MEDIA DAKWAH ISLAM | KEREN ITU BERANI DAKWAH

Menyingkap Cela Orang, Ternganga Aib sendiri

516

BERANIDAKWAH.CO| LUPA AIB SENDIRI, SIBUK DENGAN AIB ORANG LAIN – Pernah tersebar gosip keji tentang Ummul Mukminin Aisyah, yang menuduh beliau telah berbuat serong. Adalah Abu Ayyub al-Anshari termasuk sahabat yang sangat hati-hati menjaga pendengarannya, tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang mampir di telinganya.

Tatkala istrinya bertanya, “Wahai Abu Ayyub, tidakkah kamu mendengar desas desus yang memperbincangkan Aisyah?” Beliau menjawab, “Itu hanyalah berita bohong.” Lalu beliau bertanya kepada Ummu Ayyub, “Apakah kamu pernah melakukannya (serong), wahai Ummu Ayyub?” Ia menjawab, “Belum pernah, demi Allah, dan aku tidak akan pernah melakukannya.” Lalu Abu Ayyub berkata, “Demi Allah (wahai istriku), Aisyah lebih baik dari dirimu.”

Begitulah cara Abu Ayyub menyeleksi informasi. Tidak semua ucapan boleh dinikmati oleh telinga, dan tidak setiap informasi boleh disebarkan kepada orang lain. Ada hal-hal yang seharusnya ia dengar, ada pula hal-hal yang tidak layak didengarnya.

Dan dalam hal yang ia mendengarnya tanpa sengaja, ia seleksi mana yang layak dipercayai dan mana pula yang layak dimusnahkan dari memori. Inilah cara mensyukuri nikat pendengaran. Seperti jawaban Abu Hazim tatkala ditanya, “Bagaimana cara mensyukuri nikmat pendengaran?” Beliau menjawab, “Jika kamu mendengar kebaikan, maka jagalah dan jika kamu mendengar tentang keburukan, maka sembunyikanlah.”

MENYEBARKAN BERITA DUSTA

Telinga adalah mitra paling setia dari lisan. Dari lisan siapapun ucapan terlontar, memungkinkan telinga untuk menikmatinya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Maka, seberapa kuat sensor pendengaran untuk menyaring setiap suara yang masuk, menentukan baik buruknya seseorang. Begitu strategisnya fungsi pendengaran, hingga kelak secara khusus ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah didengarnya,

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Di antara berita yang pasti sempat hinggap di telinga adalah kabar miring mengenai pribadi dan kehormatan seseorang. Sudah tentu, tidak semua yang didengar telinga itu sesuai dengan realita yang sebenarnya. Pasti ada berita dusta yang berseliweran di telinga. Karenanya Rasulullah memberi stempel ‘pendusta’ bagi orang yang suka menceritakan setiap apa yang didengarnya,

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta, jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Betapa ringan lisan membeberkan, betapa nikmat telinga mendengarkan. Akan tetapi, begitu dahsyat efek yang ditimbulkan. Berapa banyak orang-orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita bohong? Berapa banyak pasangan suami-istri berpisah karena kabar dusta? Berapa banyak pula peperangan antar kaum yang dipicu oleh informasi palsu? Dan berapa banyak orang terpidana karena kesaksian palsu?

Allah Yang Maha Bijaksana telah mengingatkan umat ini, agar masyarakat ini tidak tercabik-cabik, tidak terpecahbelah dan terbakar oleh api fitnah yang tatkala berkobar sulit untuk dipadamkan. Allah berfirman,

QS. Al-Hujurat Ayat 6Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Sebagaimana indikasi ayat di atas, bahwa dampak berita dusta itu tak hanya menimpa korban tertuduh. Bahkan bosa jadi yang tertuduh mendapatkan keuntungan. Sebagaimana Allah menghibur Aisyah dan keluarganya terkait berita dusta tentang dirinya,

QS. An Nur Ayat 11Artinya: “…Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu…” (QS. An-Nur: 11)

Adapun bagi orang yang turut terlibat menyebarkan berita dusta, justru terancam akan menyesal. Bisa saja ia menyesal karena turut menyiarkan kabar burung tapi akhirnya terbukti sebagai kabar bohong. Bisa juga ia menyesal buntut dari tindakan itu bisa membahayakan dirinya.

Tatkala menyebarkan berita dusta, berarti ia telah berlaku zalim kepada orang lain. Sedangkan orang yang dizalimi memiliki peluang besar mendoakan keburukan untuk orang yang telah merusak kehormatannya, dan doa orang yang dizalimi tidak terhalang untuk diijabahi.

Seperti kasus yang menimpa orang yang mencemarkan nama baik Sa’ad bin Abi Waqash dengan tuduhan dusta. Sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir,

“Seorang laki-laki itu berkata, ‘Kami mengadukan Sa’ad bin Abi Waqash karena ia telah membagi rampasan secara sama rata, tidak pernah ikut berperang bersama pasukannya dan tidak adil dalam menghukumi sesuatu’.”

Mendengar tuduhan itu, maka Sa’ad berdoa, “Ya Allah jika ia berdusta, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan timpakan berbagai fitnah atasnya.”

Ibnu Amir menceritakan bahwa menyaksikan laki-laki yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang, sampai-sampai alisnya menutupi mata karena saking panjangnya, ia betul-betul ditimpa kemiskinan, dan di sebuah jalan ia pernah bertemu dengan budak-budak perempuan kemudian mencolek mereka, karena itu ia terkena fitnah. Sewaktu ditanya, “Mengapa kamu bisa jadi begini?” Jawbannya, “Aku menjadi tua bangka dan terkena fitnah karena doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Begitulah balasan di dunia. Adapun di akhirat, Allah mengancam orang yang suka menuduh dan menyebarkan berita bohong tentang keburukan seseorang,

QS. An Nur Ayat 15Artinya: “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur: 15)

Hingga firman-Nya,

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An Nur: 23-24)

MENYINGKAP AIB ORANG, TERNGANGA AIB SENDIRI

Berita dusta tentang keburukan seseorang sudah pasti terlarang untuk disebarkan. Lalu bagaimana jika berita tentang aib seseorang itu benar adanya? Sering kita dengar, ketika teguran ditujukan kepada orang yang sedang menggunjing, ia pun segera menyergah, “Saya mengatakan apa adanya, saya tidak berdusta!” Padahal, tidak semua berita yang benar itu boleh menjadi konsumsi public, atau diperdengarkan orang lain. Rasulullah mendefinisikan hal ini dengan ghibah atau menggunjing.

“Menyebutkan keburukan tentang saudaramu, hal yang ia tidak suka (diketahui orang lain).” Lalu Rasulullah ditanya, “Bagaimana jika ternyata apa yang saya sebutkan memang benar-benar apa adanya?” Beliau menjawab,

Artinya: “Jika (aib) itu memang ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika apa yang kamu katakana tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah membuat kedustaan tentangnya.” (HR. Muslim)

Itulah ghibah, yang diumpamakan Allah dengan memakan bangkai saudanya sendiri. Jangan disangkan kerugian hanya menimpa pada orang yang digunjing. Sejatinya, akibat yang dialami oleh orang yang menggunjing lebih parah. Rata-rata orang yang suka mencatat dan mengumbar aib orang, niscaya akan sedikit teman.

Karena tidak akan ditemukan teman yang tak memiliki cacat, dan tak banyak orang yang bisa bertahan jika cacatnya diumbar oleh temannya sendiri. Alangkah indahnya nasihat Imam asy-Syafi’I kepada Yunus bin Abdil A’la.

Beliau berkata, “Wahai Yunus, jika kamu mendengar seorang temanmu melakukan apa yang tidak kamu suka, janganlah kamu lekas memusuhinya, atau memutus persahabatan. Karena sesuatu yang menyakinkan (tentang kebaikan teman) jangan dihapus dengan yang masih meragukan (tentang keburukan teman). Sebaliknya temuilah dia, dan katakana kepadanya, “Telah sampai desas-desus tentang dirimu begini dan begitu…”.

Tapi ingat, janganlah kamu menyebutkan sumber beritanya. Jika dia menyanggah dan mengingkari kabar tersebut, maka katakanlah, “Baiklah, kamu lebih jujur dan lebih layak aku percaya.” Dan jangan menambahnya dengan pernyataan atau komentar orang lain. Namun jika dia mengakui kebenaran berita itu, dan kamu memaklumi alasannya, maka terimalah alasannya…”

Tak hanya sulit mendapatkan teman, orang yang hobi mengumbar aib saudaranya, maka kelak aibnya akan tersebar. Ini sebagai balasan yang setimpal untuk dirinya. Rasulullah bersabda,

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya sedangkan hatinya belum merasuk di hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, dan janganlah mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mengawasi aib mereka, dan barangsiapa yang diawasi aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkan aibnya di rumahnya.” (HR. Abu Dawud)

Jangan sampai menjadi orang yang lupa aib sendiri namun sibuk dengan aib orang lain. Jika tak ingin aib kita terbuka, maka jangan coba-coba mengumbar aib saudaranya. Kecuali jika aib itu berupa dosa yang membahayakan orang lain, atau dilakukan terang-terangan dengan bangga. Semoga Allah menutupi aib kita, dan menjaga telinga dan lisan kita dari segala bentuk kezaliman atas kaum muslimin. Aamiin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.