Kisah Zubair Bin Awwam, Sang Pembela Rasulullah

11,016

BERANIDAKWAH.COM | Kisah Zubair Bin Awwam, Sang Pembela Rasulullah. Siang itu cukup terik, di tengah panasnya udara Makkah, nampak seorang anak berusia dua belas tahun berjalan dengan menghunuskan pedangnya. Ia terus berjalan sampai bertemu orang yang dicintainya, yaitu Rasulullah. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” “Tadi ada berita bahwa Anda terbunuh ya Rasulullah, dan saya hendak menuntut balas atasnya.”

Begitulah semangat remaja Islam tempaan Rasulullah. Remaja yang masuk Islam sejak usia delapan tahun ini tidak rela jika Nabinya disakiti, dan bahkan ia siap untuk menumpahkan darah demi membelanya. Putra Shafiyah binti Abdul Muthalib ini memang tidak tanggung-tanggung dalam membela Rasulullah, sehingga beliau pernah bersabda, “Setiap Nabi memiliki hawari (pembela), dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Ketegaran Zubair bin Awwam dalam membela Islam tidak diragukan lagi. Sejak awal keislamannya, tantangan telah ia hadapi. Keislamannya mendapat tantangan keras dari sebagian keluarganya. Bahkan sebagian pamannya menyekapnya dalam sebuah kamar lalu mengasapi kamar tersebut sehingga membuat nafas Zubair tersengal-sengal. Namun Zubair tidak bergeming dengan intimidasi yang dilakukan keluarganya tersebut, bahkan dengan tegas ia katakan kepada pamannya, “Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan agama Islam selamanya.” Melihat ketegaran Zubair, akhirnya pamannya pun melepaskan dan membiarkannya.

Zubair bin Awwam juga termasuk rombongan kaum muslimin yang menyelamatkan agamanya berhijarah ke Habasyah sebanyak dua kali. Kemudian pada akhirnya berhijrah ke Madinah. Setelah kaum muslimin berhijrah ke Madinah dan memiliki kekuatan, maka episode berikutnya adalah berjihad melawan kekuatan kekafiran yang tidak rela tegaknya syariat Islam di atas muka bumi ini. Perang pertama yang menentukan adalah perang Badar. Dan Zubair bin Awwam adalah salah satu anggota pasukan yang ikut serta.

Dalam perang Badar tersebut Zubair bin Awwam melakukan perang tanding dengan jagoan Quraisy, yaitu Ubaidah bin Sa’id bin Ash, yang seluruh tubuhnya berbalut baju besi, kecuali matanya. Adu kekuatan pun terjadi, dan Zubair bin Awwam berhasil menusuk mata Ubaidah sehingga menemui ajalnya.

Adapun pada perang Uhud, tampak seorang jagian Quraisy yang begitu kuat menghabisi banyak tentara kaum muslimin. Melihat hal itu beliau bersabda, “Bangkit dan lawan orang itu wahai Zubair.” Zubair bin Awwam pun menuju kepada jagoan tersebut. Kemudian beliau melompat dan menerkamnya sehingga keduanya jatuh bergulingan di tanah. Zubair berhasil duduk di atas dada orang tersebut lalu membunuhnya. Rasulullah puas dengan keberhasilan Zubair dan bersabda, “Jaminanmu adalah paman dan bibiku.”

Sedangkan saat perang Khandaq, Rasulullah meminta salah seorang sahabat untuk memata-matai musuh. Maka yang menyanggupkan diri adalah Zubair bin Awwam. Hal itu beliau lakukan sampai dua atau tiga kali sehingga Nabi bersabda, “Setiap Nabi memiliki pembela dan pembelaku adalah Zubair.”

Kemudian tibalah masanya perang Khaibar. Perang yang terjadi antara kaum muslimin dan kaum yahudi yang begitu pongah. Saat itu, seorang jagoan Yahudi yang bernama Yasir menantang perang tanding dengan melantunkan bait syair tantangan: “Penduduk Khaibar telah tahu bahwa aku adalah Yasir. Jago memainkan senjata dan pahlawan yang akan menghancurkan musuh.”

Zubair langsung maju menghadapi tantangan si Yahudi tersebut. Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga ikut serta dalam peperangan mendekati Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, ia akan membunuh anakku.” Rasulullah bersabda, “Bahkan anakmulah yang akan membunuhnya.”

Perang tanding dahsyat pun tidak terelakkan. Saling sabet pedang pun terjadi sehingga pada akhirnya pedang Zubair berhasil menghujam ke bahu Yasir sehingga ia menemui ajalnya. Zubair pun kembali mendekati Rasulullah, dan beliau pun menyambut hangat kemenangan Zubair. Pertempuran lain yang diikuti Zubair diantaranya adalah perang Yarmuk. Saat itu para sahabat berkata kepada Zubair, “Tidakkah engkau menggempur musuh dan kami akan bersamamu.” Zubair berkata, “Jika aku menggempur musuh, kalian tentu akan meninggalkanku.” Mereka menjawab, “Tidak, kami akan bertempur bersamamu.”

Maka Zubair pun merengsek maju menggempur musuh sehingga pasukan musuh terbelah. Pedangnya berkelebat kelebat mencari mangsa siapa saja yang dijumpainya. Para sahabat lainnya pun tertinggal dari Zubair sehingga beliau merengsek sendirian. Tak berapa lama kemudian beliau kembali kepada pasukan dan pundaknya telah menganga terkena sabetan musuh.

Baca Juga: Kisah Abdullah Bin Mas’ud, Ulama Mantan Penggembala Kambing

Selain seorang prajurit handal, Zubair juga memiliki sifat dermawan yang tinggi. Dikisahkan bahwa beliau memiliki seribu budak yang mengerjakan lahan pertaniannya, tetapi tidak ada satupun hasilnya yang masuk ke rumah beliau. Semuanya diinfakkan pada jalan Allah, begitu pula beliau pernah menjual satu rumah seharga enam ratus ribu dinar, tetapi semuanya itu diinfakkan kepada fakir miskin.

Waktupun terus berjalan, satu persatu orang dekat Zubair telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Kemudian tibalah saatnya kepemimpinan dipegang oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Pada saat itulah terjadi fitnah pertempuran antara sesama muslim. Satu pihak dipimpin sahabat Ali dan pihak lainnya di pimpin Aisyah. Pertempuran yang terjadi akibat provokasi dari Abdullah bin Saba’ yang sebelumnya juga telah memprovokasi sehingga sahabat Ustman terbunuh.

Zubair bin Awwam saat itu berada di pihak Aisyah. Kemudian beliau memilih mundur ke belakang menghindari pertempuran. Tetapi kemudian ia dibunuh oleh Amru bin Jurmuz saat beliau sedang lengah. Usianya berakhir pada tahun ke-67 setelah sebelumnya sejak kecil telah menjual jiwa dan raganya untuk Allah.

Bergembiralah wahai Zubair karena engkau termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Semoga kita mampu meniru teladan yang satu ini tentang kegigihan dan ketegaran beliau dalam membela Rasulullah. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan