Khutbah Jumat: Pengingat Kematian!

997

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang pengingat kematian. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Syukur dengan ucapan Alhamdulillah jangan sampai terlupa kita ucapkan, karena itulah ungkapan syukur yang paling ringan atas segala nikmat-Nya yang tidak dapat kita hitung hingga detik ini. Dengannya semoga Dia menambah karunia-Nya kepada kita, dan ridha-Nya meliputi kita semua. Tidak lupa shalawat dan salam kita ucapkan kepada sebaik-baik makhluk dan sebaik-baik tuntunan yang menghantarkan keselamatan dunia dan akhirat.

Selaku khatib, kami menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan yang salah satu unsurnya adalah selalu dalam keadaan siap menyambut kematian. Siap menyambutnya dengan cara memperbaiki amal dan istiqamah dengannya.

Allah telah menggariskan bagi makluk-makhluk-Nya yang bernyawa dengan kematian. Dia menjadikan waktu kedatangannya tidak diketahui siapa pun selain-Nya. Hanya saja, Allah Ta’ala menjadikan pertanda yang menjadi peringatan akan kedatangannya dan mengirim utusan-utusan sehingga makhluknya tersadar.

Di antara manusia ada yang sadar dan menyiapkan bekal sebelum kematian itu datang, dan dia selalu mengingatnya. Di antara manusia ada juga yang melalaikannya dan enggan mengingatnya. Orang seperti ini berada dalam kecelakaan dan kerugian. Ketika kematian tiba-tiba menghampirinya, barulah dia akan mengatakan, “Duh, meruginya diriku, kenapa aku dulu meremehkan hak Allah dan dulu aku termasuk orang-orang yang menyepelekan.” Dia pun berandai-andai kalau saja dapat kembali ke dunia setelah mati sehingga melakukan amal shalih yang telah ia tinggalkan semasa hidupnya. Tetapi itu mustahil terjadi, sebab kalau toh di akembali dan diberi kesempatan pasti akan mengulangi perbuatan yang dulu dia dilarang melakukannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke Neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,’ (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (Al-An’am: 27-28)

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Penyakit paling dahsyat yang menjangkiti manusia adalah penyakit lalai. Penyakit ini mengeraskan dan menggelapkan hati, menjadikan hati kehilangan kehidupannya, serta mengajak manusia untuk cenderung kepada dunia dan melupakan akhirat. Orang yang lalai hidup mengikuti angan-angan dengan melupakan ajal, enggan beramal dan diliputi rasa malas. Adapun orang yang cerdas dan cerdik adalah yang senantiasa terlihat dalam keadaan waspada. Di antara bentuk kewaspadaan itu adalah selalu mengingat tanda peringatan kematian atau mengingatkan orang lain tentangnya, sehingga jiwanya merasa tenang ketika kematian tiba dan dia pun berbaik sangka kepada Rabb-nya.

Disini kita akan menyebutkan beberapa tanda yang mengingatkan tibanya kematian untuk menjadi peringatan sekaligus i’tibar. Akan kami sebutkan secara ringkas, karena sebenarnya banyak sekali tanda-tanda kematian, di antaranya:

Peringatan Pertama, berjalannya hari demi hari dan berlalunya tahun demi tahun yang terasa cepat

Tiap detik mengurangi menit, tiap menit mengurangi jam, tiap jam mengurangi hari, tiap hari mengurangi pekan, tiap pekan mengurangi bulan, tiap bulan mengurangi tahun, dan tiap tahun mengurangi umur. Bukankah umur kita tak lebih dari kumpulan-kumpulan menit dan jam, kumpulan hari dan pekan, serta kumpulan bulan dan tahun? Dan jika satu jam telah lewat, sampai hari Kiamat pun ia tak akan pernah bisa kembali. Demikian juga dengan hari, bulan dan tahun.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata kepada seorang lelaki, “Berapa umurmu?” “60 tahun,” jawab lelaki itu. Fudhail berkata, “Sejak 60 tahun lalu kamu berjalan menuju Rabb-mu dan kini engkau hampir sampai. Ketahuilah bahwa dirimu adalah hamba Allah, kepada-Nya kamu akan kembali, dan kelak engkau akan berdiri di hadapan-Nya, kemudian engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai umur dan kehidupanmu, maka persiapkanlah jawaban untuk menjawab pertanyaan.” Lelaki itu berkata, “Lantas, apa solusinya?” “Mudah,” kata Fudhail. “Apa itu?” tanyanya. Fudhail berkata, “Lakukanlah kebaikan pada sisa umurmu niscaya engkau terampuni pada apa yang telah lampau, karena jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dihukum berdasarkan perbuatanmu di masa lampau dan yang masih tersisa.”

Peringatan Kedua, Sakit.

Ini adalah peringatan yang paling jelas. Karena dengan adanya sakit, kesehatan jadi berkurang, dengannya pula kekuatan melemah. Pada akhirnya badan menjadi semakin berat sehingga tak jarang orang tak lagi mampu berdiri, bahkan duduk. Dia juga harus kehilangan nikmatnya makanan dan minuman, nafasnya menjadi sesak dan tubuhnya semakin berat, tubuhnya terbaring di ranjangnya.

Padahal, akhir dari sakit, kalau bukan sehat kembali hingga batas waktu tertentu, bisa juga berujung kematian dan atau kebinasaan. Islam betul-betul memerhatikan hak-hak orang sakit agar penderita merasa lapang dan terhibur. Makanya Islam menganjurkan untuk mengunjungi orang sakit.

Tsauban meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa menjenguk orang sakit, dia berada di kebun Surga sampai pulang.” (HR. Muslim)

Orang yang sakit sudah seharusnya menyadari peringatan ini, mereka isi akhir kehidupan dengan perbuatan yang membuat Allah ridha dan bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya.

Dikisahkan bahwa dulu ada seorang salaf jatuh sakit, lalu anak-anaknya berkata kepadanya, “Ucapkanlah La Illah Illallah,” dia menjawab, “Wahai anak-anakku, aku sekarang sedang mengucapkan wiridku (Al-Qur’an) yang keenam.” Sungguh bahagialah orang-orang jujur, mereka tidak meninggalkan wirid mereka walaupun dalam kondisi sakit keras.

Sekarang, sudahkah orang-orang sehat yakin bahwa sakit adalah peringatan bahwa sebentar lagi mereka akan pergi, lalu mereka mempergunakan kesehatan dan waktu mereka untuk melakukan perniagaan dengan Allah dan mereka gunakan kesehatan itu sebelum sakit sehingga kelak tidak tertipu dan hanya gigit jari karena menyesal?

Baca Juga : Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Kematian

Peringatan Ketiga, umur yang sudah tua

Masa tua adalah masa ketika fisik melemah setelah sebelumnya kuat, memutihnya rambut setelah sebelumnya hitam, dan membungkuknya badan setelah tadinya tegak.

Allah Ta’ala berfirman, “Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)

QS. Fatir Ayat 37

Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”

“Pemberi peringatan” dalam ayat ini, sebagian penafsiran adalah uban yang dimaksud. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Allah memaklumi udzur (alasan) seseorang yang dipanjangkan umurnya hingga dia berusia 60 tahun.” (HR. Bukhari)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Dikisahkan ada seorang nabi berkata kepada malaikat Maut, ‘Kenapa kamu tidak mengirim utusan sebelum kamu datang sehingga manusia bersiap siaga menjelang kedatanganmu?’ Malaikat Maut berkata, ‘Sudah, demi Allah. Aku punya banyak utusan berupa penyakit-penyakit, uban, berbagai kesusahan, dan memudarnya pendengaran dan penglihatan. Jika mereka tidak mengambil pelajaran ketika tertimpa semua itu dan tidak mau bertaubat, maka ketika aku cabut nyawanya aku berseru kepada mereka, ‘Bukankah telah kukirim utusan dan peringatan yang saling susul menyusul? Kini akulah utusan terakhir yang tidak ada lagi utusan setelahku. Akulah pemberi peringatan terakhir yang tidak ada lagi pemberi peringatan setelahku’.”

Maka tidaklah satu hari yang matahari terbit dan tenggelam di dalamnya melainkan malaikat Maut berseru, “Hai kalian yang berusia 40 tahun, saatnya untuk berbekal, pikirkan kalian telah matang dan fisik kalian kuat dan kokoh. Wahai kalian yang berusia 50 tahun, waktu mengetam dan mengambil hasil sudah dekat. Wahai kalian yang berusia 60 tahun, kalian telah melupakan adzab dan melalaikan pertanggungjawaban (di hadapan Allah), maka tidak ada penolong bagi kalian.” (At-Tadzkirah tulisan Al-Qurthubi: I/61)

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Masa tua adalah masa lemah setelah kuat. Jika kita perhatikan orang yang sudah tua, dia berjalan dengan tiga: dua kaki dan satu tongkat, melihat dengan empat, dua mata dan dua kacamata, dan mendengar dengan empat: dua telinga dan dua alat bantu pendengaran.

Dan jika kita perhatikan lagi, sendi-sendi tulangnya gemetar seolah-olah mengatakan, “Ini adalah maklumat akan adanya perpindahan dari dunia menuju akhirat.”

Masih banyak peringatan kematian lainnya yang belum terpaparkan, tetapi cukuplah dengan tiga ini menjadikan kita siap dalam menghadapi kematian. Janganlah kita menjadi orang yang lalai saat kematian menjemput. Tetapi jadilah orang yang sadar dan menyiapkan bekal menuju kematian hingga mendapat keberuntungan kelak di akhirat. Semoga kita disadarkan untuk memahami tanda-tanda dekatnya kematian tersebut, sehingga kita meninggal dunia dalam keadaan khusnul khatimah (akhir yang baik).

KHUTBAH KEDUA

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Di khutbah kedua ini kami kembali mengingatkan pada hakikatnya masing-masing kita sedang antri menunggu giliran meninggalkan dunia yang fana ini. Tiada satu hari berlalu kecuali sebagian kita meninggalkan sebagian yang lain. Setua umur kita, atau sepanjang apapun usia kita, kita tetap saja akan mendapat gilirannya. Orang yang cerdas adalah yang selalu mempersiapkan dirinya menjemput maut, beramal untuk setelah mati, dan melihat amal-amalnya sebelum kematian datang. Kebahagiaan adalah bahagia setelah mati.

Marilah di akhir khutbah ini kita bersama-sama sejenak menundukkan kepala, dengan hati yang tunduk dan patuh, diliputi rasa takut untuk memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan