Perbedaan Firqah Najiyyah Dengan Thaifah Manshurah?

772

BERANIDAKWAH.COM | PERBEDAAN FIRQAH NAJIYYAH DENGAN THAIFAH MANSHURAH – Semoga ulasan berikut ini dapat membantu Anda dalam memahami persoalan tersebut dengan mengetengahkan argumen-argumen ilmiah yang dikuatkan oleh dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Semoga pendapat yang nantinya kita ikuti benar-benar sudah sesuai dengan jalan mencari kebenaran yang digariskan syariat, yaitu dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai atau mendekati kebenaran dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Syaikh Dr. Salman bin Fahd Al-Audah dalam kitabnya Shifatul Ghuraba’ dan Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam kitabnya Al-‘Umdatu fi I’dadil ‘Uddah membahas persoalan ini dengan cukup ilmiah dan gamblang dengan argumen-argumen yang dilengkapi dari dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, serta mendudukkan perkataan ulama terkait dalam masalah ini. Bagaimana cara memahaminya agar tidak sampai bertentangan dengan dalil-dalil yang ada. Perlu dicatat bahwa perkataan ulama bukanlah dalil syar’i yang bisa kita jadikan landasan dalam menyampaikan hujjah atas suatu pendapat. Pendapat ulama hanya bisa dijadikan keterangan yang menguatkan yang hanya bersifat sebagai pelengkap, bukan dalil syar’i itu sendiri.

Perbedaan Firqah  Najiyyah dan Thaifah Manshurah

Kebanyakan kitab akidah menyebutkan bahwa firqah najiyyah (Ahlussunnah wal Jama’ah) itu adalah thaifah manshurah, sebagai contohnya bisa dilihat dalam kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Ibnu Taimiyyah.

Menurut Syaikh Salman dan Syaikh Abdul Qadir, pendapat yang rajih adalah firqah berbeda dengan thaifah, dan sebenarnya thaifah adalah bagian dari firqah. Jadi, firqah najiyyah lebih luas cakupannya daripada thaifah manshurah. Hal ini ditegaskan dengan bukti dari ayat al-Qur’an. Allah berfirman:

QS. At Taubah Ayat 122

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Ayat ini membedakan antara firqah dan thaifah serta menjelaskan bahwa thaifah adalah bagian dari firqah. Selanjutnya, terkait masalah ini, Syaikh Salman menggambarkan kaum muslimin terbagi menjadi tiga lingkaran.

Lingkaran pertama, yang paling luas adalah lingkaran Islam. Karena jaminan masuk surga adalah Islam. Karena yang bisa masuk surga hanya jiwa yang muslim. Siapa saja yang muslim maka ia calon penghuni surga. Sebaliknya, siapa yang melakukan salah satu pembatalan Islam yang karenanya ia keluar dari Islam maka ia haram masuk surga. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al Ma'idah Ayat 72

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

QS. Ali Imran Ayat 85

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Rasulullah juga bersabda:

Artinya: “Wahai Ibrahim! Sesungguhnya aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir” (HR. Bukhari)

Allah akan menyiksanya di neraka kalau ia melakukan dosa sesuai dengan kadar dosa-dosanya dan tergantung kehendak Allah kemudian baru dimasukkan ke surga, kecuali Allah memaafkan dan mengampuni dosa-dosanya maka ia tidak akan disiksa di neraka.

Lingkaran kedua adalah lingkaran firqah najiyyah. Lingkaran ini lebih sempit daripada lingkaran pertama dan di dalamnya. Firqah Najiyyah ini golongan yang selamat dari berbagai bid’ah dan penyimpangan. Golongan ini memiliki keutamaan dan keistiqamahan serta kemenangan di dunia dan di akhirat yang tidak dimiliki oleh kaum muslimin secara umum, di mana mereka selamat dari bencana syuhbat dan syahwat yang menimpa kaum muslimin secara umum.

Syaikh Salman menyimpulkan, setidaknya ada tiga karakteristik firqah najiyyah berdasarkan hadits-hadits tentang iftiraqul ummah (perpecahan umat). Beliau menyebutkan ada lima belas hadits tentang iftiraqul ummah dalam kitabnya. Tiga karakteristik tersebut adalah:

Pertama: memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, yang terbangun berdasarkan wahyu, baik dalam bidang akidah maupun syariat, yang membuat mereka tunduk kepada nash wahyu dan tidak memilih pendapat lain di hadapannya. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al Ahzab Ayat 36

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Kedua: adapun pengaruh wahyu dan iman yang mendalam terhadap perasaan mereka.

Ketiga: Memformat praktik hidup, baik dalam tatanan jamaah maupun individu yang sesuai dengan tuntunan wahyu.

Ketiga karakteristik tersebut memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Mereka selalu menghindari perbedaan pendapat dan perpecahan, hati mereka lebih menyukai persatuan dan kerukunan. Karena, hidup mereka selalu berlandaskan nash wahyu dan mengembalikan segala persoalan mereka kepadanya.

Berbeda dengan firqah-firqah selain mereka yang dalam hadits iftiraqul ummah mereka tersebut firqah yang binasa karena akan masuk neraka dari kalangan ahli ahwa’ (para pengekor hawa nafsu) dan ahli bid’ah yang mengedapankan akal dan hawa nafsu mereka di atas nash wahyu. Mereka juga suka mengubah makna-makna nash wahyu. Sebab itu, mereka selalu berbeda pendapat karena akal dan hawa nafsu tidak bisa dijadikan landasan yang baku. Di samping itu, akal dan hawa nafsu masing-masing orang berbeda-beda.

Mereka bersikap lemah lembut kepada orang yang menyelisihi mereka, mereka sangat antusias agar orang yang menyelisihi tersebut mendapat petunjuk, sangat menjauhi kata-kata yang mudah memvonis kafir orang-orang yang menyelisihi mereka, selama mereka tidak melihat kufran bawwah (kekafiran nyata) yang memiliki bukti jelas dari Allah pada mereka. Berbeda dengan ahli Bid’ah dan ahli ahwa’ yang mudah mengkafirkan satu dengan yang lain hanya karena sedikit perbedaan pendapat dan terkadang malah sampai mengkafirkan ahlul haq.

Pengaruh-pengaruh tersebut dapat menyatu dengan kehidupan mereka akrena memang karakteristik firqah najiyyah yang sudah benar-benar ada dalam diri mereka.

Untuk memperjelas menyatunya karakter-karakter tersebut dan pengaruhnya dalam kehidupan mereka, berikut ini contohnya dalam suatu kasus. Misalnya, ketika berbeda pendapat dalam suatu masalah, mereka mengambalikan perbedaan pendapat tersebut kepada hal-hal yang sudah muhkan (jelas maknanya), yang hal-hal tersebut dijadikan pegangan untuk memahami hal-hal yang masih mutasyabih. Kalau berkaitan dengan ayat al-Qur’an, mereka mengembalikan kepada ayat-ayat muhkamat untuk memahami ayat-ayat mustasyabihat. Terkait dengan perkataan ulama juga demikian, mereka mengambil perkataannya yang jelas maknanya dengan mengembalikan perkataan-perkatannya yang masih multitafsir kepada perkataan yang muhkam tersebut.

Prinsip di atas mereka pahami karena Allah Ta’ala berfirman:

QS. Ali Imran Ayat 7

Artinya: “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

Ketika Rasulullah membaca ayat ini beliau berkata sebagaimana riwayat Aisyah, “Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat maka merekalah yang Allah sebut sebagai orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan. Waspadalah terhadap mereka.” (HR. Bukhari)

Contoh lain, ketika bergaul dengan orang lain mereka selalu berusaha bergaul dengan akhlak yang mulia. Dalam berbicara dengan orang lain selalu memerhatikan siapa lawan bicaranya dan kondisi saat bicara. Dalam berpenampilan selalu berusaha berpenampilan sopan dan sesuai dengan aturan syariat. Itu semua karena mereka sangat ingin mengikuti Rasulullah dalam segala aspek kehidupan mereka, sekalipun menurut orang yang tidak pahal itu hal yang sepele. Ia berusaha mengikuti Rasulullah tidak hanya dalam aspek-aspek tertentu saja.

Mereka sangat antusias dan bersemangat untuk menjadi orang-orang yang dicintai Allah dan mendapat ampunan-Nya lantaran mengikuti Rasulullah dalam segala aspek kehidupan mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala

QS. Ali Imran Ayat 31

Artinya: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Lingkaran ketiga yang lebih sempit lagi dan terletak di dalam lingkaran kedua adalah lingkaran thaifah manshurah. Ia bagian dari firqah najiyyah, berbeda dengan anggota firqah najiyyah yang lain karena mereka memikul beban dan konsekuensi jihad, tampil amar makruf nahi munkar, membangun kehidupan Islami di bawah cahaya al-Qur’an dan as-Sunnah serta menghadapi orang-orang zalim, fasik, munafik dan kafir.

Berdasarkan hadits-hadits thaifah manshurah yang sampai pada derajat mutawatir, dapat disimpulkan bahwa karakteristik dasar thaifah manshurah ada lima, yaitu:

  1. Komitmen dengan kebenaran, istiqamah di atas agama yang benar, dan berjalan di atas sunnah.
  2. Melaksanakan perintah Allah dengan menyebarkan sunnah, amar makruf nahi munkar serta jihad.
  3. Menjadi pembaru urusan agama yang sudah hilang dari tengah umat
  4. Selalu zhahir (eksis) sampai hari Kiamat, dengan segala makna zhahir yang mencakup arti tampak tidak tersembunyi, teguh di atas agama dan manhajnya, menang dengan hujjah dan burhan (bukti/dalil), dan mendapat pertolongan Allah dalam mengalahkan musuh, sekalipun terkadang juga menerima kekalahan.
  5. Sabar di atas kebenaran yang mereka pegang teguh. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang membuat makar kepadanya, orang-orang yang menyelisihinya, dan orang-orang yang memusihinya sampai datang keputusan Allah mereka tetap sabar di atas kebenaran tersebut.

Pembagian ini sesuai dengan tiga golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

Artinya: “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Fathir: 32-35)

Ibnu Abbas berkata, “Mereka adalah umat Muhammad. Allah mewariskan kepada mereka Al-Kitab yang diturunkan. Orang-orang zalim dari mereka diampuni. Orang-orang pertengahan dari mereka akan dihisab dengan hisab yang mudah. Adapun orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan akan masuk surga tanpa hisab.” (HR. Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hitam dan Al-Baihaqi)

Maksud dari hadits di atas adalah:

  1. Golongan pertama: Orang yang menganiaya diri sendiri, mencakup para pelaku maksiat dan bid’ah, yang kebid’ahannya tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.
  2. Golongan kedua: Orang yang pertengahan (al-muqtashid), yang komitmen dengan jalan lurus dan menjauhi bid’ah serta maksiat, tanpa memiliki tambahan keutamaan jihad, islah, atau menyampaikan kalimat kebenaran di depan penguasa zalim.
  3. Golongan ketiga: Orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (sabiqun bil khairat). Mereka orang-orang yang berlomba-lomba berbuat kebaikan dalam bentuk dakwah, berkorban, mengharap pahala, melipatgandakan kesabaran, tetap bersiap siaga. Itu semua keutamaan yang besar.

Syaikh Abdul Qadir menekankan urgensi karakteristik kedua sebagai ciri khas thaifah manshurah dengan menyebutkan secara spesifik siapa thaifah manshurah untuk masa sekarang ini. Beliau berkata, “Ilmu dan jihad; keduanya adalah sifat thaifah manshurah yang paling penting. Pada asalnya, keduanya disyariatkan sebagai fardhu kifayah, wajib bagi sebagain orang dan bukan kewajiban semua umat Islam untuk melaksanakan keduanya. Kelompok yang berilmu dan berjihad dari umat inilah yang dimaksud thaifah manshurah.

Ketika Imam Al-Bukhari menyusun bab tersendiri dalam kitab Al-I’tisham dalam Shahih-nya, beliau mengisyaratkan adanya perbedaan ini karena tidak setiap Ahlussunnah (firqah najiyyah) itu adalah ahlul hadits.

Adapun apa yang dinukil oleh Imam An-Nawawi tentang thaifah ini: “Imam Ahmad berkata, ‘Kalau bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa lagi mereka,’ maka Al-Qadhi Iyadh berkomentar, ‘Sesungguhnya yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah Ahlussunnah wal Jama’ah dan siapa saja yang menyakini mazhab ahlul hadits.”

Perkataan Al-Qadhi Iyadh, “Sesungguhnya ahlul hadits adalah semua Ahlussunnah,” itu kurang tepat kecuali kalau yang dimaksud adalah pengikut ahlul hadits. Inilah yang tersirat dalam perkataannya (dan siapa saja yang menyakini mazhab ahlul hadits), karena sesungguhnya ulama termasuk ulul amri yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

QS. An Nisa 83

Artinya: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menamakan ulama (orang-orang yang mengambil istinbath) dengan sebutan ulul amri, ini adalah nash yang menunjukkan bahwa ulama adalah ulum amri, dan ayat ini juga mengisyaratkan akan wajibnya menjadikan mereka sebagai pemimpin sebagaimana isyarat tersebut. Allah Ta’ala berfirman

QS. Al Isra Ayat 71

Artinya: “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

Ahlussunnah wal Jama’ah mengikuti ulama mereka, yaitu thaifah manshurah yang melaksanakan peran Rasulullah di tengah-tengah umat ini. Jika dikatakan bahwa Ahlussunnah (firqah najiyyah) adalah thaifah manshurah artinya adalah sebagai pengikutnya, karena thaifah ini lebih khusus dari pada firqah. Wallahu’alam

Tujuan dari pembahasan ini adalah hendaknya setiap muslim berusaha untuk menjadi thaifah manshurah yang melakukan pembelaan terhadap Islam dengan ilmu, dakwah, dan jihad.

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Namun demikian, sesungguhnya bisa jadi thaifah manshurah adalah firqah najiyyah secara keseluruhan, yaitu nanti pada akhir zaman ketika mukminin bergabung ke Syam, lalu di sanalah turun Nabi Isa untuk memerangi Dajjal sebagaiman disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Beginilah cara mendudukan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa thaifah manshurah itu berada di Syam atau Baitul Maqdis (hadits Abu Umamah), yaitu terjadi pada akhir thaifah ini secara mutlak. Adapun pada masa-masa sebelum itu, thaifah ini bisa berada di Syam atau tempat lainnya. Wallah

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan