Mukjizat Istighfar Pada Waktu Sahur

1,335

BERANIDAKWAH.COM | Mukjizat Istighfar Pada Waktu Sahur. Dua ayat, Allah mengabadikan dalam firman-Nya tentang mukjizar istighfar pada waktu sahur. Pertama, surat Ali Imran ayat 17 dan yang kedua pada surat Adz-Dzariyat ayat 18. Kedua ayat ini sama-sama menyebutkan salah satu amalan orang yang dijanjikan surga, yaitu beristighfar pada waktu sahur.

Waktu Sahur dan Keistimewaannya

Tentang waktu sahur, Sayyid Quthb memaparkan kepada kita tentang betapa indahnya waktu mulia ini. Beliau menjelaskan ketika menafsiri surat Ali Imran ayat 17 yang berbunyi: “Ash-shabirina wash-shadiqina wal-qanitina wal-munafiqina wal-mustaghfirina bil ashar”. Yang artinya (juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya dan orang yang memohon ampunan pada waktu sahur.

Kata beliau, “al-Ashar” yang bermakna pada waktu sahur itu sendiri menggambarkan situasi pada waktu malam menjelang fajar. Saat yang hening, menimbulkan nuansa lembut dan tenang, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran yang tertahan dalam hati. Apabila hal ini dipadukan dengan istighfar, maka akan memberikan kesan yang amat serasi dalam jiwa dan hati nurani, dan akan bertemulah ruh manusia dengan ruh alam semesta, yang sama-sama menghadap kepada Pencipta alam dan Pencipta manusia.

Kemudia Sayyid Quthb mengakhiri, “mereka yang sabar, jujur, taat kepada Allah, suka berinfak dan memohon ampunan Allah pada waktu sahur, akan mendapatkan keridhaan Allah. Merekalah yang layak mendapatkan keridhaan dengan naungan-Nya. Ini lebih baik dari pada semua keinginan dan semua kesenangan.

Syaikh Nashir Makarim Asy-Syairazi, dalam kitabnya ‘Al-Amtsal Fi Tafsiri Kitabillah Al-Munnazal’ juga berkata, “Mengapa diisyaratkan kepada waktu sahur daru semua waktu siang-malam, padahal istighfar dan dzikir itu dituntut pada tiap waktu? Itu tersebab pada keistimewaan pada waktu sahur; ialah waktu yang tenang, hening dan jauh dari aktivitas-aktivitas yang bersifat materi duniawi, dan juga semangat yang dirasakan seseorang setelah bangun dari istirahat dan tidurnya. Ia menjadi lebih siap menghadap kepada Allah, inilah yang bisa dicerna sesuai dengan pengalaman.

Sehingga ada beberapa ulama yang mengoptimalkan waktu sahur ini untuk memecahkan masalah-masalah ilmiah. Jadi, cahaya berfikir dan ruh manusia itu lebih berpendar dan memancar pada waktu tersebut, dibanding waktu kapan pun. Dan juga karena ruh ibadah dan istighfar adalah menghadapkan dan menghadirkan hati, maka ibadah dan istighfar pada waktu ini lebih agung dari waktu kapan pun.”

Karenanya waktu sahur adalah salah satu waktu teristimewa untuk berdoa, meminta dan beristighfar kepada Allah. Orang yang paling beruntung adalah orang yang memanfaatkan kesempatan emas untuk berdoa, meminta dan memohon ampunan. Pada waktu ini juga termasuk waktu sepertiga malam terakhir, Dzat Yang Maha Kaya, Pemilik segala perbendaharan bumi dan langit turun ke langit dunia untuk mengabulkan semua doa, pinta dan istighfar dari hamba-hamba-Nya. Rasulullah bersabda,

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika malam hanya tinggal sepertiga di akhir, lalu berfirman: “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)

Tentang hadits tersebut, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan tentang perbedaan antara tiga hal yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu doa, pinta dan istighfar. Beliau berkata, “sesuatu yang dicari itu bisa berupa terhindarnya seseorang dari mudharat dan tercapainya keinginan, atau karena ingin mendapatkan maslahat agama, atau bisa juga karena ingin mendapatkan maslahat dunawi. Istighfar bermanfaat untuk mendapatkan poin pertama, doa bermanfaat untuk mendapatkan poin kedua dan pinta bermanfaat untuk mendapatkan poin ketiga.”

Maka, siapa yang ingin terhindar dari mudharat, keinginannya terkabulkan, mengharap mendapatkan maslahat agama dan dunia, hendaknya memanfaatkan waktu sahur untuk meminta, berdoa dan beristighfar kepada Allah Ta’ala.

PERKTAAN LUQMAN KEPADA ANAKNYA

Mukjizat Istighfar Pada Waktu Sahur

Mengingat urgensi pada waktu sahur, maka meminta, berdoa dan beristighfar adalah kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Kita sangat membutuhkan karunia, kebaikan dan ampunan Allah, melebihi segala-galanya, melebihi semua kenikmatan yang ada. Beristighfar pada waktu yang begitu mulia ini menjadi semakin bermakna karena itu merupakan bentuk pengamalan dari perintah Allah.

Nafi’ menuturkan bahwa Ibnu Umar selalu menghidupkan malamnya. Beliau bertanya, “Wahai Nafi’i, apakah kita sudah masuk waktu sahur?” Aku menjawab, “Belum.” Lalu beliau kembali melanjutkan shalatnya. Kemudia beliau bertanya lagi dan ketika aku menjawab sudah, beliau bersiap-siap beristighfar.”

Imam Al-Qurthubi menyebutkan riwayat Ibrahim bin Hathib yang meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Pada waktu sahur, aku pernah mendengar ada seorang lelaki di sudut masjid berkata, “Ya Rabb, amartani fa atha’tuka, wa hadza saharun faghfirli. Ya Allah, Engkau memerintahkanku lalu aku mentaati-Mu, sekarang adalah waktu sahur maka ampunilah aku.” Aku pun melihat lelaki itu, ternyata dia adalah Ibnu Mas’ud.

Mari kita merenungi perkataan Luqman, ahli hikmah yang namanya diabadikan oleh Allah menjadi salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Beliau pernah menasehati putranya, “Ya bunayya, la yakuni diik akyasa minka, yunadi bin ashari wa anta naa’im. Wahai anakku, janganlah sampai ayam jantan lebih cerdas dari dirimu. Dia berkokok pada waktu sahur sementara dirimu masih terlelap tidur.”

Demikianlah, akhirnya kita berkesimpulan bahwa waktu sahur adalah salah satu waktu paling mustajab dan waktu terbaik untuk meminta, berdoa, dan beristighfar kepada Allah Ta’ala. Allahumma waffiqna lil amalish shalih.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan