Pedagang Jujur Akan Bersama Para Nabi, Shiddiq dan Mujahid Di Surga

21,134

BERANIDAKWAH.COM | Pedagang Jujur Akan Bersama Para Nabi, Shiddiq, Dan Mujahid Di Surga. Mencari nafkah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang suami atau ayah terhadap isteri dan anak-anaknya. Adalah suatu dosa yang besar jika sampai ia menyia-nyiakan hak isteri dan anak-anak dan orangtua yang telah menjadi tanggunggannya. Terlebih lagi jika seorang suami justru menyuruh isteri atau anak-anaknya untuk bekerja sementara dia hanya duduk santai menikmati hasilnya padahal kondisi jasmani dan rohaninya sehat.

Dari Wahb bin Jabr ia berkata, “Aku pernah melihat Abdullah bin Amru bin Ash berada di Baitul Maqdis lalu ditemui pelayannya. Pelayan tersebut berkata, ‘Pada bulan ini (Ramadhan), aku ingin berada di tempat ini.’ Abdullah segera melontarkan pertanyaan, ‘Apakah engkau sudah menyiapkan kebutuhan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘belum’. Abdullah pun memberikan nasihat, ‘Pulanglah, penuhi kebutuhan untuk keluargamu. Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda,

“Cukuplah seorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orng yang menjadi tanggunggannya.” (HR. Abu Daud)

Mengais Rezeki Dengan Berdagang

Banyak sekali ragam profesi yang halal dan baik untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah. Namun yang Rasulullah ajarkan serta anjurkan adalah berdagang, kenapa demikian? Karena Rasulullah pun seorang pedagang dan juga banyak dari kalangan sahabat sendiri mencari uang dengan berdagang. Contohnya saja Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan masih banyak lagi.

Ada sebuah hadist juga yang cukup terkenal di kalangan muslim Indonesia mengenai berdagang. Bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari bergadang, namun sebagian ulama’ mendhaifkan hadits tersebut. Sedangkan hadits yang benar atau shahih tentang keutamaan berdagang adalah:

“Sebaik-baik pekerjaan adalah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan jual beli dengan cara yang baik.” (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Karena itulah, Abu Qilabah pernah memberikan nasihat kepada Ayuub As Sikhtiyani, “Wahai Ayyub tetaplah berada di pasar karena di dalamnya terdapat rasa cukup dari orang lain dan terdapat kebaikan untuk agama.”

Berdagang Dengan Jujur, Insyaallah Berkah

Berdagang memang profesi yang cukup mudah, hampir semua orang bisa melakukannya. Namun jual beli yang mengedepankan estika dan komitmen dengan ajaran-ajaran Islam, bukan hal yang mudah. Apalagi di jaman sekarang ini, kebanyakan berdagang hanya asal dagang. Prinsipnya yang penting untung, tanpa mempedulikan apakah itu cara yang baik atau buruk, cara yang benar atau menentang Islam, atau terpikirkan akan merugikan pembeli.

Bahkan seringkali pedagang rela berbohong untuk menawarkan barang dagangnya kepada pelanggan, hal ini karena pedagang tersebut sudah tidak peduli lagi caranya yang penting dapat keuntungan. Amat sedikit sekali diantara mereka (pedagang) yang berlaku jujur.

Padahal sudah jelas Nabi Muhammad mencontohkan bagaimana cara beliau berdagang tanpa merugikan pembelinya, yaitu dengan kejujuran. Dan justru dengan cara itulah pedagang bisa meraup untung yang berlipat, tidak hanya di duniawi juga mendapatkan keuntungan di akhirat karena pahala besar di balik kejujuran. Seperti sabda Rasulullah berikut ini,

“Pedagang yang selalu jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang senantiasa jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Tirmidzi, sanadnya hasan)

Bukannya malah berprinsip “jujur ya ajur”, itu jelas sekali bukan prinsip bagi orang-orang beriman. Ibrahim An-Nakhai pernah ditanya, “Mana yang lebih Anda sukai, pedagang yang jujur atau orang yang menyibukkan diri dengan ritual ibadah?” Beliau menjawab: “Aku lebih menyukai pedagang yang jujur, karena ia terus berjihad. Setan terus mendatanginya ketika menakar, menimbang, mengambil, tetapi ia berupaya keras untuk menentangnya.”

Di antara bentuk kejujuran dalam bisnis hendaknya seorang pedagang berkomitmen untuk memberikan penjelasan yang transparan kepada konsumen tentang barang-barang yang dijualnya, tidak menutup-nutupi kekurang dari barang dagangannya. Juga tidak berkhianat, tidak ingkar janji maupun berbohong dalam menawarkan barang dagangannya. Cara-cara seperti inilah yang akhirnya tidak menjadi rezeki tersebut berkah, meskipun secara kasat mata mendapat keuntungan berupa uang. Namun tidak dengan pahala di sisi Allah.

Hafsh bin Abdurrahman adalah seorang rekan kerja Abu Hanifah. Biasanya Abu Hanifah menyuplai barang kepadanya. Beliau menitip pesan bahwa ada beberapa baju yang cacat. Maka jika ingin menjualkan, tolong terangkan cacatnya. Setelah itu Hafsh pun menjual barang dagangannya dan dirinya lupa menerangkan barang yang cacat tadi ditambah tidak ingat kepada siapa ia menjualnya tadi. Tatkala Abu Hanifah mengetahuinya, beliau mensedekahkan seluruh barang dagangannya tadi.

Tidak Menghalalkan Segala Cara

Ketika manusia lahir Allah sudah menetapkan empat hal kepadanya, yaitu umurnya, jodohnya, rezekinya dan matinya. Maka tidak sepantasnya jika menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan dengan menghalalkan segala cara. Sebab Allah telah membagi-bagi rezeki kepada setiap hamba dengan sedail-adilnya.

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepadaNya.” (HR. Al Hakim)

Istri para salaf, jika suaminya keluar dari rumahnya untuk bekerja. Mereka pun berpesan, “Janganlah kalian bekerja dengan cara yang haram. Sungguh kami bisa bersabar dari rasa lapar namun tidak mampu bersabar dari azab api neraka.”

Karena itulah, Ibnu Sirrin pernah meninggalkan rabat sebesar 40 ribu gara-gara ada sesuatu yang tidak jelas halal-haramnya masuk ke dalam perut beliau.

Untuk penutup mari sejenak kita renungkan perkataan dari Hasan Al Basri berikut ini: “Sungguh malang nasib anak Adam. Ia ridha tinggal di negeri yang halalnya dihisab dan haramnya akan diadzab. Bila ia mengambil dunia dari yang halal, ia akan dihisab dan bila mengambil dari yang haram, akan diazab. Anak Adam selalu merasa kurang dengan harta dunianya, tapi tidak merasa kalau baru sedikit amalnya. Ia senang dengan musibah yang menimpa agamanya dan mengeluh dengan musibah yang menimpa dunianya.”

Jangan lupa baca juga yuk:

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan