Syakhsyiah: Menjadi Orang Pertama Dalam Kebaikan

768

BERANIDAKWAH.COM | Syakhsyiah – Menjadi Orang Pertama Dalam Kebaikan. Abu Thalhah adalah sahabat Anshar yang kaya di Madinah. Aset terbesar dan yang paling ia sukai adalah Kebun Bairaha’ yang terletak di depan masjid. Rasulullah biasa masuk dan minum air di dalamnya. Ketika turun ayat Allah,

Ali Imran 92

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Seakan tak ingin didahului orang lain, Abu Thalhah segera menyambut tawaran tersebut, “Wahai Rasulullah, telah turun wahyu kepada Anda “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah Bairaha’, maka sebelum kebun itu aku sedekahkan untuk Allah, saya mengharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah Ta’ala. Maka kelolalah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepada Anda wahai Rasulullah.”

Begitulah karakter para sahabat Rasulullah, mereka yang paling segera menyambut dan mengamalkan apa yang menjadi perintah Allah. Karena mereka tahu, ada nilai lebih bagi orang yang menyegerakan kebaikan.

Lebih Dahulu, Lebih Utama

Semangat untuk menjadi orang pertama dalam kebaikan telah membawa keuntungan bagi sahabat Ukasyah bin Mihshan, hingga didoakan Rasulullah termasuk 70.000 orang yang masuk jannah tanpa hisab. Suatu kali Rasulullah bersabda,

Artinya: “Akan masuk jannah segolongan umatku yang berjumlah 70.000, wajah mereka bersinar laksana bulan.” (HR. Bukhari)

Seketika Ukasyah bin Mihshan berdiri sembari berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku, agar aku termasuk dalam golongan mereka.” Rasulullah pun mendoakannya, “Ya Allah, jadikanlah ia termasuk golongan mereka.” Menyaksikan kejadian itu, seorang Anshar ikut berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan pula untukku agar aku termasuk ke dalam golongan mereka.” Rasulullah bersabda, “Ukasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari)

Begitulah, peluang kebaikan kadang tak terulang kedua kalinya. Selayaknya kita bersegera mengambil peluang kebaikan tersebut sebelum orang lain mendahului. Dalam banyak amal shalih, Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan dalam banyak tempat tentang keutamaan orang yang lebih dahulu beramal shalih. Namun Allah melebihkan pahala orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan. Dalam hal sedekah dan berjihad, Allah berfirman:

Surat Al Hadid Ayat 10

Artinya: “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.”

Dalam hal shalat, Allah melebihkan keutamaan shaf pertama dibanding shaf berikutnya. Begitupun dalam hal mendatangi shalat Jum’at, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang mandi di Hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian berangkat pagi ke masjid, maka seakan ia berkurban unta besar, dan barangsiapa berangkat di waktu kedua, seakan ia berkurban sapi, barangsiapa yang berangkat di waktu ketiga seakan berkurban domba yang telah bertanduk, barangsiapa yang datang di waktu yang keempat seakan ia berkurban ayam, dan barangsiapa yang berangkat di waktu yang kelima, seakan ia berkurban telur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendapat Pahala Dari Orang-Orang Yang Mengikuti Jejaknya

Bukan saja dari sisi keutamaan yang lebih, orang yang mempelopori suatu kebaikan akan mendapatkan pahala setiap ada orang yang mengikuti jejaknya dalam berbuat baik. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang mempelopori suatu sunnah yang baik, ia mendapat pahala amalnya dan pahala orang yang mengikuti setelahnya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)

Sudah semestinya pelopor kebaikan mendapat nilai lebih, bahkan mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Karena pelopor menuntut pengorbanan dan resiko. Mungkin dipandang aneh, menyalahi kebiasaan umum, menentang arus, menyelisihi adat dan berjuang sendiri.

Ini jelas berbeda nilainya dengan orang menjalankan suatu syariat setelah ada orang lain ada yang melakukannya. Belum berani berhijab sebelum ada orang yang melakukannya, belum berani meninggalkan bid’ah sebelum ada yang memulai, begitupun dalam hal urusan lain. Meskipun orang yang mengikuti itu mendapatkan pahala, namun orang yang mempelopori lebih utama, dan lebih banyak pahalanya.

Kemudahan Di Akhirat

Para pelopor kebaikan, orang yang pertama dalam kebaikan dan yang bersegera dalam ketaatan akan mendapatkan kemudahan di akhirat setelah kemudahan di dunia. Di barzakh, akan didatangi amal shalihnya yang berwujud laki-laki tampan, bagus pakaiannya dan harum baunya, lalu berkata, “Aku adalah amal shalihmu, demi Allah, Anda adalah orang yang bersegera dalam ketaatan kepada Allah, lamban untuk bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalas kebaikan untukmu.” (HR. Ahmad)

Mereka juga mendapatkan kemudahan dalam hisab, bahkan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa “saabiqun bil khairat”, orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan seperti dalam surat Fathir ayat 32 adalah orang yang masuk jannah tanpa hisab, seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Begitupun ketika meniti shirath, orang yang paling bersegera dalam ketaatan adalah orang yang paling cepat meniti shirath, dan merekalah yang lebih dahulu masuk jannah. Wa fii dzaalika, fal yatanaafasil mutanafisuun, dan untuk yang demikian itu hendaknya mereka berlomba-lomba dalam ketaatan. Wallahum a’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan