Kriteria Model Busana Wanita Terbaik

801,669

BERANIDAKWAH.COM | Kriteria Model Busana Wanita Terbaik. Sejauh ini model busana wanita muslimah sangat beragam,tiap tahun muncul model-model busana muslimah yang baru dan bagus. Di Indonesia sendiri bahkan menjadi salah satu trend setter busana muslimah di dunia. Namun demikian, hendaknya kita harus berhati-hati karena tidak setiap busana yang berlabel “Baju Muslimah” benar-benar telah sesuai dengan aturan Islam (syar’i).

Oleh karena itu ada baiknya bila sebagai muslimah mengetahui aturan-aturan syar’i tentang pakaian muslimah untuk mengukur apakah sebuah model busana layak disebuh sebagai baju muslimah yang benar atau belum. Berikut ini setidaknya ada 3 kriteria untuk memilih baju muslimah syar’i.

Pertama, Menutup Aurat

Rasulullah bersabda, “… sesungguhnya apabila wanita telah baligh (sudah haid) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini, sambil mengisyaratkan kepada muka dan telapak tangannya.” (HR. Abu Daud)

Dikatakan menutup aurat jika baju tersebut berbahan tidak transparan (tebal) dan bentuknya longgar alias tidak mencetak lekuk tubuh saat dipakai. Dari seabrek model busana muslimah yang ada, seringnya ada cela pada salah satu atau kedua karakteristik “menutup aurat” tersebut. Ada yang longgar dan lebar, tapi bahannya tipis dan transparan. Meski memakai manset dan legging di dalam, tapi tetap saja hal ini tidak dibenarkan secara syar’i karena memperlihatkan lekuk tubuh.

Yang lain bahannya tebal atau tidak transparan, tapi ketat dan justru akan lebih terkesan seksi dan tidak syar’i.

Kedua, Warna Yang Tidak Mencolok

Tidak harus hitam karena para shahabiyah juga pernah memakai baju selain hitam, misalnya hijau tua. Meskipun warna yang gelap itu lebih baik.

Dari Ibrahim (An-Nakha’i) bahwsannya ia bersama Alqamah dan Al-Aswad masuk menemui istri-istri Nabi. Maka ia melihat mereka mengenakan mantel berwarna merah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)

Mengenai hiasan, sebaiknya dihindari karena hiasan termasuk ziinah yang tidak boleh ditampakkan seperti disebutkan dalam ayat, “Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka.” (QS. An Nur: 31)

Meskipun sebagian ulama memperbolehkan variasi jahitan asal tidak berlebihan dan mencolok.

Ketiga, Bukan Pakaian Syuhrah Atau Menyerupai Pakaian Orang Fasik

Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang memakai pakaian syuhrah, Allah akan memakaikan padanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat, kemudian dia dibakar padanya di dalam neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Syaikh Al-Albani menjelaskan bahwa pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang diniatkan agar terkenal di antara manusia. Baik pakaian itu mahal hingga bisa dibanggakan, atau pakaian buruk untuk menampakkan kezuhudan (menjauhi dunia) dan meraih pujian.” (Jilbab Mar’atil Muslimah)

Nah, itulah tadi ketiga aturan dasar busana muslimah yang syar’i. Inilah aturan yang diberlakukan oleh Allah kepada para hamban-Nya. Allah tidak sembarangan atau hanya sekedar iseng saat membuat aturan. Apalagi sekedar ingin memberatkan hamba-Nya tanpa ada tujuan yang mulia. Seluruh syariat Allah memiliki tujuan yang mulia, termasuk ketentuan pakaian bagi muslimah. Ada kenyamanan, kebebasan, dan terjaganya harga diri saat memakai baju yang sesuai dengan aturan illahi.

Kalau ada yang bertanya, apakah wanita muslimah tidak boleh tampil cantik? Apakah muslimah harus berpenampilan kusut dan ketinggalan jaman? Tidakkah hal itu merendahkan image seorang muslimah?

Jika yang dimaksud adalah “tampil cantik” adalah tampil dengan pakaian yang melanggar aturan syar’i, jawabannya “YA, TIDAK BOLEH!” Karena memakai pakaian yang melanggar aturan Allah sejatinya adalah “tampil jelek”, terkhusus dalam pandangan Allah, Malaikat-Nya, dan orang-orang yang beriman. Meskipun, selain mereka memandangnya cantik.

Tampil kusut dan ketinggalan jaman? Tentu tidak ada yang mengharuskan muslimah tampil demikian. Yang diperintahkan kepada muslimah adalah tampil wajar dan sesuai dengan aturan syar’i. Soal image, sebenarnya tinggal image siapa yang dijadikan patokan. Image, citra atau kesan dari Allah soal pakaian muslimah tentu berbeda dengan kesan yang diberikan orang-orang yang tak beriman.

Bagi orang-orang beriman, bahkan muslimah yang tampil canik secantik-cantiknya dengan hiasan beraneka ragam pun tetap akan dinilai tidak cantik dan konservatif alias ketinggalan jaman, apalagi yang tampil sesuai syar’i. Tapi jika yang cari adalah kesan dari Allah, bahkan seorang muslimah kusut karena memang hanya baju itulah yang dipunya, Allah akan menilainya sebagai wanita cantik asal pakaiannya sesuai dengan syar’i. Kecantikan bukan berasal dari baju, melainkan ketaatan kepada Allah.

Dan jika ada yang berkomentar atau mengatakan bahwa saya (muslimah) belum siap memakai baju yang benar-benar sesuai syariat. Harus bertahap karena segala hal memang harus dilakukan bertahap. Saya baru mampu seperti ini (belum syari’i).

Baiklah. Tak masalah jika memang perlu waktu untuk bertahap. Berharaplah semoga Allah mengampuni Anda dan kita semua karena sebenarnya melaksanakan kewajiban tidak boleh ditunda jika sudah waktunya. Kewajiban memakai jilbab telah masuk waktu saat muslimah sudah baligh. Namun jika ada yang masih membutuhkan waktu untuk menapaki tahapan, pastikanlah bahwa memang Anda sedang bertahap. Artinya, jika lebaran ini masih memakai pakaian baju-baju belum syar’i, usahakan hari-hari setelahnya memulai memakai baju-baju longgar hingga bertambah ke kerudung yang besar sampai akhirnya syar’i.

Sebagai penutup, mari lihat video dari Dr. Zakir Naik yang ditanya oleh wanita non-Islam yang menganggap bahwa jilbab syar’i menghinakan para wanita muslim.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan