Orang Beriman Tak Mengenal Istilah “Jujur Ya Ajur”

1,307,153

BERANIDAKWAH.COM | Orang Beriman Tak Mengenal Istilah Jujur Ya Ajur. Dikisahkan, Abdul Qadir Al-Kilani seorang remaja yang dikirim ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Oleh sang ibu dia dibekali uang sejumlah 40 dinar dan dipesan untuk selalu berkata dan bersikap jujur. Diapun dititipkan pada sebuah kafilah dagang yang bertolak dari Makkah menuju Baghdad. Ketika rombongan sudah sampai di Hamadan, tiba-tiba mereka dicegat oleh kawanan perampok. Mereka pun merampas semua dagangan kafilan tersebut.

Sejurus kemudian, salah seorang perampok menghampiri Al-Kilani dan bertanya,”Apa yang kamu bawa?” Al-Kilani menjawab,”Aku membawa uang 40 dinar.” Perampok yang bertanya tadi tidak menanggapi dengan serius dan meninggalkan Al-Kilani. Dia mengira bahwa pemuda itu hanya bercanda saja.

Tetapi anggota perampok yang lain menghampiri dan mengajukan pertanyaan yang sama. Al-Kilani pun menjawab dengan sama, “Aku membawa uang 40 dinar”. Lalu oleh perampok tersebut Al-Kilani dibawa kepada pemimpin perampok. Seperti anak buahnya, pemimpin perampok tadi juga mengajukan pertanyaan yang sama dan dijawab sama pula oleh Al-Kilani.

Setelah mengetahui bahwa Al-Kilani benar mempunyai uang sebesar 40 dinar, lantas ia keheranan kenapa Al-Kilani berkata jujur padahal mau dirampok. Dia pun bertanya,”Kenapa kamu berkata jujur?” Al-Kilani menjawab,”Ibu selalu berpesan kepadaku untuk berkata jujur. Aku takut mengkhianati pesan ibuku.”

Mendengar jawaban Al-Kilani membuat sang pemimpin perampok tadi gemetaran. Dia pun berkata,”Kamu takut mengkhianati ibumu yang berpesan untuk selalu jujur, padahal aku telah mengkhianati janji Allah.”

Seketika itu juga sang pemimpin perampok tadi bertaubat dan memerintahkan untuk megngembalikan seluruh harta yang telah dijarahnya. Dia dan seluruh anak buahnya bertaubat pada waktu itu juga.

Kejujuran, Menjadi Hal Yang Langka

Demikian tadi sebuah kisah kejujuran dari Al-Kilani yang bisa membuahkan hidayah bagi orang lain. Demi mempertahankan kejujuran, Al-Kilani tidak takut kehilangan uang 40 dinar. Bila di rupaiahkan nilainya kurang lebih mencapai 80 juta, sungguh nilai sebuah kejujuran lebih berharga dari uang bagi seorang Al-Kilani.

Tentu sebuah sikap yang sangat jarang kita temui pada masa ini, dimana di zaman ini kebanyakan manusia lebih memilih untuk menggadaikan kejujuran demi harta kekayaan. Lebih memilih berdusta daripada takut kehilangan harta yang telah dimilikinya. Mirisnya lagi ada sebuah trend di kalangan masyarakat yang menyatakan bahwa “jujur ajur”. Maksudnya adalah jika berkata jujur maka merugi besarlah kita, apakah sudah sedemikian parahkah moral manusia saat ini?

Namun begitulah faktanya, lihat saja orang-orang yang berbuat jujur justru di musuhi. Seperti siswa yang tidak mau mencontek malah di mushi oleh teman-temannya, seorang pegawai yang jujur tidak mau menerima suap justru dikatakan sok suci, seorang yang tulus bersedekah dikatakan sok kaya. Inilah gambaran akhirx zaman yang penuh dengan fitnah.

Jujur Membawa Nikmat

Jika keadaan dan lingkungan sudah tidak lagi mendukung untuk bersikap jujur? Lantas untuk apa kita terus mempertahankan kejujuran?

Sebagai orang beriman, pertanyaan yang seperti di atas tadi harus kita tepis jauh-jauh. Itu merupakan sebuah bisikan atau godaan syiatan untuk menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dibawah ini

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah : 119)

“Hendaklah kalian jujur karena kejujuran itu membawa kebaikan, sedangkan kebaikan itu membawa pada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai orang yang selalu jujur.” (HR. Muslim)

Jika kita mengaku sebagai orang beriman, masihkah kita meragukan kedua perintah tersebut? Tinta sejarah juga telah menorehkan betapa kejujuran mampu membuahkan keberkahan. Bukankah Rasulullah disukai baik kawan maupun lawan karena kejujurannya, dari rahim seorang perempuan yang tidak mau mencapur susu dengan air lahirlah Umar bin Abdul Aziz, kejujuran dari seorang Mubarak yang tidak pernah memakan buah delima mendapatkan wanita cantik nan sholehah, dan masih banyak lagi kisah kejujuran berbuah keberkahan.

Menerapkan Kejujuran

Deretan kebaikan yang merupakan buah dari kejujuran telah kita ketahui bersama. Kini saatnya kita mengaplikasi kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Lalu dalam hal apa saja kita harus jujur? Berikut ulasannya:

1. Jujur Dalam Berbicara

Inilah ukuran kejujuran yang paling mudah diketahui. Jujur dalam berbicara benar-benar bisa menjadi tolak ukur keimanan seseorang. Sebab salah satu tanda kemunafikan adalah bila berkata berdusta. Jika kita mampu mengaplikasi jujur dalam berbicara, insya’allah kita terbebas dari sifat munafik.

2. Jujur Dalam Bermuamalah

Dalam berinteraksi dengan orang lain kita sepatutnya menerapkan nilai kejujuran. Baik dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan rumah, tempat kerja, kegiatan jual beli dan aktivitas lain dimanapun berada. Karena dengan kejujuran, hidup kita akan disertai dengan keberkahan.

3. Jujur Dalam Berpenampilan

Penampilan dapat menipu pandangan manusia, sekarang ini banyak sekali orang yang berpenampilan kaya sehingga ia mengada-ada yang sesungguhnya tidak ia miliki. Bukan berarti pula kita harus memakai pakaian compang camping untuk menunjukkan kezuhudan  atau kemiskinan. Tapi dengan berpenampilan sesuai dengan tempatnya tanpa ada niatan untuk dipuji oleh orang lain.

4. Jujur Dalam Berakhlak

Maksud dari hal ini adalah keihklasan dan kebenaran dalam menjalan perintah Allah dan Rasul-Nya. Tidak seperti lisan yang berkata cinta kepada Allah, rindu kepada rasul namun sangat menyimpang jauh dari perintah Allah dan sunah-nya.

Kiat Menerapkan Kejujuran

Sikap jujur tidak didapatkan dengan mudah, seseorang yang mampu bersikap jujur sudah pasti tingat keimanan dan ketakawaan kepada Allah begitu kuat. Lalu bagaimana kiat kita untuk membiasakan diri bersikap jujur?

1. Mengingat-ingat keutamaan dari kejujuran

Rasulullah telah memotivasi umatnya untuk berkata jujur dalam sabda beliau, “Jaminlah untukku enam hal dari diri kalian niscaya aku menjamin surga untuk kalian. Yaitu : jujurlah jika kalian berbicara, penuhilah janji kalian, tunaikanlah apa yang diamanatkan kepada kalian,….(HR. Ahmad)

2. Membayangkan akibat berdusta

3. Memperbanyak membaca kisah-kisah teladan, terutama mengenai kejujuran

4. Berteman dengan orang-orang jujur

5. Menjauhi pergaulan dengan pendusta

6. Mencintai orang yang jujur

7. Memperbanyak doa

Kesimpulan

Rasulullah bersabda, “Empat hal yang jika semuanya ada pada dirimu, maka tidak perlu bersedih atas hilangnya dunia dari dirimu. Empat hal itu: menjaga amanat, jujur dalam berbicara, akhlak yang baik dan makan yang halal.” (HR. Ahmad)

Istilah ‘jujur ya ajur’ tidaklah berlaku bagi orang-orang mengutamakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan gemerlapnya dunia ini. Marilah senantiaasa berdoa kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang jujur. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan