Khurafat: Mitos Tentang Biji Tasbih Yang Tak Benar

724

BERANIDAKWAH.COM – Mitos Tentang Biji Tasbih Yang Tak Benar. Biji tasbih seakan menjadi simbol ahli dzikir, kyai dan wali. Biji tasbih milik sebagian kyai juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit dan mencegah terjadinya mara bahaya. Bahkan seperti granat, kalau biji tasbih dilempar akan meletus. Bagaimana sejarahnya? Benarkah hal tersebut?

Petunjuk Nabi secara qauli (ucapan), fi’li (perbuatan) dan taqrir (persetujuan) menunjukkan bahwa beliau menghitung dzikir dengan jari-jari tangan, tidak dengan cara yang lain.

Kemudian terjadilah pergeseran melalui beberapa fase. Pertama, ada orang-orang yang menghitung dengan kerikil yang terdapat di masjid, atau sengaja membawa biji-bijian dari rumah sejumlah bilangan dzikir yang dimaksud.

Fase berikutnya, merangkai biji-bijian dengan benang agar lebih mudah dibawa dan praktis penggunaannya. Lambat laun, biji tasbih yang selalu dipakai untuk berdzikir itupun tak hanya berfungsi untuk menghitung dzikir. Lebih dari itu, benda tersebut diyakini memiliki keutamaan bagi yang membawa atau mengalungkannya di leher. Yang paling ketara adalah beberapa kreasi dan variasi keyakinan yang dimiliki oleh penganut tarekat sufi. As-Salawi, seorang Syaikh Sufi Syadzili memiliki biji tasbih yang terjuntai dari atap hingga menyentuh lantai. Dia memasang alat pengerek untuk memudahkan penggunaannya. Sebagian lagi memiliki keyakinan bahwa besarnya biji tasbih memiliki keyakinan bahwa besarnya biji tasbih mempengaruhi besarnya pahala dan berkahnya. Hingga di antara mereka berkata, “seandainya mampu, kami akan bertasbih dengan gunung, atau merangkai tasbih sebesar gunung, karena hal ini mengandung rahasia yang diketahui oleh orang yang bermujahadah dalam ibadah…” (Tuhfatu Ahli Futuhaat wal Adzwaaq fit Tikhadzis Subhah wa Jalaha fil Unuq, Fathullah asy-Syadzili)

Tentang mengalungkan di lher mereka berargumen, jika untuk jihad melawan orang kafir saja Rasulullah membolehkan mengalungkan pedang di leher, apalagi biji tasbih itu untuk melakukan jihad akbar (memerangi hawa nafsu), tentu hal ini lebih diperbolehkan lagi. Inilah qiyas ma’al fariq, qiyas yang sangat ngawur. Andai saja ini benar, tentu Rasulullah atau para sahabat sejak dahulu mengalungkan biji tasbih di leher, karena biji tasbih bukan tidak mungkin ditemukan di zaman itu.

Sebagian lagi beralasan dengan firman Allah Ta’ala:

QS. Qaf Ayat 16

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Lalu mereka menganggap bahwa mengalungkan tasbih di leher sangat cocok sebagai alat taqarrub kepada Allah. Ini juga penafsiran hasil otak-atik orang-orang sufi, tak ada dasarnya dari Rasulullah sedikitpun.

Perasaan ta’zhim dan penghormatan khusus terhadap biji tasbih tersebut akhirnya memunculkan berbagai mitos dan khurafat bahwa biji tasbih memiliki kekuatan. Para ulama sepakat, meskipun dengan dalih ‘atas ijin Allah’ menyakini suatu barang memiliki kekuatan yang di luar jangkauan akal ataupun tak terdapat dalil yang menyebutkan tentangnya, maka terhitung sebagai tamimah yang syirik. Dan masuk dalam keumuman hadits Rasulullah,

Artinya: “Sesungguhnya jampi, jimat dan pelet adalah syirik.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Maksud hati meraih pahala namun akhirnya terjeblos dalam perbuatan syirik. Maka alangkah indah nasihat seorang sahabat, “Ittiba’lah kalian dan jangan melakukan bid’ah, niscaya itu cukup bagi kalian.” Wallahu a’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan