Mencintai Sahabat Nabi Dengan Tepat, Jangan Sampai Kafir

600

BERANIDAKWAH.COM | Mencintai Para Sahabat Dengan Tepat. Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik setelah para Nabi dan Rasul. Sebab, mereka bertemu dengan Rasulullah, beriman kepadanya, berjihad bersama beliau dan mengambil ilmu langsung dari beliau. Rasulullah mencintai mereka dan Allah memilih mereka untuk menemani beliau dalam menegakan syariat Islam.

Kaum muslimin wajib mencintai para sahabat berdasarkan nash ayat dan menjadi bukti cinta kepada Allah dan Rasulullah. Para sahabat telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan Islam di berbagai penjuru bumi, menolong Rasulullah, beriman kepadanya dan mengikuti cahaya yang beliau bawa.

Pada asalnya pembahasan ini bikan merupakan pembahasan akidah. Karena pembahasan akidah berkaitan dengan keyakinan, dan secara lebih spesifik adalah masalah-masalah ghaib. Pembahasan ini menjadi bagian dari akidah lantaran masalah ini adalah masalah yang membedakan antara Ahlussunnah dengan Khawarij, Syi’ah, Rafidhah, Nushayriyah dan kelompok sesat lainnya yang begitu membenci para sahabat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Ahlussunnah mencintai para sahabat Nabi secara umum dan membenci siapa saja yang membenci atau mencela mereka. Sedangkan ahli bid’ah, di antara mereka ada yang mengkultuskan dan bahkan menuhankan Ali bin Abi Thalib sebagaimana ada yang menuhankan Abu Bakar. Ada yang menjadikan kecintaan kepada sebagian mereka berkonsekuensi kebencian kepada sebagian yang lain. Mencintai Ali berarti harus mencintai Abu Bakar, begitu juga sebaliknya. Para ahli ilmu sepakat bahwa siapa saja yang menetapkan ketuhanan kepada salah seorang sahabat Nabi, maka ia telah kafir.

Ada juga bentuk ghuluw yang lain. Beberapa kuburan dari para sahabat ada yang diagung-agungkan, seperti kuburan sahabat Abu Ayub al-Anshari di Instanbul dan Abu Ubaydah bin Jarah di Yordania. Juga beberapa kuburan sahabat lain seperti kuburan Husain, Hasan, dan Ali. Mereka mendatanginya untuk berdoa kepada mereka (bukan kepada Allah), beristighatsah, dan mendekatkan diri kepadanya.

Lalu, Siapa Sahabat Nabi Itu

Yang dikatakan sahabat Nabi adalah siapa saja yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, berjumpa dengan beliau walau sesaat, beriman kepada beliau dan meninggal dunia dalam memeluk Islam.

Dalam Majmu’ Fatawa (IV/464), Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Shuhbah adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menyertai Rasulullah dalam jangka waktu yang lama maupun singkat. Hanya, kedudukan setiap sahabat ditentukan oleh jangka waktu ia menyertai Rasulullah. Ada yang menyertai setahun, sebulan, sehari, sesaat atau melihat beliau sekilas lalu ia beriman kepada beliau. Derajat masing-masing didasarkan pada berapa lama ia menyertai Rasulullah.”

Sebelum Ibnu Taimiyah, Abu Hamid al-Ghazali telah menulis dalam al-Mustashfa (I/165), “Siapakah sahabat itu? Sahabat ialah siapa saja yang hidup bersama Rasulullah atau pernah bejumpa  dengan beliau walau sekali, atau pernah menyertai beliau dalam waktu sebentar maupun lama.”

Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa di antara para sahabat ada yang menjadi sahabat dalam waktu yang relatif lama dan ada yang pendek. Ada pula orang-orang Islam yang hidup sezaman dengan beliau namun tidak pernah berjumpa dengan beliau, seperti Najasyi. Orang seperti Nasjasyi ini  tidak dikategorikan sahabat, namun para ulama menyebut orang-orang seperti Najasyi dengan mukhadhram.

Ahli Bid’ah Menentang Dalil

Ketika ahli bid’ah mencintai dan membenci para sahabat semau mereka sendiri, sesungguhnya mereka sedang menyelisihi dan menentang dalil-dalil shahih dan sharih, dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Mereka yang mencintai secara berlebihan sehingga ada yang mengkultuskan atau menuhankan sebagian sahabat, mereka telah menentang dalil-dalil yang menegaskan bahwa yang Mahasuci dan selamat dari kekurangan hanya Allah. Disadari maupun tidak, mereka menentang firman Allah:

“Dialah Allah yang tiada ilah (yang benar) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr: 23)

Sedangkan mereka yang membenci atau mencela sahabat Nabi, berarti mereka telah mengungkiri sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang berbunyi:

“Janganlah kalian memaki para sahabatku. Kalau saja salah seorang dari kalian menginfakkan emas segunung Uhud, itu tidak akan mampu menyamai satu mud pahala mereka, bahkan meski separuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga menentang firman Allah:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Asnhar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat semakna seperti Al-Fath: 18, Al-Hadid: 10, Al-Hasyr: 8-10. Ayat-ayat tersebut secara jelas dan gamblang menerangkan bahwa Allah ridha terhadap para sahabat Nabi. Dan Allah pun memuji mereka.

Kandungan Lain

  1. Semua dalil tentang keutamaan para sahabat di atas juga menunjukkan beberapa hal berikut ini:
  2. Jika seorang sahabat Nabi meninggal dunia, ia mendapatkan janji ampunan dan keridhaan dari Allah
  3. Semua sahabat adil, karena Allah mengisyaratkan hal itu. Makna keadilan di sini adalah adil dalam berpegang dalam Islam, berpendapat, dan dalam menyampaikan berbagai permasalahan Islam. Adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam perkara ijtihad tidak membatalkan keadilan ini.
  4. Para sahabat memiliki derajat dan keutamaan yang berbeda-beda. Ada yang keimanannya tak dapat dibandingkan dengan yang lain, ada yang kedermawaannya sulit dicari tandingannya dan lain sebagainya.

Semoga Allah terus menumbuhsuburkan kecintaan kita terhadap para sahabat tanpa menuhankan mereka dan mencontoh keteladanan dari para sahabat. Wallahu al-muwaffiq.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan