Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

20,206

BERANIDAKWAH.COM | Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama. Aqidah berasal dari kata ‘aqad yang berarti pengikatan. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, “Dia mempunyai aqidah yang benar,” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Makna Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.

Aqidah Secara Syara’

Makna aqidah secara syara’ yaitu iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan kepada Hari Akhir serta kepada qada’ dan qadar. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman. Sedangkan syari’at terbagi menjadi dua: i’tiqadiyah dan amaliyah

i’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribahdah kepada-Nya, juga ber- i’tiqad terhadap rukun-rukun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia dibangun atas i’tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az Zumar: 65)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itu perhatian Nabi yang pertama kali adalah pelurusan aqidah. Dan hal pertama yang beliau dakwahkan dan para rasul lain kepada umatnya adalah menyembah kepada Allah dan meninggalkan segala apa yang dituhankan selain Dia. Sebagaimana firman Allah:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukkan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”,..” (QS. An Nahl: 36)

Dan setiap rasul mengucapkan pada awal dakwahnya:

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya.” (QS. Al A’raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh Rasul. Selama 13 tahun di Makkah –sesudah bi’tsah– Nabi mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka baru mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain.

Sumber-Sumber Aqidah Yang Benar Dan Manhaj Salaf Dalam Mengambil Aqidah

Aqidah adalah taufiqiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang harus disucikan dari-Nya melainkan Allah sendiri. Dan tidak ada seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui Allah selain Rasul.

Maka apa yang segala apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah tentang hak Allah mereka mengimaninya, menyakininya, dan mengamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i’tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama’ah mereka juga satu. Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan kesatuan kata, kebeneran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,…” (QS. Ali Imran: 103)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. At Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya masuk Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang itu, beliau menjawab:

“Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR. Ahmad)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan