Penjelasan Tentang Istitha’ah dan Ayat-Ayatnya

109,575

BERANIDAKWAH.COM | Penjelasan Tentang Istitha’ah dan Ayat-Ayat Istitha’ah. Pembahasan istitha’ah ini erat kaitannya dengan pembahasan iman kepada takdir. Dan sebagaimana dalam pembahasan iman kepada takdir kaum muslimin terbelah menjadi tiga kelompok, dalam hal ini istitha’ah ini pun mereka terbelah menjadi tiga. Kelompok Jabriyah, Qadariyah, dan Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan matan ke-91 ini Abu Ja’far ath Thawawi menegaskan prinsip dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah berkenaan dengan pembahasan ini.

Definisi Istitha’ah

Secara bahasa, istitha’ah berarti kesanggupan, kekuatan, kemampuan dan potensi untuk melakukan sesuatu. Secara syar’i makna istitha’ah dijelaskan oleh ayat-ayat berikut ini,

“Mengapa haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu!.” (QS. At Taghabun : 16)

“Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduannya bercampur. Maka siapa yang tidak mampu, (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin.” (QS. Al Mujadalah : 4)

“Mereka selalu tidak mampu mendengar dan mereka selalu tidak mampu melihat (kebenaran).” (QS. Hud : 20)

“Dia menjawab,’’Sesungguhnya kamu sekali-kali selalu tidak mampu sabar bersamaku.” (QS. Al Kahf : 67)

Dari beberapa ayat dia atas dapat disimpulkan bahwa istitha’ah berarti kesanggupan, kekuatan, kemampuan dan potensi.

Keliru Berbuah Keliru

Berangkat dari akidah mereka yang keliru, Jabriyah dan Qadariyah pun keliru memahami ayat-ayat istitha’ah di atas.

Jabriyah menyatakan bahwa istitha’ah mengiringi terjadinya perbuatan. Yang demikian itu lantaran Jabriyah berpaham, semua manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir nihil keinginan dan kekuatan. Ketaatan, kemaksiatan dan kekafiran mereka, sepenuhnya terjadi dengan kehendak Allah. Manusia hanya mengambil peran seumpama wayang ditangan seorang dalang.

Pendapat ini jelas keliru, apa yang kita rasakan adalah bukti yang tak terbantahkan. Bukankah setiap perbuatan baik atau perbuatan buruk yang kita lakukan adalah tanpa ada paksaan? Bukankah kita bebas untuk memilihnya? Allah pun berfirman,

“Katakanlah,’’Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, barangsiapan yang ingin (beriman) silahkan ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) silakan ia kafir.” (QS. Al Kahf : 29)

“(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, suapaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk : 2)

Berhadapan dengan Jabriyah, Qadariyah juga hanya menetapkan satu istitha’ah. Istitha’ah yang berupa terpenuhinya berbagai sebab, adanya kekuatan, kemampuan dan potensi. Seperti seseorang yang dalam keadaan sehat berpotensi dan berkemampuan untuk mengerjakan shalat dengan sempurna. Qadariyah dan mereka yang sependapat dengan mereka – Mu’tazilah salah satunya – berpaham demikian lantaran menurut mereka, semua manusia itu bebas mutlak dalam beribadah tanpa ada peran Allah didalamnya.

Posisi Allah mereka samakan dengan orangtua yang memberikan pedang kepada anak-anaknya. Mereka bebas memilih mau menjadikannya sebagai alat untuk perang di jalan Allah atau hanya menjadi perampok.

Pendapat seperti ini jelas salah dan merusak, menurut kesepakatan Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa Allah memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya yang taat berupa kenikmatan keagamaan, khusus untuk mereka tidak untuk orang-orang kafir. Allah menolong mereka untuk taat, sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat : 7)

Qadariyah mengatakan, menjadikan cinta dan indah di sini berlaku umum untuk seluruh makhluk. Padahal ayat diatas tadi dengan jelas bahwa hanya menunjukkan kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Allah menyatakan,

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al An’am : 125)

Komparasi Dua Istitha’ah

Para ulama Ahlussunnah menyatakan, baik istitha’ah yang bermakna taufik maupun yang bermakna terpenuhinya berbagai sebab, adanya kekuatan, kemampuan dan potensi, dua-duanya sama-sama ada. Ayat-ayat diatas adalah dasarnya.

Agar lebih jelas perbedaan antara dua istitha’ah ini para ulama Ahlussunnah mengkomparasi antara keduanya. Ada lima perbedaan, yaitu

a. Istitha’ah yang bermakna taufik tidak menjadikan manusia mukallaf, sebab taufik diberikan oleh Allah. Sedangkan istitha’ah yang berupa kekuatan dan potensi bisa menjadikan manusia mukallaf. Karena memiliki kekuatan dan potensi inilah manusia diuji apakah ia mau menggunakan kekuatan dan potensi tersebut untuk taat kepada Allah atau bermaksiat kepada-Nya.

b. Istitha’ah bermakna taufik hadir bersama dengan perbuatan baik. Saat seseorang berbuat baik, saat itulah ia mendapatkan taufik dari Allah dan saat itulah ia dimampukan oleh Allah. Sedangkan istitha’ah yang berupa kekuatan dan potensi, ia sudah ada pada manusia sebelum manusia melakukan suatu perbuatan.

c. Istitha’ah yang berupa taufik hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang beriman saja. Sedangkan istitha’ah berupa kekuatan diberikan kepada semua manusia, kecuali kepada orang-orang yang dibebankan taklif seperti orang idiot/ bisu-tuli.

d. Istitha’ah yang adalah taufik dinisbatkan kepada Allah, sedangkan istitha’ah berupa kekuatan dinisbatkan kepada manusia.

e. Istitha’ah yang berupa taufik selalu disertai dengan perbuatan baik, sedangkan istitha’ah yang berupa potensi atau kemampuan kadang kada disertai perbuatan baik atau perbuatan buruk.

Semoga bermanfaat

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan