Syakhsyiah: Mujahid dan Ulama, Dua Mercusuar Umat

337

BERANIDAKWAH.COM | Syakhsyiah – Mujahid dan Ulama, Dua Mercusuar Umat. Manusia tidak mempu memilih tempat dan waktu kematian sesuai yang diinginkan. Akan tetapi manusia diberi pilihan untuk mengupatakan hidup sebagai apa dan mati dalam keadaan bagaimana.

Karena itu, manusia memiliki obsesi, cita-cita dan pilihan hidup yang berbeda-beda. Ada yang hanya menargetkan sebatas dunia, ada lagi yang menjadikan kenikmatan akhirat sebagai tujuan hidupnya.

Dua Mercusuar umat

Dari sekian banyak pilihan, tak ada yang lebih mulia dari cita-cita seorang mukmin. Allah menyebutkan dua golongan yang menempati garda paling depan di kalangan orang-orang yang beriman di dalam firman-Nya:

QS. At Taubah Ayat 122

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Allah menyebutkan dua golongan orang mukmin dengan tugas yang utama, yang dalam bahasa Ibnu Katsir dalam tafsinya berkata, “imma lit tafaqquh fieddien wa imma lil jihaad,” apakah bertugas untuk mendalami ilmu agama, ataukah untuk berjihad fi sabilillah. Yang satu menempuh ikhtiar ke derajat ulama, dan yang satu golongan lagi menjadi mujahid fi sabilillah. Ulama menuntun manusia dan menjaga mereka supaya tidak tersesat, sedangkan mujahid menjaga ‘izzah (kewibawaan) umat dan melindungi mereka dari ancaman musuh.

Adapun anugerah yang agung, ketika pada diri satu orang memiliki dua kelebihan itu: sebagai ulama dan mujahid, seperti mayoritas para sahabat Rasulullah terdahulu. Di kalangan tabi’in ada Abdullah bin Mubarak yang disebut-sebut sebagai amirul mukminin filhadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal hadits) di zamannya, sekaligus aktif di kancah jihad fi sabilillah. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Setidaknya, cita-cita seorang mukmin tak lepas dari dua golongan di atas, menjadi mujahid atau ulama. Dua golongan itu senantiasa menjadi mercusuar umat dalam kebenaran, sebagaimana disyariatkan oleh Rasulullah sebagai tha’ifah (kelompok) pilihan dan dijanjikan selalu ada dari zaman ke zaman.

Adapun tentang mujahid di jalan Allah, Rasulullah bersabda:

HR. Muslim No 3548

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Manshur bin Abu Muzahim] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Hamzah] dari [Abdurrahman bin Yazid bin Jabir] bahwa [‘Umair bin Hani`] menceritakan kepadanya, dia berkata, “Saya mendengar [Mu’awiyah] berkata di atas mimbar, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak ada yang membahayakannya orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka sampai datangnya Hari Kiamat, dan mereka akan selalu menang atas manusia.” (HR. Muslim)

Ungkapan ‘laa tazaalu’ menunjukkan keberadaan yang terus menerus, dari zaman ke zaman tak akan putus. Termasuk hari dimana kita hidup saat ini, pastilah ada golongan yang telah Allah dan Rasulullah kabarkan itu.

Sedangkan tentang ulama, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Akan senantiasa ada segolongan umatku yang konsisten di atas kebenaran, tak akan memadharatkan mereka siapapun yang merendakah mereka, hingga datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari mengomentari bahwa maksud tha’ifah (segolongan umat) itu adalah ahlul ‘ilmi (ulama) seperti disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim. Sedangkan Imam Ahmad berkata, “Jika yang dimaksud bukan ahli hadits, maka saya tidak tahu lagi siapa golongan itu.” Golongan kedua ini juga selalu ada di setiap zamannya, termasuk juga hari ini.

Siapa Lagi Yang Lebih Utama?

Dengan jihad kewibawaan Islam terjaga, umat terlindungi. Ia merupakan dzirwatu sanamil Islam, puncak ketinggian Islam yang tak setiap individu muslim mampu melakukannya. Begitupun dengan sisi keutamannya, sulit ditandingi dengan amal selainnya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah lalu bertanya, “Tunjukkan kepadaku tentang suatu amal yang setara dengan jihad!” Beliau menjawab, “Tidak aku temukan.” Lalu beliau melanjutkan, “Apakah kamu mampu ketika seorang mujahid keluar, saat itu kamu masuk ke dalam masjid lalu shalat terus menerus tanpa terputus, kamu shaum tanpa henti (hingga mujahid kembali)?” Orang itu berkata, “Siapa yang mampu melakukan itu?” (HR. Bukhari)

Adapun dalam riwayat Muslim dengan redaksi yang berbeda:

Artinya: “Perumpamaan mujahid fi sabilillah itu seperti perumpamaan orang yang shaum dan shalat, menaati ayat-ayat Allah, tidak terputus shaumnya, tidak berhenti shalatnya hingga mujahid fi sabilillah kembali.” (HR. Muslim)

Tak ada kematian yang lebih utama dibandingkan orang yang terbunuh di jalan Allah. Bahkan Allah menyebutkan bahwa hakikatnya mereka tidak mati. Mereka hidup dengan mendapat karunia dari Allah. Dosa mereka diampuni saat darah pertama mengalir. Mereka akan diselamatkan dari azab kubur, dikenakan mahkota kehormatan, dan masih banyak lagi keutamaan mereka yang terbunuh di jalan Allah.

Adapun tentang ulama, bertebaran pula keutamaan mereka disebutkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Allah akan mengangkat derajat pewaris Nabi, dan tak ada warisan yang lebih berharga dari warisan para Anbiya’. Rasulullah menggambarkan keutamaan mereka:

HR. Abu Dawud

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Musaddad bin Musarhad] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Daud] aku mendengar [‘Ashim bin Raja bin Haiwah] menceritakan dari [Daud bin Jamil] dari [Katsir bin Qais] ia berkata, “Aku pernah duduk bersama Abu Ad Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, “Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu.” Abu Ad Darda lalu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Wazir Ad Dimasyqi] telah menceritakan kepada kami [Al Walid] ia berkata; aku berjumpa dengan [Syabib bin Syaibah] lalu ia menceritakannya kepadaku dari [Utsman bin Abu Saudah] dari [Abu Ad Darda] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan maknanya.”

Subhanallah, jika para ahli ibadah dumpamakan bintang maka ulama laksana bulan purnama. Ribuan bintang di langit tak mampu mengalahkan terangnya satu bulan purnama. Karena ahli ibadah keutamannya untuk diri sendiri, sedangkan ulama mampu memberikan faedah kepada orang lain. Nilai ibadah mereka sebanyak ibadah semua orang yang mendapatkan manfaat dari ilmunya, ditambah ibadahnya sendiri. Karena orang yang menunjukkan pada kebaikan, ia mendapat pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala yang melakukannya.

Begitulah keutamaan dua mercusuar umat yaitu mujahid dan ulama, selayaknya kita berproses menuju ke sana. Yang paling ironi adalah ketika seseorang belum mencapai derajat ulama, belum pernah pula berjihad namun berani mencacat ulama atau merendahkan mujahid, nas’alullahal ‘aafiyah. Ja’alanallahu wa iyyaakum minal ‘ulama’il ‘aamiin wa minal mujaahidiina fi sabilihi, aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan