Pembatal-Pembatal Puasa Wajib dan Sunnah

7,560

BERANIDAKWAH.COM | Pembatal Puasa Wajib Dan Sunnah. Secara umum, puasa batal ketika salah satu dari syarat-syaratnya hilang, atau salah satu rukun-rukunnya cacat. Pokok pembatal-pembatal puasa ada tiga, Allah menyebutkan ketiganya dalam Kitab-Nya:

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah aoa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al Baqarah: 187)

Para ulama sepakat (ijmak) bahwa orang yang puasa wajib menahan diri di waktu puasa dari makanan, minuman dan jimak. Kemudia merekaberbeda pendapat dalam beberapa masalah, di antaranya ada yang didiamkan oleh syariat, ada juga yangg dinyatakan secara terang-terangan.

Pembatal Puasa Ada Dua Macam

1. Pembatal yang wajib qadha’ (mengganti)

a. Makan dan minum dengan sengaja serta ingat bahwa dirinya sedang puasa

Jika dia makan atau minum dalam kondisi lupa, maka dia tetap bisa menyelesaikan puasanya dan tidak perlu mengqadha’. Berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwasannya Nabi bersabda:

“Barangsiapa lupa ketika puasa lalu ia makan atau minum, hendaknya ia sempurnakan puasanya. Karena pada dasarnya Allah telah memberi ia makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sama sajakah apakah dalam puasa wajib ataupun sunnah, karena dalilnya umum, ini menurut jumhur ulama. Berbeda dengan pendapat Malik, di mana ia hanya mengkhususkan hukum ini pada puasa Ramadhan saja, adapun jika seseorang lupa di luar puasa Ramadhan, kemudia ia makan dan minum maka ia harus mengqadha’. Dan yang benar, tidak ada bedanya.

Kasus: Jika seseorang makan, minum dan berjimak karena mengira matahari sudah tenggelam atau fajar belum terbit, kemudia ternyata tidak seperti itu?

Dalam masalah seperti ini, di kalangan ulama ada dua pendapat:

  • Pertama: Ia wajib mengqadha’. Inilah pendapat jumhur ulama di antara Imam yang empat
  • Kedua: Tidak perlu mengaqadha’. Inilah pendapat Ishaq, salah satu dari riwayat Ahmad, Dawud dan Ibnu Hazm yang mana ia menisbatkannya kepada jumhur Salaf – Al Muzanni dari kalangan madzhab Syafi’i dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat inilah yang rajih, karena:

Firman Allah Ta’ala:

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.” (QS. Al Ahzab: 5)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah: 286)

“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…” (QS. Al Baqarah: 286)

Menahan diri (dari makan minum) digantungkan kepada sudah jelasnya fajar, bukan sekedar terbitnya fajar.

Hadits Asma’ binti Abi Bakr, ia berkata, “Kami berbuka pada zaman Nabi di hari mendung, kemudian tiba-tiba saja matahari muncul lagi.” Dikatakan kepada Hisyam, perawi hadits dari ibunya, Fatimah binti Asma: “Lalu apakah mereka diperintahkan mengqadha’?” ia menjawab, “Tidak ada qadha’.”

Ma’mar berkata; Aku mendengar Hisyam berkata, “Aku tidak tahu, mereka mengqadha’ atau tidak.” (HR. Bukhari)

Hadits Asma ini tidak ada yang menunjukkan ada tidaknya keharusan mengqadha’. Adapun ucapan Hisyam itu berangkat dari kesimpulan sendiri, dibuktikan dengan pertanyaan Ma’mar. Dengan demikian, kesimpulannya para sahabat tidak diperintahkan mengqadha’.

b. Muntah dengan sengaja

Jika ia terdesak untuk muntah dan muntahan itu keluar dengan sendirinya, maka dia tidak wajib mengqadha’ maupun kaffarah, tanpa ada perbedaan pendapat. Berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasannya Nabi bersabda,

“Siapa yang terpaksa muntah maka ia tak wajib mengganti, dan siapa yang sengaja muntah maka hendaknya mengganti.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

c. Haid dan Nifas

Maka siapa saja yang haid dan nifas meskipu di ujung siang paling terakhir, puasanya rusak. Ia harus mengganti puasa hari tersebut menurut ijmak kaum Muslimin.

d. Melakukan Istimna’ (Onani/ Masturbasi) sampai mengeluarkan air mani dengan sengaja

Istimna’ atau yang biasa disebut dengan Onani/ Masturbasi merupakan tindakan yang diharamkan. Jika melakukan perbuatan ini di bulan Ramadhan/ pada waktu siang hari saat puasa maka puasanya rusak dan dia harus mengganti puasa tersebut.

Pada dasarnya puasa adalah menahan makan, minum dan syahwat (hawa nafsu), sehingga jika seseorang melakukan perbuatan ini tentu belum bisa menahan syahwatnya. Di antara yang mempertegas bahwa air mani termasuk dalam kategori syahwat adalah sabda Nabi,

“Dan pada persetubuhan kalian ada shadaqah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ketika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya ia mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian kalau dia meletakkan syahwat itu dalam perkara haram?” (HR. Muslim)

Yang dimaksud meletakkan disini adalah air mani, dan beliau menyebutnya dengan syahwat. Adapun seseorang yang membayangkan atau melihat kemudian keluar maninya, padahal ketika ia membayangkan atau melihat istrinya tidak ada maksud untuk mengeluarkan air mani maka puasanya tidak rusak.

e. Berniat membatalkan puasa

Jika seseorang yang sedang puasa berniat membatalkannya dan bertekad kuat untuk berbuka secara sengaja dan ingat kalau dirinya puasa, maka puasanya batal. Meskipun ia belum sempat makan atau minum, sebab, “…setiap orang memperoleh sesuatu sesuai niatnya.” Dan karena ketika seseorang masuk ke dalam puasa, ia sama sekali tidak memerlukan selain niat puasa.

Inilah pendapat Imam Syafi’i, yang kuat dalam pendapat Ahmad, Abu Tsaur, Madzhab Dzahiri, dan Ash-habu ar-Ra’y. Hanya saja Ash-habu ar-Ra’y mengatakan: Jika ia kembali berniat (puasa) sebelum pertengahan siang, puasanya sah. Sebab salah satu prinsip mereka adalah niat di siang hari adalah sah.

f. Murtad dari Islam

Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa orang yang murtad dari Islam di tengah-tengah puasa maka puasanya batal, ia harus menggantinya jika ia masuk Islam lagi, baik masuk Islamnya itu di tengah hari atau setelah hari tersebut berlalu. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Jika kamu berbuat syirik pasti sia-sia lah amal perbuatanmu…” (QS. Az Zumar: 65)

Dan karena puasa adalah ibadah yang di antara syaratnya adalah niat, niat itu terbatalkan dengan kemurtadan.

2. Yang Mewajibkan Qadha’ dan Kaffarah

Dalam hal ini hanya ada satu perbuatan, yaitu jimak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Tatkala kami duduk bersama Nabi, datang seorang lelaki kepada beliau, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, binasa aku!”

“Kenapa kamu?” Tanya Rasulullah

Ia berkata, “Aku menyetubuhi istriku padahal aku puasa.”

Rasulullah pun bersabda, “Apakah kamu punya budak yang bisa kamu merdekakan?”

“Tidak.” Jawab orang itu. “Kalau begitu, bisakah kamu puasa dua bulan berturut-turut?”

“Tidak”

Rasulullah bersabda, “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?”

Orang itu menjawab, “Tidak”

Abu Hurairah berkata: Rasulullah pun terdiam, ketika kami hanyut dalam suasana seperti itu tiba-tiba saja Nabi diberi satu ‘araq kurma (satu ‘araq=satu wadah kurma yang muat 15 sha’ kurma), maka beliau berkata: “Mana orang tadi?”

“Saya!” sahut orang itu. Rasulullah bersabda, “Ambil dan bersedekahlah dengannya.” Orang itu berkata, “Kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah?’ Demi Allah, tidak ada di antara dua sisi ini (dua bukit yang mengapit Madinah) keluarga yang lebih fakir dari keluargaku.” Mendengar itu Rasulullah tertawa sampai terlihat gigi-gigi taringnya, kemudian bersabda, “Berikan sebagai makan kelurgamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jumhur ahli ilmu berpendapat bahwa jimaknya orang yang puasa di siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja dan tanpa paksaan hingga dua kemaluan bertemu dan ujung dzakar tenggelam di salah satu dari dua jalan (kemaluan atau dubur yang diharamkan) adalah pembatal yang mewajibkan qadha’ dan kaffarah, baik keluar air mani atau tidak. Sandaran jumhur dalam mewajibkan qadha’ atas orang yang berjimak di bulan Ramadhan adalah redaksi hadits tambahan yang tercamtum di sebagian jalur hadits, di mana di sana disebutkan bahwa Nabi bersabda di bagian akhirnya, “…puasalah satu hari sebagai gantinya.”

Lafadz tambahan hadits ini adalah dha’if, tidak kuat. Oleh karena itulah Ibnu Hazm berpendapat bahwa ia hanya wajib kaffarah dan tidak perlu mengganti puasanya. Pendapat ini kuat dan cukup beralasan sekaligus sesuai dengan apa yang telah dibahas di atas tadi.

Wallahu’alam bis shawab.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan