Minder Taat Kepada Allah, Akhirnya Bermaksiat

1,825

BERANIDAKWAH.COM | Minder Taat Kepada Allah, Akhirnya Bermaksiat. Islam itu agama yang luhur, agung, mulia dan tak ada aturan apapun yang mengungguli Islam. Nilai ini tidak pernah berubah, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun. Hanya saja, sikap manusia terhadapnya, dari sisi dukungan dan penentangan memang pasang surut. Ibarat roda berputar, kadang di atas dan kadang pula di bawah.

Awalnya Islam datang dianggap aneh, asing, sesat dan dimusuhi oleh para penentanganya. Orang yang menentang lebih banyak dari pendukungnya. Selang  beberapa tahun kemudian, seiring dengan dakwah dan jihad yang dilakukan oleh Rasulullah dan umat muslim terdahulu, Islam makin berjaya dan dibanggakan oleh para penganutnya serta berwibawa di mata musuh-musuhnya.

Namun, roda sejarah terus berputar hingga akhirnya generasi demi generasi datang pergi silih berganti. Kewibawaan Islam di mata manusiapun tidak selalu pasti. Adakalanya menurun, naik, turun kembali, meningkat, jatuh lagi, begitu seterusnya hingga sekarang ini dalam kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi di zaman keemasannya. Islam kembali asing seperti mula datangnya. Persis seperti yang dikatakan oleh Rasulullah,

Artinya: “Sesungguhnya Islam itu bermula dari keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.” (HR. Muslim)

Allah menghendaki itu semua terjadi, bukan karena Allah tidak kuasa menjadikan Islam senantiasa berjaya, Allah Mahakuasa atas itu. Tapi Allah hendak menguji orang-orang beriman, sehingga terbukti siapa yang tetap iman dan taat dalam segala kondisi dan situasi.

QS. Ali Imran Ayat 140

Artinya: “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir)…” (QS. Ali Imran: 140)

Begitupun dengan keterasingan Islam, ini juga menjadi ujian, adakah mereka tetap beredar bersama Islam dimanapun posisinya, ataukah lepas dari peredarannya saat Islam dan syariatnya dicampakkan oleh kebanyakan manusia.

Fenomena Minder Untuk Taat

Keterasingan Islam bukan pada sisi minimnya penganut, bukan pula karena sulitnya kitab suci didapat. Tapi pada runtuhnya kekuasaan, hukum dan syariatnya, juga lenyapnya tradisi dan akhlak-akhlaknya. Semua tahu, hukum apa yang mendominasi dunia saat ini. Tradisi mana pula yang menjadi budaya masyarakat dunia, juga masyarakat kita hari ini. Selain adat, tradisi Barat begitu ketara mewarnai setiap celah kehidupan, hingga menjadi pola hidup kebanyakan.

Orang yang konsisten dengan cirikhas keislamannya menjadi aneh, begitupun yang tidak lebur dengan tradisi kebanyakan itu. Tinggallah dua pilihan, setiap dengan Islam tapi menganggung resiko celaan dan keterasingan, ataukah larut dengan arus kebanyakan yang didominasi oleh hawa nafsu sebagai unsur terkuatnya.

Tak sedikit yang gamang untuk tetap berputar bersama Islam, saat posisi Islam sedang dipinggirkan. Tidak sedikit orang Islam yang lantas mencari wilayah ‘aman’ dengan mencelupkan dirinya dengan ‘sibghah’ hawa nafsu yang menjadi warna kebanyakan.

Mereka minder untuk menunjukkan jati dirinya sebagai seorang muslim atau muslimah. Yang muslimah, tidak pede dengan jilbab syari’inya, kurang gaul jika tak hafal lagu-lagu barat, da merasa rendah diri jika belum bisa berjoged dan berdansa. Mereka lebih pede dengan pakaian ketat, berlenggak-lenggok, kepalanya miring ke sana kemari, persis seperti kaum yang dikabarkan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka yang perlakuannya belum pernah beliau saksikan di zamannya.

Artinya: “Wahai wanita yang berpakaian tapi telanjang, menyimpang dari ketaatan, berjalan melanggak-lenggok (berjoget), kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk jannah, bahkan tidak mencium baunya, padahal baunya bisa dirasakan dari jarak perjalanan sekian-sekian (yakni sangat jauh).” (HR. Muslim)

Yang laki-laki merasa minder untuk aktif shalat jamaah di masjid, atau minder menampakkan sunnah Rasulullah seperti menjaga jenggot dan mengenakan celana di atas mata kaki. Mereka juga minder jika hendak membaca al-Qur’an atau berargumen menggunakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Lebih merasa terangkat wibawanya jika bisa menukil petuah-petuah orang Barat. Belum lagi kelompok muda-mudi yang merasa rendah diri jika belum pernah berpacaran. Takut dikatakan tidak laku, jomblo, tidak gaul dan culun.

Munculnya rasa minder untuk taat tersebut disebabkan karena menganggap nilai ketaatan itu rendah, Islam dan iman tak begitu berarti, sekaligus muncul kekaguman terhadap tradisi dan kebiasaan di luar Islam. Maka merekapun lebih memilih untuk mengikuti tradisi orang-orang kafir seperti tradisi ulang tahun, valentine day, tukar cincin pernikahan, pergaulan bebas, dan berlomba-lomba membuka aurat, meskipun sesuatu yang diikuti itu jelas-jelas buruk dan kotor. Fenomena iini sebenarnya juga sudah dikabarkan oleh Rasulullah,

Artinya: “Sunggguh (sebagian) kalian nanti akan  mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti juga.” Kami (para sahabat bertanya), “Wahai Rasulullah, apakah yang Anda maksud adalah (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari)

Sisi Kemuliaan Orang Yang Taat

Tidak selayaknya seorang muslim mengekor dan membebek tradisi orang kafir. Karena umat Islam adalah ‘ummatan wasatha’ yang sebagian ahli tafsir mengartikan, “Kaum yang tingkatannya berada di bawah para nabi, namun di atas semua umat yang ada.” Maka tidak selayaknya kita yang seharusnya menjadi contoh, bukan malah mencontoh.

QS. Ali Imran Ayat 139

Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Orang beriman mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia, meskipun sedikit sekali orang yang sepaham dengan mereka. Walaupun mereka minoritas, sekalipun mereka ditindas. Karena kemuliaan itu melekat pada islam, iman dan takwanya. Bukan pada rupa, harta, status sosial, pangkat/ jabatan, dan banyaknya teman yang mendukungnya. Dengan ukuran inilah Islam menilai, dengan takaran ini pula para pendahulu kita di kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in menimbang.

Karena keimanannya Bilal bin Rabah yang tadinya seorang budak hitam dari Habsy, kurus dan berambut keriting digelari Umar bin Khattab dengan sayyidina, “Abu Bakar pemimpin kita telag memerdekakan pemimpin kita juga (yakni Bilal).” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah telah mendengar suara terompah Bilal di jannah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Begitulah, dengan ketaatannya, Bilal dimuliakan oleh orang-orang shalih di dunia, diangkat derajatnya oleh Allah di akhirat.

Ada pula Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah yang berperawakan kecil, kurus, miskin dan bukan keturunan bangsawan. Tapi memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rasulullah dalam hal yang sifatnya privasi. Sehingga beliau dijuluki dengan shahibu sawaadi (sirri) Rasulullah. Umar pun mempercayakan beliau sebagai Gubernur di Kufah pada masa pemerintahannya. Adapun kemuliaan di sisi Allah, Rasulullah bersabda, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya (pada Hari Kiamat) lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad, Thabrani)

Sisi Hina Orang Kafir Dan Pendosa

Orang-orang yang melampiaskan hawa nafsu maupun kafir yang dianggap terhormat dan diikuti, sebenarnya berkebalikan dengan hakikatnya. Jangan disangkan kehidupan mereka serba menyenangkan. Semua manusia pernah memiliki masalah, mukmin maupun kafir. Jika kita pernah merasakan sakit dan menderita, mereka (orang-orang kafir) pun juga sama. Bedanya, jika kita beriman maka kita masih berharap pahala di sisi Allah, ganti dengan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat, sedangkan orang-orang kafir tidak.

QS Ali Imran Ayat 104

Artinya: “Jika kamu menderta kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderita, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisa: 104)

Bahkan, hati mereka senantiasa tersiksa dalam setiap keadaan. Saat berpayah-payah berusaha untuk mendapatkan impian, rasa khawatir jika yang ia dapatkan akhirnya hilang, dan ketika hasil yang dia usahakan betul-betul hilang, baik berpindah tangan atau saat ia meninggal dunia. Siksa ini dirasakan oleh setiap orang yang hanya menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan dunia sebagai ukuran kewibawaan.

Jikalau mereka mengklaim sedang mengeyam kesenangan, maka itu tak lebih dari tipuan sebelum datangnya siksa yang amat pedih di neraka.

Al An'am Ayat 44

Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Bukankah sudah jelas dari ayat-ayat di atas tadi, maka yang mulia dan mana yang hina? Semoga artikel ini memberikan manfaat dan mari dishare yang insya’Allah menjadi amal kebaikan kita. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan