Mencari Ma’isyah Tanpa Maksiat

21,852

BERANIDAKWAH.COM | Mencari Ma’isyah Tanpa Maksiat. Sekarang ini banyak orang bekerja tidak mempedulikan apakah harta yang didapatkannya dari yang halal atau yang haram, asalkan mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup itu tidak menjadi persoalan. Ini adalah pemikiran yang salah!

QS. An Nur Ayat 37

Artinya: “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Bekerja Itu Harus

Tak dipungkiri, bekerja memang menjadi tuntutan hidup manusia untuk mencukupi kebutuhan duniawinya. Sehingga, Allah berkehendak menjadikan adanya waktu siang, sehingga memungkinkan bagi manusia untuk bekerja lebih leluasa. Seperti dalam firman Allah,

QS. An Naba Ayat 11

Artinya: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.”

Yakni, Kami jadikan waktu siang itu terang bercahaya, sehingga memungkinkan bagi manusia uuntuk berkativitas, datang dan pergi demi mengais rejeki, bekerja dan berniaga. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Bahkan bekerja bukan saja menjadi akivitas yang diijinkan oleh syariat. Lebih dari itu, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja, sebagaimana firman-Nya,

QS. Al Jumuah Ayat 10

Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Ayat ini menunjukkan perintah untuk bekerja dan mencari karunia Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, bahwa sahabat Nabi, Iraak bin Malik, usai menunaikan shalat Jumat beliau keluar dari masjid sembari berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah memenuhi panggilan-Mu, dan telah menunaikan apa yang Engkau fardhukan, dan akupun bertebaran (di muka bumi untuk mencari rejeki), maka karuniakanlah rejeki untukku dari karunia-Mu, Engkau adalah sebaik-baik yang memberi rejeki.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat, bahwa perintah mencari rejeki itu tidak hanya berlaku usai shalat Jumat, beliau mengatakan, “Meskipun yang disebutkan di sini mengenai shalat Jumat, namun hal ini berlaku juga untuk semua shalat wajib. Oleh karenanya Nabi mengajarkan kepada kita apabila masuk masjid membaca,

doa-masuk-masjid

“Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” Sedangkan ketika keluar membaca

doa-keluar-masjid

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia kepada-Mu.” (HR. Muslim)

Bekerja juga berarti tidak menghilangkan tawakal, bahkan menjadi penyempurna tawakal. Sebagian orang yang berdalih tawakal dan malas bekerja mencari ma’isyah seringkali menyitir hadits Nabi, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan benar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rejeki kepada seekor burung, yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi)

Padahal makna yang benar dari hadits ini tidak mendukung sikap tersebut, bahkan sebaliknya. Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan, “Hadist ini bukanlah dalil yang membenarkan berleha-leha dan tidak bekerja. Bahkan ini menjadi perintah untuk mencari rejeki. Karena, keluarnya burung dari sarangnya di pagi hari itu dalam rangka mencari rejeki.

Yang dimaksud hadits ini yakni seandainya kalian bertawakal kepada Allah tatkala pergi dan pulang, juga ketika beraktivitas, serta berkeyakinan bahwa kebaikan ada di tangan-Nya dan di sisi-Nya, niscaya kalian akan pulang dalam keadaan selamat dan membawa keberuntungan, seperti burung yang pagi harinya keluar dalam keadaan lapar dan pulang di sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Tapi, Jangan Sampai Lupa Allah

Segala bentuk dan jenis pekerjaan maupun perniagaan itu terpuji selagi dilakukan dengan cara yang halal, dan tidak menyebabkan lalai dari dzikirullah, menegakkan shalat serta menunaikan hak dari harta yang didapatkannya. Tapi jika semangat kerja itu menyebabkan ibadah menjadi terlantar, hati menjadi lalai, atau kepekaan terhadap yang haram menjadi tumpul, maka aktivitas itu menjadi fitnah yang menggerogoti keimanan. Dan memasukkan pelakunya dalam golongan ‘khasirrun’, orang yang merugi, karena telah mengorbankan akhiratnya demi memakmurkan dirinya.

Allah memuji generasi awal umat ini, di mana perniagaan dan kesibukannya tidak membuat mereka lalai dari dzikirullah. Karena mereka mengharapkan sesuatu yang lebih agung dan lebih utama. Allah berfirman,

QS. An Nur Ayat 37

Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Tentang ayat ini, dikisahkan bahwa sahabat Ibnu Mas’ud melihat suatu kaum di pasar. Ketika adzan dikumandangkan, mereka meninggalkan jual beli dan bergegas menuju masjid untuk shalat. Lalu beliau mengatakan, “Mereka inilah kaum yang dimaksud oleh Allah dalam Kitab-Nya, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.”

Sebagian ulama memaknai dzikirullah di sini lebih spesifik dalam urusan shalat wajib dengan berjamaah. Ada pula yang memaknai dzikirullah dengan pengertian secara umum, yakni taat kepada Allah. Sa’id bin Jubair mengatakan,

Dzikir adalah ketaatan kepada Allah, maka barangsiapa yang tidak mentaati-Nya, dia belum dianggap berdzikir kepada-Nya, meskipun dia memperbanyak bacaan tasbih, tahlil dan membaca al-Qur’an.” (At-Tadzkirah, al-Qurthubi)

Artinya, dalam berniaga mereka tidak melanggar aturan syariat, tidak pula meninggalkan etika Islam meski diiming-imingi dengan keuntungan duniawi yang besar. Atas usaha yang mereka lakukan itu, Allah menganugerahkan apa yang menjadi keinginan mereka. “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka, dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nur: 38)

Sekian dan semoga bermanfaat untuk kita semua, jangan lupa di share yang insya’Allah bisa menambah amal kebaikan kita.

 

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan