Penjelasan Mengenai Zakat Hutang

400,806

BERANIDAKWAH.COM | Penjelasan Mengenai Zakat Hutang. Pada masalah zakat hutang ada perbedaan pendapat: apakah orang hutang dianggap harta yang memberi hutang, karena dia adalah pemilik sebenarnya? Ataukah menjadi milik orang yang berhutang karena dialah yang mengelola harta tersebut dan mengambil manfaat darinya? Ataukah keduanya mendapat dispensasi karena kepemilikan masing-masing tidak sempurna?

Pendapat yang paling adil mengenai zakat hutang adalah bahwa hutang itu ada dua, yaitu:

1. Hutang yang ada harapan akan dilunasi. Artinya yang berhutang adalah orang yang lapang rezeki dan jujur mengakui hutang. Nah, hutang yang seperti ini disegerakan zakatnya bersamaan dengan harta yang ada dalam hitungan satu tahun (haul). Pendapat ini diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid di dalam Al-Amwal (hal. 432) dari Umar, Utsman, Ibnu Umar dan sahabat-sahabat lain, serta dari kalangan tabi’in.

2. Hutang yang tak ada harapan kembali/ dilunasi, yaitu yang berhutang adalah orang yang kondisinya sulit dan tidak ada harapan kemudahannya, atau orang yang mengingkari hutang sementara tidak ada bukti jika ia berhutang. Nah yang seperti ini ada yang berpendapat dizakati ketika telah bisa ditagih meskipun telah lewat waktu bertahun-tahun, ini adalah pendapat Ali dan Ibnu Abbas. Hadits ini dinilai dhai’if oleh Al-Albani di dalam Al-Irwa’ (786).

Pendapat lainnya: tidak perlu dizakati sama sekali, baik untuk bertahun-tahun yang telah lewat maupun tahun dimana hutang itu dibayar (pendapat madzhab Abu Hanifah). Syaikhul Islam berkata (25/48): “Pendapat orang yang tidak mewajibkan zakat sama sekali sampai mencapai satu tahun, atau yang mewajibkan zakat sekali saja yaitu ketika pembayarannya, masing-masing memiliki alasan mendapat.”

Diriwayatkan secara shahih dari Utsman bin ‘Affan bahwa ia berkata: “Ini adalah bukan zakat kalian, maka barangsiapa yang memiliki hutang hendaknya melunasi supaya harta kalian terkumpul dan kalian bisa menunaikan zakatnya.” (HR. Malik dan Al Baihaqi)

Faedah:

Siapa yang di tangannya terdapat harta yang sudah wajib zakat padahal dia berhutang, jika hutang ini mengenai nishab, dengan kata lain hutang itu jika diambil menjadikan harta berkurang dari nishab, maka tidak wajib zakat.

Jika hutang tersebut hanya mengurangi jumlah harta yang sudah melebihi nishab, maka diambilkan dulu untuk melunasi hutang baru kemudian sisanya dizakati. Sebagai contohnya, jika seseorang memiliki harta berjumlah tiga puluh dinar, sementara ia punya hutang lima dinar, maka yang dizakati adalah dua puluh lima dinar.

Kepemilikan harta telah berlalu selama satu tahun hijriyah penuh (telah mencapai haul). Ini hanya disyaratkan pada harta emas, perak dan hewan ternak. Adapun tanaman dan buah-buahan, maka tidak disyaratkan, karena haulnya adalah ketika sudah sempurna dan matang. Dan ini adalah perkara yang telah disepakati (ijmak) oleh semua fuqaha di semua penjuru. (Bidayat At-Mutjahid dan Majmu’ Fatawa)

Di sini muncul sebuah pertanyaan, yaitu: Hukum harta yang dikembangkan di tengah-tengah haul.

Harta yang dikembangkan di tengah-tengah haul ada tiga macam:

1. Harta yang dikembangkan itu diambil dari keuntungan harta yang ia miliki, tetapi masih satu jenis, seperti keuntungan dari sebuah perniagaan atau hasil perkembangbiakkan dari hewan ternak. Yang seperti ini wajib digabungkan dengan harta pokoknya, haulnya sama dengan haul harta pokok tersebut. Ibnu Qudamah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.”

2. Harta yang dikembangkan bukan sejenis dengan harta yang ia miliki. Contohnya, harta dia adalah unta, lalu ia mengembangkan emas yang ia dapat dari warisan atau yang semisal. Yang seperti ini, haul-nya dihitung sejak hari ia mengembangkannya jika telah mencapai nishab dan tidak ada sangkut pautnya dengan harta pokok yang ia miliki tadi.

3. Harta yang dikembangkan masih satu jenis dengan harta yang ia miliki dan juga sudah mencapai nishab, akan tetapi hasil tersebut bukan berasal dari pengembangan harta yang pertama. Contohnya: seseorang memiliki 40 ekor kambing hingga melewati sebagian waktu haul, setelah itu ia membeli atau diberi kambing sebanyak 100 ekor. Maka untuk yang seperti ini ada dua pendapat:

  • Pertama: Harta yang dikembangkan tadi digabung dengan harta pertama dalam hal nisbah, tapi bukan dalam hal haul, maka masing-masing dizakati sesuai haul-nya sendiri-sendiri. (ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbali)
  • Kedua: Harta yang dikembangkan digabung dengan harta pertama, keduanya dizakati bersama, jika harta pertama telah mencapau haul. (ini adalah pendapat madzhab Hanafi)

Semoga penjelasan mengenai zakat hutang di atas bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan agama kita. Jazzakumullah khorin katsir.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan