Menjadi Muslim Di Segala Musim

232

BERANIDAKWAH.COM | Menjadi Muslim Di Segala Musim. Sebentar lagi Ramadhan beranjak pergi, tradisi buruk semoga tak lagi terjadi. Masjid-masjid kembali sepi, bacaan Al-Qur’an tak terdengar lagi, hingar binger musik kembali merajalela. Inilah kondisi umumnya manusia selepas Ramadhan. Peristiwa ini seakan merupakan rekaman ulang dari tahun ke tahun yang telah lalu, dimana berakhirnya Ramadhan diiringi pula dengan rampungnya seluruh amal. Awal syawal menjadi start untuk berpacu dengan maksiat, saat untuk menumpahkan gejolak nafsu yang tertahan selama sebulan. Bekas amal di bulan Ramadhan nyaris sirna tak tersisa.

Seakan, berakhirnya Ramadhan adalah sebagai penanda berakhirnya pula ketaatan dan berlakunya kembali kemaksiatan.

Jangan Memaklumi Kelemahan

Di antara sebab lestarinya tradisi buruk itu karena seseorang memberikan permakluman atas kelemahan iradah (kemampuannya) untuk menjaga ketaatan di luar Ramadhan. Mungkin karena dia menganggap lazim sebagaimana orang kebanyakan seperti itu, sehingga tidak dipandang sebagai kekurangan dan kesalahan. Atau bisa jadi berangkat dari anggapan yang salah, bahwa ketika didengungkan bulan Ramadhan sebagai bulan ketaatan dan kebaikan maka pikiran refleknya menganggap bahwa di luar Ramadhan tak begitu penting menjaga ketaatan, karena bukan lagi musimnya.

Jelas ini merupakan anggapan yang keliru. Bahwa Ramadhan disifati dengan segala keutamaan, mestinya justru dijadikan sebagai titik tolak untuk perbaikan. Ketika telah terbangun ritme ketaatan, masa-masa selanjutnya tinggal menjaga kebiasaan.

Karena ketaatan dituntut pada setiap keadaan, musim maupun tempat. Ketika seseorang berhenti dari ketaatan yang telah dibangun pada bulan Ramadhan, seakan Allah hanya layak mendapatkan porsi pengabdian di bulan Ramadhan saja. Padahal, tak ada satu isyaratpun, apalagi dalil yang menyebutkan, “wa’bud Rabbaka hatta ya’tiyakasy syawaal,” beribadahlah kepada Allah sampai datangnya bulan Syawal. Sama sekali tidak ada, yang ada adalah firman Allah Ta’ala:

QS. Al jHijr Ayat 99

Artinya: “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”

Imam Hasan al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan batas akhir untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu beliau membaca ayat di atas.

Ibnu Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa maksud “al yaqin” dalam ayat tersebut adalah kematian. Kematian disebut al yaqin karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Maka semestinya kita tidak memberi permakluman atas kelemahan kemauan atau keinginan nafsu yang ingin berleha-leha.

Baca juga: Kajian Islam Seputar Ramadhan

Asy-Syibily pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Ketika beliau mencium gelagat adanya kemungkinan peremahan terhadap salah satu bukan yang dianggap kurang utama, maka beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyun dan jangan menjadi Sya’baniyyun.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy di setiap musim, dan jangan menjadi ahli ibadah di bulan Sya’ban saja. Maka kita juga bisa katakana, “Jadilah Rabbaniyyun, yang hanya menjadi ahli ibadah di bulan Ramadhan saja”

Rasulullah menganggap cela tindakan seseorang yang meninggalkan amal ketaatan yang telah dibiasakannya. Beliau bersabda,

Artinya: “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dia dahulu bangun ditengah malam tetapi kemudian meninggalkan qiyamullail (shalat tahajjud)!” (HR. Bukhari)

Di sisi lain, seorang muslim mestinya tertantang untuk menjadi hamba Allah yang istimewa. Sementara, tidak ada yang istimewa pada diri seseorang yang bangun di saat manusia lain juga bangun, rajin disaat yang lain juga bersemangat. Yang istimewa adalah seseorang yang bisa bangun selagi yang lain terlelap, tetap sadar disaat yang lain terlena, dan tetap bermujahadah kendati yang lain melemah.

Allah berfirman,

QS. Hud Ayat 112

Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Kelemahan ini yang mestinya tak boleh dimaklumi adalah alasan menguatnya godaan setan sehingga sulit untuk menghindari maksiat. Ketika dalih nafsu ini dimaklumi, maka selepas Ramadhan kemaksiatan menjadi barang yang mudah dan murah. Bahkan seperti serigala yang lama terkurung dalam keadaan lapar, hingga tatkala keluar dari kandang membati buta mencari mangsa, wal ‘iyaadzu billah.

Sebenarnya ini merupakan cerminan akan kesalahan ia dalam mengisi dan menyakini Ramadhan. Karena andaikata apa yang dilakukannya pada bulan Ramadhan itu benar, niscaya akan membuahkan kebaikan setelahnya. Sebagaimana kaidah, “Pahala bagi orang yang mengerjakan kebaikan adalah dia akan mengerjakan kebaikan setelahnya, dan balasan bagi orang yang mengerjakan keburukan adalah dia akan melakukan keburukan sesudahnya.”

Memang, ketika setan dibelenggu pada bulan Ramadhan, kemudian shaum juga memupus keserakahan hawa nafsu, maka kemaksiatan lebih mudah dihindari. Namun bukan berarti kita boleh menyerah kalah kepada setan begitu setan dibebaskan pasca Ramadhan. Alangkah naifnya kita, jika hanya mampu menghadapi setan saat berada dalam belenggu, hingga tatkala setan bebas lantas kita menyerah kalah. Bukankah Ramadhan merupakan pembiasaan jiwa kita untuk tunduk dan pasrah dengan aturan syar’i? Maka jika memang Ramadhan kita benar, di luar Ramadhan kita tetap setia kepada syariat, dan berani mengambil jalan yang berseberangan dengan jalan setan. Hingga kita tetap konsisten sebagai seorang muslim di segala musim, di bulan Ramadhan maupun di bulan selainnya. Jadi, jangan lagi menjadi muslim di segala musim ya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan