati untuk merdeka dari perbudakan, karena seorang budak pada waktu itu tidak memiliki kuasa apa-apa, bahkan atas dirinya sendiri. Hidup sebagai budak merupakan takdir yang tak mengenakan bagi Wahsyi.

Pada waktu terjadinya perang Uhud dan Wahsyi ikut perang tersebut, dalam ingatannya ia hanya memikirkan janji untuk membunuh Hamzah agar terbebas dari perbudakan. Saat pertempurah pecah dan kedua tentara saling mengadu pedang, Wahsyi hanya tertuju pada seorang saja, yaitu Hamzah.

Saat itu Wahsyi menyaksikann Hamzah bertarung dengan tentara Quraisy, dengan kedua pedang masing-masing ditangan kiri dan kanan Hamzah seolah tidak ada yang bisa menghentikannya. Wahsyi mengambil posisi yang tepat untuk mengayunkan tombak yang diarahkan ke paman Nabi tersebut. Sebelum melempar seorang prajurit Quraisy lain yang bernama Siba’ bin Abdul Uzza menghalangi lemparannya. Ternyata ia juga bernafsu ingin membunuh Hamzah, namun tentara tersebut tidak berdaya melawan Wahsyi. Hanya dengan sekali sabet kepala Siba’ pun putus dari tubuhnya.

Saat itulah, Wahsyi menemukan momen yang tepat untuk melemparkan tombaknya. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan tombak tersebut tepat ke arah Hamzah. Tombak itupun menembus tubuh Hamzah dan sang singa Allah pun jatuh tersungkur meregang nyawa.

Tuntas sudah misinya, lunas sudah harga untuk meraih status merdeka. Setelah perang usai, semua pasukan Quraisy kembali begitu juga dengan Wahsyi, ia tidak sabar untuk mengabarkan berita tersebut kepada Jubair. Saat itu Wahsyi tidak tahu jika setelah Hamzah jatuh tak bernyawa, Hindun binti Utbah memotong hidung dan telinga Hamzah, membelah tubuhnya dan mengeluarkan seluruh isi perut Hamzah. Hindun melakukan hal tersebut untuk membalas dendam kematian ayahnya yang tewas dalam perang badar ditangan Hamzah bin Abdul Muthallib.

Kesempatan Kedua

Setelah itu, Wahsyi menjadi manusia merdeka yang statusnya sama dengan penduduk Quraisy pada waktu itu. Ia menikmati betul kehidupan barunya sebagai manusia merdeka. Lima tahun berselang saat Rasullullah dan para penduduk madinah menuju ke Makkah atau yang dikenal dengan Fathu Makkah. Wahsyi pun teringat dengan kesalahannya yang telah membunuh paman Nabi tersebut, akhirnya dia melarikan diri ke Thaif. Tetapi warga Thaif seluruhnya menyerah dan masuk Islam, Wahsyi tidak tahu lagi kemana dia harus melarikan diri.

Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada saat itu Rasullullah mengirim orang untuk menyampaikan pesan kepada Wahsyi, tidak lain untuk mengajaknya masuk Islam bukan untuk membunuh Wahsyi.  Wahsyi pun datang menemui Rasulullah dengan penuh ketakutan dan rasa bersalah.

“Wahai Rasullullah Anda mengajak saya masuk Islam, tapi Anda menyakini bahwa orang yang membunuh, syirik atau berzina akan mendapatkan pembalasan pada hari kiamat nanti. Dia juga kekal di neraka sebagai makhluk yang hina. Sedangkan aku melakukan semua perbuatan itu, apakah aku mendapatkan keringanan?” Wahsyi mengatakan hal tersebut merujuk kepada surat Al-Furqon : 69.

Kemudian Allah menurunkan ayat untuk melanjutkan ayat yang menjadi beban bagi Wahsyi, yang isinya

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh.” (QS. Al-Furqon : 70)

Ayat ini menjadi kabar gembira, namun Wahsyi masih tidak enak dengan betapa kesalahan yang ia perbuat, khususnya karena membunuh paman Rasulullah.

“Wahai Muhammad, saya tidak tahu apakah nanti Allah akan mengampuniku?”

Kemudia Rasullullah membacakan satu ayat lagi,”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar : 53)

Nabi berhasil menyakinkan Wahsyi untuk mengucapkan kalimat Syahadat sebagai syarat masuk Islam. Pada waktu itu Nabi juga meminta Wahsyi untuk menceritakan bagaimana ia bisa membunuh paman Nabi tersebut?

Wahsyi mengerti betul perasaan Nabi yang sangat sedih karena perbuatannya menghilangkan nyawa Hamzah sehingga ia menjauhkan diri dari Rasulullah. Pada kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq terjadi pemberontakan dan pemurtadan besar-besaran dari kaum muslimin, Bani Hanifah mengakui Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai Nabi, kemudian Abu Bakar As-Shiddiq memerangi Musailamah Al-Kadzdzab.

Wahsyi merasa inilah waktu yang tepat untuk menembus kesalahannya yang lalu. Sama seperti pada saat perang Uhud, pada perang Yamamah ini Wahsyi hanya mengincar satu target utamanya yaitu Musailamah Al Kadzdzab. Atas izin Allah dengan cara yang sama saat membunuh Hamzah, ia melemparkan tombaknya sekuat tenaga menuju sang Nabi palsu dan akhirnya tersungkur ke tanah tak bernyawa.

Demikian tadi kisah yang dari Wahsyi bin Harb yang bisa kita ambil hikmah. Selalu ada kesempatan kedua untuk menembus kesalahan, selalu ada jalan keluar dari masalah dengan mendekat kepada Allah, selalu ada waktu untuk tobat sebelum ajal menjemput. Sekian dan terima kasih.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan