Pembahasan Tauhid Uluhiyah

10,744

BERANIDAKWAH.COM | Pembahasan Tauhid Uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakann Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, qurban, raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama (Nuh) hingga rasul yang terakhir (Muhammad).

Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu”.” (QS. An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian Aku’.” (QS. An-Anbiya: 25)

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Syu’aib dan lain-lain:

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya” (QS. Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya.” (QS. Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama’.” (QS. Az-Zumar: 11)

Kewajiban awal bagi setiap mukallaf adalah bersaksi laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta mengamalkannya. Allah berfirman:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu…” (QS. Muhammad: 19)

Dan kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk islam adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Jadi jelaslah bahwa tauhid uluhiyah adalah maksud dari dakwah para rasul. Disebut demikian, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya, “Allah”, yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah).

Juga disebut juga ‘tauhid ibadah’, karena ubudiyah adalah sifat ‘abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikiaskan, tetapi dari beberapa segi mirip dengan kebutuhan jasad terhadap makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, tidak akan bisa baik kecuali dengan kehendak Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingatNya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah dari satu macam ke macam lain, dari satu orang ke orang lain.

Adapun Tuhannya (yaitu Allah) maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, dimana pun ia berada maka Dia selalu menjawabnya. Tauhid uluhiyah adalah inti dari dakwah rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah yang dikerjakan tidak akan diterima.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisa: 48, 116)

“…seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Semoga bermanfaat.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan