Khutbah Jumat: 3 Musuh Umat Islam Yang Sesungguhnya

1,508

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang musuh umat Islam yang sesungguhnya. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Shalat Jumat Yang Dirahmati Allah!

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, kami wasiatkan kepada diri kamu sendiri dan juga kepada para jamaah kaum muslimin, agar senantiasa bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Marilah kita mengindahkan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, karena semua itu merupakan urgensi dari ketaqwaan. Dengan ketaqwaan, Allah akan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat, di dunia memperoleh kebahagiaan walaupun hidup sederhana, di akhirat memperoleh warisan surga.

Kita memahami, fitrah manusia itu dapat mengetahui dan mengenal kebenaran, serta menjauhi dan menghindari kebatilan. Namun bukan berarti bahwa mengamalkan kebenaran atau menghindari kebatilan adalah sesuatu yang mudah. Banyak rintangan dan hamabatan yang menjadi ujian. Ada musuh yang selalu menghalangi dari jalan kebenaran. Dan sebaliknya ada musuh yang selalu berusaha membimbing ke arah yang batil.

Musuh umat islam ini memberikan gambaran tentang kebenaran dengan gambaran yang tidak menyenangkan dan menjijikan. Sebaliknya memoles perbuatan dosa dengan sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, dan penuh dengan kenikmatan. Akhirnya, banyak orang yang terpedaya, meninggalkan jalan yang benar dan mengikuti jalan yang batil. Na’udzubillahi min dzalik.

Karenanya, wahai saudara-saudaraku, kenalilah musuh-musuh kita, agar kita dapat bersikap. Musuh tetaplah musuh, yang harus kita musuhi dan kita perangi. Bukan malah menjadikan mereka sebagai teman, apalagi pemimpin atau pembimbing. Siapakah musuh-musuh yang selalu berusaha mengajak manusia kepada perbuatan batil dan keliru?

Jamaah Jumat Yang Dirahmahti Allah!

Musuh yang pertama, SETAN.

Tidaklah ada tujuan setan kecuali menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Dialah yang telah mengeluarkan Adam dari Surga. Dan dia bersumpah akan menyesatkan manusia dari kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

Artinya: “ Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al Araf: 16-17)

Sumpah ini tidak main-main. Betapa banyak manusia yang menjadi pengikut setan dan menjadi wali-walinya di bumi. Mereka membuat kerusakan di bumi dengan berbagai perbuatan syirik dan kemaksiatan. Mereka selalu mengajak manusia untuk memenuhi jalan-jalan menuju Neraka. Sebaliknya, mereka menghalang-halangi manusia dari jalan kebenaran dan jalan menuju Surga.

Allah Ta’ala juga sudah memperingatkan kita tentang setan dalam ayat-Nya:

QS. Fatir Ayat 6

Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Setan ada dua jenis. Setan yang berbentuk jin dan setan yang berbentuk manusia. Jika yang berbentuk jin mempengaruhi manusia lewat jalan darah, maka setan berbentuk manusia lebih berbahaya dengan mempengaruhi manusia lewat hal-hal yang nyata sehingga sedikit dari mereka yang selamat darinya.

Ada cara yang diajarkan oleh Islam dalam melawan setan. Di antaranya adalah dengan tawakal, meninggalkan maksiat, serta senantiasa dzikirullah dengan membaca Al-Qur’an dan doa-doa harian. Sedangkan setan dalam bentuk manusia, kita harus jauhi majelis-majelis mereka, nahi munkar terhadap mereka dan bahkan menggunakan kekuatan jika diperlukan menghentikan berbagai kemaksiatan dan kesyirikan yang mereka lakukan.

Musuh manusia yang kedua, nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan.

Hawa nafsu ini cenderung kepada kebatilan, menghalangi manusia agar tidak menerima kebenaran dan tidak mengamalkannya. Jika jiwa itu muthma’innah (tenang dalam kebenaran), lebih mengutamakan yang hak, maka ia akan membimbing manusia ke arah yang benar dan berjalan di atas jalan keselamatan.

Rasulullah memberikan sebuah standart keimanan yang lurus hingga dapat menundukkan hawa nafsunya. Beliau bersabda:

Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Arba’in An-Nawawiyah)

Yang lebih parah lagi adalah menjadikan hawa nafsu ini sebagai ilah, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Disebutkan dalam firman Allah:

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.”

Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang memerintahkannya hanyalah hawa nafsunya. Sesuatu yang dianggap baik jika hawa nafsunya menganggap baik sehingga dia mengerjakannya. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap jelek jika hawa nafsunya menganggap jelek sehingga dia meninggalkannya.”

Seseorang yang selalu memperturutkan segala keinginannya, dia tidak akan peduli dengan akibat buruknya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan, di bawah kolong langit ini, tidak ada yang lebih jelek dibandingkan hawa nafsu yang diperturutkan.

Musuh manusia yang ketiga, gemerlap dunia, kenikmatan dan perhiasannya.

Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana. Bahkan Rasulullah lebih takut jika umatnya nanti dibukakan berbagai pintu-pintu dunia dibandingkan jika umat beliau ditimpa kemiskinan.

Artinya: “Tidaklah kefakiran aku takutkan atas kalian. Akan tetapi yang aku takutkan jika dibukakan atas kalian dunia sebagaimana telah dibukakan terhadap orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian berlomba-lomba terhadapnya sebagaimana mereka berlomba-lomba terhadapnya, dan kalian celaka sebagaimana mereka telah celaka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak orang yang tertipu terhadap dunia. Mereka menjadi hamba dunia sehingga lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan kepadanya. Tidaklah mereka berbuat kecuali hanya karena dunia. Sungguh ini adalah kecelakaan yang amat besar.

Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah!

Demikian beberapa musuh yang sering menghalangi manusia untuk melaksanakan ketaatan. Semoga Allah melindungi kita semua dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan.

KHUTBAH KEDUA

Jika musuh dapat menguasai seorang manusia, maka dampak yang terlihat adalah tidak semangat dalam melakukan ketaatan. Dan sebaliknya, korbannya justru semangat dan tidak takut melakukan perbuatan maksiat. Lebih parah lagi jika bangga menjadi ahli maksiat.

Meski begitu, Allah tidak membiarkan hamba-hamba-Nya untuk menghadapi musuhnya seorang diri. Allah berjanji akan menolong manusia dalam menghadapi musuh-musuhnya. Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, serta memerintahkan manusia agar memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan amalan yang susah atau yang berat baginya.

Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh kita, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, dalam menegakkan kebenaran, dan senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan